Yananto Mihadi

Berilmu Sebelum Berkata dan Berbuat, Upaya Menghilangkan Kebodohan dari Diri Sendiri dan Orang Lain..

Archive for the ‘Ekonomi Nasional’ Category

10 KESALAHAN YG DILAKUKAN PENGUSAHA SAAT MEMULAI USAHA

Posted by yananto pada Rabu, 28 Oktober 2009

Anda memutuskan untuk memulai usaha. Anda memiliki ide. Misalnya, Anda menjadi tukang kayu. Anda mencetak brosur, kartu nama bisnis, dan memasang iklan di Yellow Pages. Anda mengeluarkan $600 untuk membuat website dan nama domain yang menceritakan pada semua orang kredibilitas dan pengalaman Anda yang luar biasa. Anda menyebarkan brosur di toko-toko sekitar Anda. Kemudian Anda menunggu, menunggu, dan menunggu.

Tidak terjadi apapun. Tapi, bukankah setiap orang melakukan hal yang sama saat memulai usaha? Mencetak brosur, menceritakan pada setiap orang betapa bagusnya Anda, dan menunggu uang menghampiri Anda.

Berhenti disini. Anda baru saja melakukan beberapa kesalahan dari 10 kesalahan teratas yang dilakukan pengusaha ketika memulai usaha.

Kesalahan # 1: Pertama, menjadi seorang “tukang kayu” itu terlalu umum. Ada jutaan tukang kayu di dunia, tapi yang berhasil adalah mereka yang memiliki keahlian khusus, seperti mengukir kayu, renovasi rumah, dan ketrampilan khusus lainnya.

Kesalahan # 2: Jika Anda gagal merencanakan, Anda berencana untuk gagal. Ide bukanlah bukanlah business plan, atau marketing plan, atau bahkan sebuah tujuan. Ini hanya sekedar ide. Meskipun proses perencanaan membutuhkan waktu yang lama dan membosankan, tapi ini akan memberikan Anda keuntungan lebih dari yang Anda bayangkan. Misalnya, saat mencari dana, bergabung dalam kelompok profesional, merubah tujuan, bisnis yang berubah, atau jika Anda mencari rekanan atau investor. Rencana Anda seharusnya memandu Anda, bukan memaksa Anda. Jika ada hal dalam rencana yang tidak sesuai, segera ubah. Business plan Anda tidak akan pernah menjadi sebuah final draft.

Kesalahan # 3: Brosur dan kartu bisnis adalah sampah saat memulai usaha! Anda akan mengeluarkan lebih banyak daripada yang mereka hasilkan untuk Anda. Abaikan biaya cetak yang tinggi beserta biaya desainnya jika Anda tidak cukup cakap. Kebanyakan awal usaha berubah terlalu cepat, dan materi ini hanya efektif dalam jangka waktu yang singkat, terkadang hanya beberapa hari.

Jangan membuang waktu, atau uang Anda untuk brosur atau kartu nama bisnis sampai Anda bisa mengejar sales setidaknya selama enam bulan. Jika tidak, hal-hal ini akan menyulitkan Anda.

Kesalahan # 4: Lihat Yellow Page dan lihat berapa banyak tukang kayu yang tercantum disana. Manakah yang paling menonjol? Tentu saja bukan iklan kecil yang ada di sudut halaman. Mungkin saja bukan yang iklan sebaris. Dan diawal usaha, inilah yang mampu Anda lakukan. Untuk satu atau dua klien dalam setahun, mungkin bisa, tapi lebih baik menunggu sampai anggaran marketing Anda mampu membeli iklan yang besar, mewah, dan menarik perhatian.

Kesalahan # 5: Enam ratus dollar untuk website dan nama domain? Website dan nama domain sebelum membuat marketing plan? Skenario ini sudah cukup memusingkan bagi Anda yang ‘dalam proses’. Ide terbaik untuk memulai usaha, mendesain web sendiri secara gratis jika Anda bisa. Ide kedua adalah meminta bantuan teman atau saudara untuk mendesainnya. Cara ketiga adalah dengan membayar biaya minimum untuk bagian yang sudah terselesaikan dan sisanya Anda kerjakan sendiri atau dengan bantuan teman atau saudara.

