Yananto Mihadi

Berilmu Sebelum Berkata dan Berbuat, Upaya Menghilangkan Kebodohan dari Diri Sendiri dan Orang Lain..

Archive for the ‘Korporasi’ Category

DIVESTASI: WHY NOT?

Posted by yananto pada Sabtu, 15 November 2008

Oleh: Bayu Sutikno, Dosen FE UGM di Norway

Bayu_Sutikno menulis: “Rencana pemerintah melakukan serangkaian divestasi terhadap beberapa BUMN dan aset milik BPPN lagi-lagi mengalami batu ganjalan. Belum lagi kesimpang-siuran batas waktu rencana fit and proper test calon bidder BCA, kini karyawan BCA ingin menggagalkan divestasi tersebut dengan ancaman akan melakukan pemogokan masal, yang pada titik akhirnya tiada “menguntungkan” siapapun kecuali temen-temen jurnalis yang mendapatkan berita heboh. Mengepa kebijakan divestasi ini tak semulus yang diharapkan dan selalu menimbuklan polemik ?
Artikel berikut akan mencoba menelaahnya lebih lanjut.

STAKEHOLDERS

Pemerintah melakukan kebijakan divestasi (penjualan saham pemereintah pada perusahaan plat merah) bukannya tanpa alasan. Ada beberapa tujuan yang dicita-citakan pemerintah. Pertama pada tataran praktis diakui bahwa pemerintah lagi “bokek berat”, dibutuhkan tidak kurang dari Rp 42,5 trilyun untyuk menambal defisit APBN tahun anggaran yang berjalan. Kedua pada tataran idealis pemerintah ingin makin mengurangi perannya di sektor riil/bisnis dan menyerahkannya pada mekanisme pasar yang berlaku di mana peran sektor privat/swasta menjadi soko guru utamanya bersama koperasi (yang diharapkan). Ketiga, pada tataran manajerial maka pemerintah ingin dengan melakukan privatisasi ini maka beberapa penyakit lama perusahaan “plat merah” seperti inefiensi, cashcow pemerintah maupun partai politik ataupun mismanagement dapat dibenahi karena institusi tersebut menjadi milik publik (investor) dan mekanisme pengawasannya lebih accountable.

Namun semua harapan tersebut bukanlah pekerjaan semudah membalik telapak tangan. Mari kita tengok beberapa kasus terakhir dimana terjadi kecenderungan penguatan serikat-serikat pekerja di berbagai BUMN yang akan didivestasi oleh pemerintah. Pertama, PT Semen Gresik Group yang menjadi holding PT Semen Padang maupun PT Semen Tonasa menolak divestasi 51% saham pemerintah kepada PT Cemex (Cement of Mexico). Kedua, keputusan pemrintah melakukan “tukar guling” antara PT Telkom dengan PT Indosat yang sama-sama BUMN ditolak oleh Sekar (Serikat Karyawan) PT Telkom Divre IV yang asetnya akan diberikan kepada PT Indosat sedangkan PT Telkom mendapatkan saham mayoritas PT Indosat di PT Telkomsel. Ketiga, rencana pemerintah yang sambil “pontang-panting” melakukan divestasi kepada “sang primadona” BCA dengan menjual 51% sahamnya dalam perkembangan terakhir menerima tentangan yang kuat dari serikat pekerja BCA.

Pemerintah mestinya sudah belajar banyak dari berbagai kasus yang menimpa BUMN ini ataupun aset-aset yang dikuasai oleh BPPN dalam melakukan divestasi, yang lagi-lagi tidak “direstui” karyawannya. Sayangnya mungkin kita termasuk bangsa “iterative” yang ironisnya selalu mengulang bukannya kebenaran namun kesalahan yang itu-itu saja. Apa sih penyebab kekurang-setujuan pekerja terhadap kebijakan divestasi tersebut.

Pertama adalah faktor uncertainty of work, rencana divestasi tentunya berimplikasi pada perubahan kepemilikan saham mayoritas, yang biasanya berdampak pada perubahan manajemen terutama aspek sumber daya manusia, hal inilah yang merisaukan pekerja baik pada level pelaksana apalagi manajer, sehingga kebijakan divestasi dirasakan merisaukan bahkan kemungkinan mengganggu posisi saat ini, adapun alasan nasionalisme dan lain sebagainya masih bisa diperdebatkan.

Kedua, faktor yang tidak kalah pentingnya adalah karena pekerja tidak merasa “diuwongke” oleh pemerintah. Selama ini seakan-akan berbagai kebijakan pemerintah yang pasti berimplikasi langsung pada pekerja tidak melibatkan partisipasi mereka secara aktif, padahal kita tahu pekerja adalah stakeholder yang penting. Pemerintah cq. Kantor Meneg BUMN dan Departemen Teknis sebagai pemegang saham/shareholder terlalu sering melakukan keputusan sepihak tanpa mendengarkan aspirasi pekerja. Kalaupun alasan profesionalitas tentunya pemegang sahampun wajib mendengarkan suara dari seluruh stakeholder baik internal maupun eksternal yaitu pekerja, supplier, distributor, customer, competitor, publik baik financial maupun non financial. Ada nasihat sederhana yang dikemukakan mantan wapres USA dan mantan rival George W. Bush Jr yang dikenal sebagai aktivis lingkungan yaitu Al Gore bahwa tugas perusahan bagi karyawannya adalah sharing ide dan tujuan organisasi yang akan dicapai, memberikan kepercayaan dan kesempatan untuk maju, memberi atensi dan penghargaan akan prestasinya dan menentukan serta mengimplementasikan rencana bersama.

CATATAN AKHIR

Pola yang dipakai oleh perusahaan taksi kenamaan di Jakarta yang bernama Blue Bird dapat dijadikan solusi yang menarik. Pada perusahaan tersebut pekerja sekaligus sebagai pemilik, setiap bulan pekerja mencicil harga taksinya sehingga jika kinerjanya bagus dalam jangka waktu tertentu taksi tersebut 100% menjadi pemiliknya, semakin berprestasi semakin cepat. Meng-komparasikan perusahaan taksi dengan BUMN yang lebih complicated mungkin tidak tepat, namun prinsipnya satu yaitu menciptakan fasilitas yang memungkinkan pekerja di berbagai BUMN sekaligus sebagai pemiliknya, dan dilibatkan dalam decision making. Dalam berbagai kasus negara maju, program Employee Stock Option Planning (ESOP) dimana memberikan kesempatan pekerja untuk memiliki saham perusahaannya (sehingga dia sebagai pemilik) menjadi senjata yang ampuh untuk mendongkrak kinerja perusahaan dan prestasi karyawan karena ESOP berkorelasi dengan kinerja. Semakin berprestasi si karyawan maka dia mendapatkan option memiliki saham dalam jumlah yang lebih banyak ataupun option dengan harga yang lebih murah, hal ini akan merangsang pekerja untuk giat bekerja dan meningkatkan rasa “handarbeni”.

Jadi kalau mereka mogok yang rugi mereka sendiri. Tentunya hal ini menjadi solusi jangka menengah dan jangka panjang, dalam jangka pendek tiada bosan-bosannya kepada semua pihak untuk cooling down, mengedepankan kepentingan nasional dan bermusyawarah mufakat. Yang jelas tujuan divestasi ataupun privatisasi adalah profitisasi baik financial maupun non financial dan bukannya politisasi !

Iklan

Posted in Ekonomi Nasional, Keuangan dan Perbankan, Korporasi, Pasar Modal | Leave a Comment »

Bursa Regional Ditutup Beragam

Posted by yananto pada Kamis, 9 Oktober 2008

JAKARTA, KAMIS – Pasar saham regional, Kamis (9/10), ditutup beragam. Investor menyikapi secara beragam kebijakan pemangkasan suku bunga acuan oleh sejumlah bank sentral negara-negara maju yang dipimpin oleh Federal Reserve AS. Selain itu, menurut analis, tekanan jual juga masih menghantui pasar. “Tekanan short selling masih kuat. Saya kira pemangkasan suku bunga saja tidak akan menolong banyak untuk meningkatkan kepercayaan lebih besar,” kata Lorraine Tan, Director Standard & Poor’s Equity Research di Singapura.