Hanya jika tidak ada yang bisa membantu Anda, maka Anda bisa menyewa profesional untuk mengerjakan segala sesuatunya untuk Anda. Dan jika Anda melakukannya, cobalah untuk memperkerjakanya selama 30 atau 60 hari. Dengan demikian website baru akan menghasilkan pemasukan untuk Anda sebelum Anda membayar. Jika Anda tidak membayar di depan, tanyakan jika mereka menyediakan update gratis. Anda diperbolehkan mengganti satu atau dua hal, setidaknya sekali dalam seminggu saat Anda mencoba website baru Anda. Jika Anda membayar $600, maka sebaiknya website yang baik – karena Anda menggunakan seluruh anggaran marketing untuk itu.

Kesalahan # 6: Wow! Seorang tukang kayu yang Sekolah di John B. Doe Carpentry Academy! Inikah yang dikatakan konsumen Anda? Kebanyakan, mereka tidak memikirkan hal tersebut. Kebanyakan konsumen berpikir, “Wow! Lihat hasil kerjanya. Inilah yang saya inginkan.” Dan ini yang Anda inginkan dipikirkan oleh konsumen. Jangan mempromosikan diri Anda, promosikan solusi Anda. Setiap orang yang mengunjungi website Anda memiliki masalah yang ingin mereka selesaikan. Jika Anda bisa mendapatkan gambaran masalah tersebut, dan bisa memberikan solusi melalui website Anda, Anda sudah melakukan kegiatan marketing yang baik.

Kesalahan # 7: Apa yang dilakukan tukang kayu di toko kelontong? Dan mengapa dia masih membagikan selebaran? Jika Anda memang ingin membagikan selebaran, lakukan ditempat yang tepat. Seorang tukang kayu seharusnya membagikan selebaran di tempat penebangan kayu atau toko furnitur. Bahkan toko yang menjual paku menjadi tempat yang strategis bagi tukang kayu untuk menyebarkan selebaran.

Kesalahan # 8: Anda berhenti memasarkan. Mungkin ini adalah kesalahan terbesar saat memulai usaha. Meskipun Anda melakukan kebalikan dari apa yang sudah Anda baca dan jika Anda terus melakukannya, maka hasil minimumlah yang Anda dapatkan. Jika Anda berhenti saat kehabisan ide-ide baru, maka tidak banyak yang Anda dapatkan.

Kunci pemasaran adalah pengulangan. Pastikan orang ingat nama Anda saat menghadapi masalah . Jika mereka hanya melihat nama Anda sekali, sementara kompetitor sudah mengirimkan selebaran yang ketiga, maka kompetitor yang akan mendapatkannya. Sering kita dengar diperlukan lebih dari satu kali agar konsumen membeli, dan ini memang benar adanya. Dengan tersedianya informasi bagi konsumen saat ini, Anda ingin nama Anda diingat dengan baik.

Kesalahan # 9: Saat tidak ada hasil, Anda tidak melakukan apapun. Kegagalan menghampiri orang-orang yang menyerah. Motivasi diri Anda! Bangun dipagi hari dan katakan “Saya akan mendapatkan !” Jika Anda membangunnya, tapi tidak seorangpun yang tahu, maka tidak seorangpun yang datang. Saat memulai usaha, Anda harus terus mencoba, membuat kesalahan, belajar, dan mencoba lagi. Jika Anda mencoba, melakukan kesalahan, dan menyerah, Anda tidak akan pernah sukses.

Kesalahan # 10: Anda menganggap apa yang dilakukan orang lain akan sesuai untuk Anda. Salah! Apa yang dilakukan orang lain adalah membutuhkan waktu yang lama untuk memahaminya, dan mereka telah berupaya keras sepanjang waktu agar sesuai dengan kebutuhan mereka. Jika Anda meniru sebagian, tidak semuanya, atas apa yang telah mereka lakukan, hasil yang Anda dapatkan tidak pernah sama. Orang berupaya keras untuk individualistis, dan begitu juga seharusnya sebuah bisnis. Jika Anda meniru kompetitor disetiap aspek, prospek hanya akan melempar koin untuk memilih. Apakah Anda hanya ingin mendapatkan 50% saja? Tidak, Anda menginginkan semuanya!