Di Hongkong, indeks Hang Seng ditutup naik 511,51 poin (3,31 persen) menjadi 15.943,24. Sementara itu, di Korea Selatan indeks Kospi naik tipis 0,6 persen pada 1.294,89 dan indeks Strait Times Singapura melejit 4,30 persen ke posisi 2.120,97.

Sementara itu, beberapa indeks regional lainnya masih berkutat di zona merah, seperti indeks Nikkei225 Jepang ditutup turun 0,50 persen ke 9.157,49 dan indeks Tertimbang Taiwan melemah 1,45 persen pada 5.130,71.

Kemudian saham-saham di Australia juga melemah, dengan indeks S&P/ASX200 turun 67,2 poin (1,5 persen) menjadi 4.320,9 dan indeks All Ordinaries berkurang 78,5 poin (1,80 persen) pada 4.291,3.

Sumber: http://www.kompas.com/

Posted in Ekonomi Nasional, Korporasi, Pasar Modal | Leave a Comment »

Kepanikan di pasar modal…

Posted by yananto pada Kamis, 9 Oktober 2008

Walaupun tanggung jawab perusahaan kami tidak terlampau besar, masih dalam hitungan beberapa Triliun Rupiah (ratusan juta US Dollar) dan jumlah karyawanpun hanya sekitar 1000 orang, namun kondisi memburuknya pasar modal dunia tetap membuat saya terus berfikir serta melakukan analisa sejernih-jernihnya. Tujuan utama saya tentunya untuk mengantisipasi perkembangan dan mengambil langkah-langkah preventif agar tidak berdampak buruk pada kondisi perusahaan kami. Berikut ini analisa awam saya :

Bagaimana awalnya krisis ini ?
Pada awalnya memang terjadi krisis pinjaman rumah di Amerika Serikat (yang lebih terkenal dengan nama “subprime loan crisis”). Intinya, bank-bank di Amerika memberikan pinjaman pembelian rumah, kepada mereka yang sebenarnya tidak mampu untuk membeli rumah. Tetapi tawarannya sangat menggiurkan sehingga sulit bagi penduduk di Amerika Serikat untuk menolak. Sewaktu harga minyak bumi mulai naik dan ekonomi Amerika mengalami resesi, maka para peminjam uang mulai alami ”default” (tidak mampu bayar). Untuk menyelamatkan para bank penjamin, Federal reserve Amerika menurunkan suku bunga secara bertahap dari sekitar 5.26 % di Bulan Juli 2007 menjadi 2.2 % di bulan Maret 2008. Harapannya adalah suku bunga mengecil, maka pembeli rumah mampu kembali mencicil pinjamannya.

Rasanya jika sampai disini saja, mungkin masalahnya selesai. Karena perusahaan penjamin perumahan di Amerika yaitu Freddie Mac dan Fannie Mae, mampu menggaransi pinjaman sebesar US $ 5,4 Trilliun. Jika dihitung secara sederhana, nilai ini cukup untuk menjamin 180 juta rumah baru, senilai US $ 30.000 per rumah (rumah kualitas lumayan di USA). Artinya uang jaminan kedua perusahaan tersebut, cukup untuk menggaransi seluruh penduduk dewasa Amerika dengan masing-masing sebuah rumah baru. Namun rupanya paket pinjaman ini diperdagangkan ke bank-bank lain diluar Freddie Mac dan Fannie Mae, menjadi bentuk-bentuk paket investasi baru. Rasanya jika hanya terbatas pada ”penjualan” paket investasi perumahan saja, mungkin masalahnya bisa selesai dan terisolasi. Karena Pemerintah Amerika serikat sebenarnya mampu dan telah mengambil alih seluruh hutang-hutang Freddie Mac dan Fannie Mae.