Garis bawah dalam memulai bisnis adalah tetap termotivasi. Memulai usaha adalah hal terberat yang pernah dilakukan seseorang karena unsur ketidakpastian, kurangnya struktur dukungan, pemenuhan dan tidak mengindahkan tipikal zona aman Anda. Tapi hasil yang didapatkan jauh lebih besar daripada pengorbanannya. Dan pada akhirnya, jika secara finansial aman dan mandiri, maka Anda merasa lebih puas daripada yang pernah Anda bayangkan.

 

Oleh Cherilyn R. Lester

Sumber: http://www.novuslife.com

Iklan

Posted in Bisnis dan Ekonomi, Ekonomi Nasional, KUKM | Leave a Comment »

DIVESTASI: WHY NOT?

Posted by yananto pada Sabtu, 15 November 2008

Oleh: Bayu Sutikno, Dosen FE UGM di Norway

Bayu_Sutikno menulis: “Rencana pemerintah melakukan serangkaian divestasi terhadap beberapa BUMN dan aset milik BPPN lagi-lagi mengalami batu ganjalan. Belum lagi kesimpang-siuran batas waktu rencana fit and proper test calon bidder BCA, kini karyawan BCA ingin menggagalkan divestasi tersebut dengan ancaman akan melakukan pemogokan masal, yang pada titik akhirnya tiada “menguntungkan” siapapun kecuali temen-temen jurnalis yang mendapatkan berita heboh. Mengepa kebijakan divestasi ini tak semulus yang diharapkan dan selalu menimbuklan polemik ?
Artikel berikut akan mencoba menelaahnya lebih lanjut.

STAKEHOLDERS

Pemerintah melakukan kebijakan divestasi (penjualan saham pemereintah pada perusahaan plat merah) bukannya tanpa alasan. Ada beberapa tujuan yang dicita-citakan pemerintah. Pertama pada tataran praktis diakui bahwa pemerintah lagi “bokek berat”, dibutuhkan tidak kurang dari Rp 42,5 trilyun untyuk menambal defisit APBN tahun anggaran yang berjalan. Kedua pada tataran idealis pemerintah ingin makin mengurangi perannya di sektor riil/bisnis dan menyerahkannya pada mekanisme pasar yang berlaku di mana peran sektor privat/swasta menjadi soko guru utamanya bersama koperasi (yang diharapkan). Ketiga, pada tataran manajerial maka pemerintah ingin dengan melakukan privatisasi ini maka beberapa penyakit lama perusahaan “plat merah” seperti inefiensi, cashcow pemerintah maupun partai politik ataupun mismanagement dapat dibenahi karena institusi tersebut menjadi milik publik (investor) dan mekanisme pengawasannya lebih accountable.

Namun semua harapan tersebut bukanlah pekerjaan semudah membalik telapak tangan. Mari kita tengok beberapa kasus terakhir dimana terjadi kecenderungan penguatan serikat-serikat pekerja di berbagai BUMN yang akan didivestasi oleh pemerintah. Pertama, PT Semen Gresik Group yang menjadi holding PT Semen Padang maupun PT Semen Tonasa menolak divestasi 51% saham pemerintah kepada PT Cemex (Cement of Mexico). Kedua, keputusan pemrintah melakukan “tukar guling” antara PT Telkom dengan PT Indosat yang sama-sama BUMN ditolak oleh Sekar (Serikat Karyawan) PT Telkom Divre IV yang asetnya akan diberikan kepada PT Indosat sedangkan PT Telkom mendapatkan saham mayoritas PT Indosat di PT Telkomsel. Ketiga, rencana pemerintah yang sambil “pontang-panting” melakukan divestasi kepada “sang primadona” BCA dengan menjual 51% sahamnya dalam perkembangan terakhir menerima tentangan yang kuat dari serikat pekerja BCA.

Pemerintah mestinya sudah belajar banyak dari berbagai kasus yang menimpa BUMN ini ataupun aset-aset yang dikuasai oleh BPPN dalam melakukan divestasi, yang lagi-lagi tidak “direstui” karyawannya. Sayangnya mungkin kita termasuk bangsa “iterative” yang ironisnya selalu mengulang bukannya kebenaran namun kesalahan yang itu-itu saja. Apa sih penyebab kekurang-setujuan pekerja terhadap kebijakan divestasi tersebut.

Pertama adalah faktor uncertainty of work, rencana divestasi tentunya berimplikasi pada perubahan kepemilikan saham mayoritas, yang biasanya berdampak pada perubahan manajemen terutama aspek sumber daya manusia, hal inilah yang merisaukan pekerja baik pada level pelaksana apalagi manajer, sehingga kebijakan divestasi dirasakan merisaukan bahkan kemungkinan mengganggu posisi saat ini, adapun alasan nasionalisme dan lain sebagainya masih bisa diperdebatkan.

Kedua, faktor yang tidak kalah pentingnya adalah karena pekerja tidak merasa “diuwongke” oleh pemerintah. Selama ini seakan-akan berbagai kebijakan pemerintah yang pasti berimplikasi langsung pada pekerja tidak melibatkan partisipasi mereka secara aktif, padahal kita tahu pekerja adalah stakeholder yang penting. Pemerintah cq. Kantor Meneg BUMN dan Departemen Teknis sebagai pemegang saham/shareholder terlalu sering melakukan keputusan sepihak tanpa mendengarkan aspirasi pekerja. Kalaupun alasan profesionalitas tentunya pemegang sahampun wajib mendengarkan suara dari seluruh stakeholder baik internal maupun eksternal yaitu pekerja, supplier, distributor, customer, competitor, publik baik financial maupun non financial. Ada nasihat sederhana yang dikemukakan mantan wapres USA dan mantan rival George W. Bush Jr yang dikenal sebagai aktivis lingkungan yaitu Al Gore bahwa tugas perusahan bagi karyawannya adalah sharing ide dan tujuan organisasi yang akan dicapai, memberikan kepercayaan dan kesempatan untuk maju, memberi atensi dan penghargaan akan prestasinya dan menentukan serta mengimplementasikan rencana bersama.

CATATAN AKHIR

Pola yang dipakai oleh perusahaan taksi kenamaan di Jakarta yang bernama Blue Bird dapat dijadikan solusi yang menarik. Pada perusahaan tersebut pekerja sekaligus sebagai pemilik, setiap bulan pekerja mencicil harga taksinya sehingga jika kinerjanya bagus dalam jangka waktu tertentu taksi tersebut 100% menjadi pemiliknya, semakin berprestasi semakin cepat. Meng-komparasikan perusahaan taksi dengan BUMN yang lebih complicated mungkin tidak tepat, namun prinsipnya satu yaitu menciptakan fasilitas yang memungkinkan pekerja di berbagai BUMN sekaligus sebagai pemiliknya, dan dilibatkan dalam decision making. Dalam berbagai kasus negara maju, program Employee Stock Option Planning (ESOP) dimana memberikan kesempatan pekerja untuk memiliki saham perusahaannya (sehingga dia sebagai pemilik) menjadi senjata yang ampuh untuk mendongkrak kinerja perusahaan dan prestasi karyawan karena ESOP berkorelasi dengan kinerja. Semakin berprestasi si karyawan maka dia mendapatkan option memiliki saham dalam jumlah yang lebih banyak ataupun option dengan harga yang lebih murah, hal ini akan merangsang pekerja untuk giat bekerja dan meningkatkan rasa “handarbeni”.

Jadi kalau mereka mogok yang rugi mereka sendiri. Tentunya hal ini menjadi solusi jangka menengah dan jangka panjang, dalam jangka pendek tiada bosan-bosannya kepada semua pihak untuk cooling down, mengedepankan kepentingan nasional dan bermusyawarah mufakat. Yang jelas tujuan divestasi ataupun privatisasi adalah profitisasi baik financial maupun non financial dan bukannya politisasi !