Tetapi kenapa masalahnya ”meledak” ke perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan lainnya ?
Ini analisa pribadi saya……..Dengan penurunan suku bunga oleh Federal reserve, untuk selamatkan krisis ”subprime loan”, mengakibatkan lahirnya ”uang murah” dan US Dollar yang lemah. Kondisi uang murah ini digunakan oleh para spekulan (sebagian besar di perusahaan sekuritas) untuk meminjam uang ke bank dan melakukan transaksi (”trading”) komoditi, termasuk minyak bumi. Baca tulisan saya sebelumnya. Sehingga harga komoditi termasuk minyak bumi ”membumbung” diluar kelayakan teori pasar ”supply and demand”.

Komoditi yang diperdagangkan oleh para spekulan tidak hanya terbatas pada minyak bumi tetapi juga berbagai jenis produk pertanian dan produk logam seperti Nickel dan Tembaga. Dampaknya adalah harga makanan juga membumbung. Fenomena ini mengakibatkan inflasi meroket di beberapa negara industri di dunia. Untuk mencegah inflasi meningkat, maka Federal reserve Amerika mulai ”ancang-ancang” untuk menaikan suku bunga. Selain itu, karena harga minyak bumi terus membumbung, Pemerintah Amerika serikat menginisiasi untuk ”ancang-ancang” melakukan pengeboran minyak di lepas laut. Dampak dari langkah ”ancang-ancang” peningkatan suku bunga dan ”ancang-ancang” pengeboran minyak di lepas laut, mengakibatkan US Dollar menguat dan harga minyak bumi jatuh.

Akibat dari jatuhnya harga minyak bumi, maka para spekulan yang tadinya memprediksi bahwa harga minyak bumi akan terus membumbung ke US $ 200 ……salah total prediksinya dan rugi besar. Karena uang-uang tersebut dipinjam dari bank dan menggunakan dana dari perusahaan-perusahaan sekuritas, maka merekapun ikut hancur. Terjadilah kerugian yang luar biasa pada perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan, selain pada perusahaan-perusahaan penjamin perumahan.

Posted in Ekonomi Nasional, Korporasi, Pasar Modal | Leave a Comment »

KRISIS AMERIKA SERIKAT : HUTANG BERTAMBAH USD 2,6 MILIAR PER HARI !!!