Posted in Ekonomi Nasional, Keuangan dan Perbankan, Korporasi, Pasar Modal | Leave a Comment »

Bursa Regional Ditutup Beragam

Posted by yananto pada Kamis, 9 Oktober 2008

JAKARTA, KAMIS – Pasar saham regional, Kamis (9/10), ditutup beragam. Investor menyikapi secara beragam kebijakan pemangkasan suku bunga acuan oleh sejumlah bank sentral negara-negara maju yang dipimpin oleh Federal Reserve AS. Selain itu, menurut analis, tekanan jual juga masih menghantui pasar. “Tekanan short selling masih kuat. Saya kira pemangkasan suku bunga saja tidak akan menolong banyak untuk meningkatkan kepercayaan lebih besar,” kata Lorraine Tan, Director Standard & Poor’s Equity Research di Singapura.

Di Hongkong, indeks Hang Seng ditutup naik 511,51 poin (3,31 persen) menjadi 15.943,24. Sementara itu, di Korea Selatan indeks Kospi naik tipis 0,6 persen pada 1.294,89 dan indeks Strait Times Singapura melejit 4,30 persen ke posisi 2.120,97.

Sementara itu, beberapa indeks regional lainnya masih berkutat di zona merah, seperti indeks Nikkei225 Jepang ditutup turun 0,50 persen ke 9.157,49 dan indeks Tertimbang Taiwan melemah 1,45 persen pada 5.130,71.

Kemudian saham-saham di Australia juga melemah, dengan indeks S&P/ASX200 turun 67,2 poin (1,5 persen) menjadi 4.320,9 dan indeks All Ordinaries berkurang 78,5 poin (1,80 persen) pada 4.291,3.

Sumber: http://www.kompas.com/

Posted in Ekonomi Nasional, Korporasi, Pasar Modal | Leave a Comment »

Kepanikan di pasar modal…

Posted by yananto pada Kamis, 9 Oktober 2008

Walaupun tanggung jawab perusahaan kami tidak terlampau besar, masih dalam hitungan beberapa Triliun Rupiah (ratusan juta US Dollar) dan jumlah karyawanpun hanya sekitar 1000 orang, namun kondisi memburuknya pasar modal dunia tetap membuat saya terus berfikir serta melakukan analisa sejernih-jernihnya. Tujuan utama saya tentunya untuk mengantisipasi perkembangan dan mengambil langkah-langkah preventif agar tidak berdampak buruk pada kondisi perusahaan kami. Berikut ini analisa awam saya :

Bagaimana awalnya krisis ini ?
Pada awalnya memang terjadi krisis pinjaman rumah di Amerika Serikat (yang lebih terkenal dengan nama “subprime loan crisis”). Intinya, bank-bank di Amerika memberikan pinjaman pembelian rumah, kepada mereka yang sebenarnya tidak mampu untuk membeli rumah. Tetapi tawarannya sangat menggiurkan sehingga sulit bagi penduduk di Amerika Serikat untuk menolak. Sewaktu harga minyak bumi mulai naik dan ekonomi Amerika mengalami resesi, maka para peminjam uang mulai alami ”default” (tidak mampu bayar). Untuk menyelamatkan para bank penjamin, Federal reserve Amerika menurunkan suku bunga secara bertahap dari sekitar 5.26 % di Bulan Juli 2007 menjadi 2.2 % di bulan Maret 2008. Harapannya adalah suku bunga mengecil, maka pembeli rumah mampu kembali mencicil pinjamannya.

Rasanya jika sampai disini saja, mungkin masalahnya selesai. Karena perusahaan penjamin perumahan di Amerika yaitu Freddie Mac dan Fannie Mae, mampu menggaransi pinjaman sebesar US $ 5,4 Trilliun. Jika dihitung secara sederhana, nilai ini cukup untuk menjamin 180 juta rumah baru, senilai US $ 30.000 per rumah (rumah kualitas lumayan di USA). Artinya uang jaminan kedua perusahaan tersebut, cukup untuk menggaransi seluruh penduduk dewasa Amerika dengan masing-masing sebuah rumah baru. Namun rupanya paket pinjaman ini diperdagangkan ke bank-bank lain diluar Freddie Mac dan Fannie Mae, menjadi bentuk-bentuk paket investasi baru. Rasanya jika hanya terbatas pada ”penjualan” paket investasi perumahan saja, mungkin masalahnya bisa selesai dan terisolasi. Karena Pemerintah Amerika serikat sebenarnya mampu dan telah mengambil alih seluruh hutang-hutang Freddie Mac dan Fannie Mae.