Posted by yananto pada Kamis, 9 Oktober 2008

Krisis keuangan di Amerika semakin meluas beberapa bulan terakhir ini. Kebangkrutan bank investasi raksasa Lehman Brothers, peng-akuisisian Bear Sterns dan Merril Lynch serta perubahan status Goldman Sach dan Morgan Stanley. Tak ketinggalan usaha penyelamatan beberapa perusahaan keuangan lain yaitu American International Group (AIG), Fanni Mae dan Freddie Mac. Krisis juga merembet ke sejumlah bank komersial yang terjadi krisis kepercayaan yang berdampak rush yang terjadi pada Bank Indy Mac di California dan Washington Mutual di Washington. Padahal Washington Mutual adalah bank yang sangat besar. Kalau dibandingkan dengan bank terbesar di Indonesia, yaitu Bank Mandiri, total asetnya 10 kali lebih besar.
Krisis di Amerika berawal dari masalah kredit perumahan. Kredit kepemilikan Rumah (KPR) dinegara itu awalnya berjalan baik karena ditujukan kepada nasabah-nasabah prima. Namun dalam perkembangannya, pemberian kredit meluas kepada nasabah- nasabah yang kurang layak. Nasabah yang sebelumnya pernah mengalami kredit macet kembali memperoleh KPR baru. KPR banyak diberikan dengan persyaratan uang muka sangat rendah, yaitu 5% atau bahkan tanpa uang muka sama sekali.
Dalam keadaan harga properti yang terus naik, hal tersebut tidaklah memunculkan masalah. Namun dalam keadaan pasar properti yg mengalami stagnasi atau bahkan terdapat kecendrungan harga melemah, hal itu akan memicu masalah. Masalah ini kemudian menjalar ke banyak bank Investasi. Di AS , industri keuangan sudah sangat maju. Kredit-kredit KPR yang diberikan oleh perbankan, oleh bank bersangkutan dikumpulkan kemudian dalam jumlah yang cukup banyak disekuritisasi. Ini merupakan proses mentransformasi KPR menjadi surat berharga (sekuritas). Istilah yang sering digunakan untuk surat berharga yang dijamin oleh KPR tersebut adalah Mortgage Backed Securities (MBS) dengan varian yang bernama Collateralized Debt Obligation (CDO) . Proses sekuritisasi ini dibantu oleh perusahaan pembiayaan perumahan AS. MBS dan CDO tersebut kemudian dijual ke bank-bank Investasi.
Dalam perjalanan waktu, kualitas surat berharga tersebut sgt dipengaruhi perkembangan harga rumah . Jika harga rumah terus meningkat, pembayaran cicilan umumnya lancar. Kalaupun terjadi masalah , bank dengan mudah akan menjual kembali rumah yang dibiayai KPR tsb. Sejak pertengahan 2007 pembayaran dari sebagian nasabah KPR mulai tersendat-sendat. Macetnya kredit tsb akhirnya menyebabkan kualitas MBS dan CDO juga turun, sehingga harganya mulai berjatuhan.
Para investor, bank komersial, bank investasi maupun perusahaan asuransi akhirnya harus melakukan penyisihan atau menghapus nilai surat berharga yang terimbas kredit macet dlm jumlah besar.
Keadaan ini menyebabkan pemerintah AS harus melakukan pertolongan. Setelah awalnya dilakukan pertolongan kasus per kasus yang hasilnya tdk bagus. Akhirnya pemerintah mengusulkan program bail out senilai USD 700 Miliar.
Upaya penyelematan sebesar USD 700 Miliar yang semestinya menenangkan pasar ternyata justru menimbulkan permasalahan baru. Yaitu dari sisi kesehatan keuangan pemerintah AS.
Jumlah hutang pemerintah AS ternyata telah melampaui USD 10 triliun dan setiap harinya bertambah USD 2,6 Miliar. Ini berarti bahwa rasio hutang pemerintah AS terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mereka yang mencapai USD 14 Triliun adalah diatas 70%-nya.
Dengan upaya penyelamatan tsb batas atas hutang pemerintah akan ditetapkan sebesar USD 11,3 Triliun . Jika batas itu tercapai, maka rasio hutang pemerintah terhadap PDB akan mencapai sekitar 80% dan akan terus meningkat !

Posted in Ekonomi Nasional, Korporasi | Leave a Comment »

Lho kok Korea dan India, di tahun 2009 justru meningkat pertumbuhannya – gimana caranya ?

Posted by yananto pada Kamis, 9 Oktober 2008

Karena krisis moneter biasanya beruntun dari negara ke negara, misalnya di tahun 1997-1998 dari Korea dan Thailand lalu ke Indonesia, maka saya saat ini sedang tertarik memonitor berbagai prediksi pertumbuhan ekonomi pada berbagai negara di Asia tenggara dan Asia timur. Berikut ini prediksi terakhir (data-data paling ”gres”) yang memprediksi pertumbuhan ekonomi pada masing-masing negara untuk tahun 2008 dan 2009 :

Namun ada 2(dua) negara yang terlihat optimis dalam meramal pertumbuhan ekonomi di 2009, walaupun ada dampak krisis di USA, yaitu :

Setelah saya pelajari, ternyata kedua negara tersebut sangat mengandalkan pada pertumbuhan di bidang industri manufaktur :


Korea adalah sebuah contoh yang menarik dari sebuah negara yang tidak punya natural resources, dan di tahun 1961 income per kapita-nya masih dibawah sebagian besar negara-negara Afrika. Namun saat ini, ia menjadi negara ekonomi no:4 terbesar di Asia dan mampu mengatasi berbagai krisis ekonomi. Baca sejarah perkembangan industri Korea disini dan juga apa upaya-upaya negara Korea di masa mendatang untuk memenangkan persaingan melalui Research and Development (R&D). Keseriusan Korea di bidang R&D dapat dilihat pada anggaran investasi R&D, yang akan terus dinaikan dari 3% GDP di tahun 2009 ke 5 % GDP di tahun 2012. Tapi juga harap perhatikan bahwa Korea menganggarkan di tahun 2009, sebagian besar anggaran belanjanya untuk pembangunan Infrastruktur.

Jadi bagaimana caranya Indonesia menghadapi krisis kali ini ?. Jika kita menengok ke Korea, maka Indonesia perlu terus menerus melakukan peningkatan daya saing (competitiveness) melalui pembangunan industri manufaktur yang berbasis R & D dan juga pembangunan infrastruktur.

Sumber: http://www.triharyo.com

Posted in Ekonomi Nasional, Korporasi | Leave a Comment »

Pabrik Dell di Seluruh Dunia akan Dijual?

Posted by yananto pada Minggu, 7 September 2008

Raksasa komputer Dell dilaporkan berencana menjual sebagian atau seluruh pabriknya di berbagai negara. Hal ini dilakukan karena strategi manufaktur Dell dinilai tidak efektif.

Sebagai gantinya, Dell mungkin akan menyewa pabrik dari pihak ketiga. Energi dan perhatian mereka pun akan lebih terfokus pada urusan penjualan dan marketing produk.

Seperti dikutip detikINET dari Vnunet, Sabtu (6/9/2008), bisnis Dell belakangan ini memang agak menyurut dengan harga sahamnya yang menurun. Seorang sumber menyatakan bahwa penjualan pabrik Dell itu mungkin akan berlangsung dalam jangka waktu 18 bulan.

Dell yang saat ini adalah produsen komputer nomor dua dunia di bawah HP, dilaporkan memiliki sekitar 60 fasilitas pabrik dan teknologi. Fasilitas itu tersebar di 20 negara di seluruh dunia.

Dell sendiri belum berkomentar mengenai laporan penjualan pabriknya di seluruh dunia ini. Yang pasti, tahun ini Dell sudah mengurangi jumlah pekerjanya di berbagai belahan bumi.

Sumber: http://www.detikinet.com/

Posted in Korporasi | Leave a Comment »

Penjualan Nokia Turun di Kuartal Ketiga

Posted by yananto pada Minggu, 7 September 2008

Perusahaan selular terbesar di dunia, Nokia, memastikan terjadi penurunan penjualan pada kuartal ketiga. Persaingan di pasar ponsel yang semakin ketat membuat posisi perusahaan asal Finlandia ini di pasaran ponsel cukup terganggu.

Saingan utama Nokia seperti Sony Ericsson, Motorola, atau Samsung, mulai berani� meluncurkan berbagai produk dengan harga bersaing.

Nokia akan mengumumkan hasil penjualan kuartal ketiga pada 16 Oktober mendatang, seperti dikutip dari Associated Press, Sabtu (5/9/2008).

Pada kuartal kedua Nokia menguasai 40 persen pasar dunia. Diperkirakan pada kuartal ketiga nanti, hasil yang diperoleh tidak akan jauh berbeda dari kisaran tersebut. Harga rata-rata produk Nokia pada kuartal kedua merosot lima euro, dari 79 euro di kuartal pertama menjadi 74 euro.

“Bagaimanapun juga, Nokia terus berharap volume industri ponsel tahun 2008 meningkat sepuluh persen atau lebih dari tahun 2007 yang mencapai 1,14 miliar unit,” tulis Nokia dalam keterangan resminya.

Nokia juga akan segera meluncurkan produk terbarunya pada kuartal ketiga, untuk meningkatkan pendapatan pada kuartal keempat.