Tetapi kenapa masalahnya ”meledak” ke perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan lainnya ?
Ini analisa pribadi saya……..Dengan penurunan suku bunga oleh Federal reserve, untuk selamatkan krisis ”subprime loan”, mengakibatkan lahirnya ”uang murah” dan US Dollar yang lemah. Kondisi uang murah ini digunakan oleh para spekulan (sebagian besar di perusahaan sekuritas) untuk meminjam uang ke bank dan melakukan transaksi (”trading”) komoditi, termasuk minyak bumi. Baca tulisan saya sebelumnya. Sehingga harga komoditi termasuk minyak bumi ”membumbung” diluar kelayakan teori pasar ”supply and demand”.

Komoditi yang diperdagangkan oleh para spekulan tidak hanya terbatas pada minyak bumi tetapi juga berbagai jenis produk pertanian dan produk logam seperti Nickel dan Tembaga. Dampaknya adalah harga makanan juga membumbung. Fenomena ini mengakibatkan inflasi meroket di beberapa negara industri di dunia. Untuk mencegah inflasi meningkat, maka Federal reserve Amerika mulai ”ancang-ancang” untuk menaikan suku bunga. Selain itu, karena harga minyak bumi terus membumbung, Pemerintah Amerika serikat menginisiasi untuk ”ancang-ancang” melakukan pengeboran minyak di lepas laut. Dampak dari langkah ”ancang-ancang” peningkatan suku bunga dan ”ancang-ancang” pengeboran minyak di lepas laut, mengakibatkan US Dollar menguat dan harga minyak bumi jatuh.

Akibat dari jatuhnya harga minyak bumi, maka para spekulan yang tadinya memprediksi bahwa harga minyak bumi akan terus membumbung ke US $ 200 ……salah total prediksinya dan rugi besar. Karena uang-uang tersebut dipinjam dari bank dan menggunakan dana dari perusahaan-perusahaan sekuritas, maka merekapun ikut hancur. Terjadilah kerugian yang luar biasa pada perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan, selain pada perusahaan-perusahaan penjamin perumahan.

Posted in Ekonomi Nasional, Korporasi, Pasar Modal | Leave a Comment »

KRISIS AMERIKA SERIKAT : HUTANG BERTAMBAH USD 2,6 MILIAR PER HARI !!!