Sumber: Stefanus Yugo Hindarto – Okezone

Posted in Korporasi | Leave a Comment »

Total Bangun Incar Proyek Baru Senilai Rp2 Triliun

Posted by yananto pada Minggu, 7 September 2008

PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) incar proyek baru berupa pembangunan gedung perkantoran dan apartemen senilai Rp2 triliun.

“Kami sedang mengikuti tender 10 proyek pembangunan gedung. Pemenangnya akan diumumkan Oktober nanti,” kata Direktur Keuangan TOTL Arif Suhartojo saat dihubungi okezone, di Jakarta, Rabu (20/8/2008).

Dia mengungkapkan, nilai tender setiap proyek bervariasi. Berkisar Rp100-200 miliar. Dengan demikian, jika memenangi seluruh proyek, perseroan akan mendapatkan tambahan pendapatan Rp1-2 triliun.

Meski demikian, menurutnya, pihaknya hanya menargetkan mampu memenangi sebagian tender. Tender akan mulai dikerjakan akhir tahun ini, dan sisanya dilanjutkan tahun depan.

“Beberapa proyek sudah mengontribusikan pendapatan tahun ini, sehingga setelah Oktober rencananya baru dapat terealisasi,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, perseroan akan terus mengejar tender proyek baru untuk mengejar target pendapatan Rp2,3 triliun tahun ini. Sebanyak Rp1,7 triliun akan diperoleh dari proyek peluncuran yang sudah dikembangkan tahun lalu (carry over). Sedangkan sisanya Rp600 miliar dari proyek baru.

Perseroan, kata Arif, masih menunggu pengumuman tender penyelesaian proyek central park milik grup Agung Podomoro senilai Rp700 miliar. Perseroan berharap memenangi tender proyek tersebut.

Sumber: Candra Setya Santoso – Okezone

Posted in Korporasi | Leave a Comment »

Vista & Halo 3 Mendongkrak Pendapatan Microsoft

Posted by yananto pada Minggu, 7 September 2008

Microsoft melaporkan lonjakan kenaikkan keuntungan perusahaan di kwartal pertama untuk penjualan Windows Vista dan peluncuran Halo 3. Perusahaan pembuat software ini merinci telah meraup keuntungan 4,29 milyar dollar Amerika, atau 45 sen per lembar saham, dalam total pendapatan 13,76 milyar dollar Amerika untuk tiga bulan terakhir hingga akhir September kemarin. Angka ini merupakan angka pertumbuhan pendapatan tercepat  dari semua kwartal sejak tahun 1999.
Kepada News.com CFO Microsoft, Chris Lindell mengatakan, angka perkembangan pendapatan yang telah bergerak melebihi angka 30 persen merefleksikan kemampuan untuk mengubah pendapatan menjadi keuntungan, yang dapat dijadikan acuan pembuatan strategi investasi di masa yang akan datang. Microsoft juga melihat peningkatan hasil dari Windows client business, dimana pendapatannya juga meningkat 25 persen pada kwartal ini.
Di lain pihak, hal ini juga mencerminkan kesuksesan dalam mengurangi angka pembajakan aplikasi yang selama ini telah banyak merugikan pihak developer seperti Microsoft. Angka pembajakan sendiri telah berkurang sekitar 5 persen dalam perkembangannya. Tentu saja hal ini merupakan kabar yang menggembirakan bagi semua pihak, terutama developer yang telah banyak dirugikan oleh ulah para pembajak selama ini.
Untuk peluncuran Halo 3, Microsoft melihat peningkatan pendapatan sekitar 90 persen di bidang ‘Entertainment and Devices’. Hingga saat ini menurut General Manager Investor Relations dari Microsoft, Colleen Healy pada News.com, hingga saat ini Microsoft telah menjual lebih dari 1,8 juta unit Xbox 360 pada kwartal ini, itu belum termasuk ramalan penjualan yang mungkin masih akan meningkat lagi pada liburan musim dingin nanti.

Posted in Korporasi | Leave a Comment »