Posted by yananto pada Kamis, 9 Oktober 2008

Krisis keuangan di Amerika semakin meluas beberapa bulan terakhir ini. Kebangkrutan bank investasi raksasa Lehman Brothers, peng-akuisisian Bear Sterns dan Merril Lynch serta perubahan status Goldman Sach dan Morgan Stanley. Tak ketinggalan usaha penyelamatan beberapa perusahaan keuangan lain yaitu American International Group (AIG), Fanni Mae dan Freddie Mac. Krisis juga merembet ke sejumlah bank komersial yang terjadi krisis kepercayaan yang berdampak rush yang terjadi pada Bank Indy Mac di California dan Washington Mutual di Washington. Padahal Washington Mutual adalah bank yang sangat besar. Kalau dibandingkan dengan bank terbesar di Indonesia, yaitu Bank Mandiri, total asetnya 10 kali lebih besar.
Krisis di Amerika berawal dari masalah kredit perumahan. Kredit kepemilikan Rumah (KPR) dinegara itu awalnya berjalan baik karena ditujukan kepada nasabah-nasabah prima. Namun dalam perkembangannya, pemberian kredit meluas kepada nasabah- nasabah yang kurang layak. Nasabah yang sebelumnya pernah mengalami kredit macet kembali memperoleh KPR baru. KPR banyak diberikan dengan persyaratan uang muka sangat rendah, yaitu 5% atau bahkan tanpa uang muka sama sekali.
Dalam keadaan harga properti yang terus naik, hal tersebut tidaklah memunculkan masalah. Namun dalam keadaan pasar properti yg mengalami stagnasi atau bahkan terdapat kecendrungan harga melemah, hal itu akan memicu masalah. Masalah ini kemudian menjalar ke banyak bank Investasi. Di AS , industri keuangan sudah sangat maju. Kredit-kredit KPR yang diberikan oleh perbankan, oleh bank bersangkutan dikumpulkan kemudian dalam jumlah yang cukup banyak disekuritisasi. Ini merupakan proses mentransformasi KPR menjadi surat berharga (sekuritas). Istilah yang sering digunakan untuk surat berharga yang dijamin oleh KPR tersebut adalah Mortgage Backed Securities (MBS) dengan varian yang bernama Collateralized Debt Obligation (CDO) . Proses sekuritisasi ini dibantu oleh perusahaan pembiayaan perumahan AS. MBS dan CDO tersebut kemudian dijual ke bank-bank Investasi.
Dalam perjalanan waktu, kualitas surat berharga tersebut sgt dipengaruhi perkembangan harga rumah . Jika harga rumah terus meningkat, pembayaran cicilan umumnya lancar. Kalaupun terjadi masalah , bank dengan mudah akan menjual kembali rumah yang dibiayai KPR tsb. Sejak pertengahan 2007 pembayaran dari sebagian nasabah KPR mulai tersendat-sendat. Macetnya kredit tsb akhirnya menyebabkan kualitas MBS dan CDO juga turun, sehingga harganya mulai berjatuhan.
Para investor, bank komersial, bank investasi maupun perusahaan asuransi akhirnya harus melakukan penyisihan atau menghapus nilai surat berharga yang terimbas kredit macet dlm jumlah besar.
Keadaan ini menyebabkan pemerintah AS harus melakukan pertolongan. Setelah awalnya dilakukan pertolongan kasus per kasus yang hasilnya tdk bagus. Akhirnya pemerintah mengusulkan program bail out senilai USD 700 Miliar.
Upaya penyelematan sebesar USD 700 Miliar yang semestinya menenangkan pasar ternyata justru menimbulkan permasalahan baru. Yaitu dari sisi kesehatan keuangan pemerintah AS.
Jumlah hutang pemerintah AS ternyata telah melampaui USD 10 triliun dan setiap harinya bertambah USD 2,6 Miliar. Ini berarti bahwa rasio hutang pemerintah AS terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mereka yang mencapai USD 14 Triliun adalah diatas 70%-nya.
Dengan upaya penyelamatan tsb batas atas hutang pemerintah akan ditetapkan sebesar USD 11,3 Triliun . Jika batas itu tercapai, maka rasio hutang pemerintah terhadap PDB akan mencapai sekitar 80% dan akan terus meningkat !

Posted in Ekonomi Nasional, Korporasi | Leave a Comment »

Lho kok Korea dan India, di tahun 2009 justru meningkat pertumbuhannya – gimana caranya ?

Posted by yananto pada Kamis, 9 Oktober 2008

Karena krisis moneter biasanya beruntun dari negara ke negara, misalnya di tahun 1997-1998 dari Korea dan Thailand lalu ke Indonesia, maka saya saat ini sedang tertarik memonitor berbagai prediksi pertumbuhan ekonomi pada berbagai negara di Asia tenggara dan Asia timur. Berikut ini prediksi terakhir (data-data paling ”gres”) yang memprediksi pertumbuhan ekonomi pada masing-masing negara untuk tahun 2008 dan 2009 :

Namun ada 2(dua) negara yang terlihat optimis dalam meramal pertumbuhan ekonomi di 2009, walaupun ada dampak krisis di USA, yaitu :

Setelah saya pelajari, ternyata kedua negara tersebut sangat mengandalkan pada pertumbuhan di bidang industri manufaktur :


Korea adalah sebuah contoh yang menarik dari sebuah negara yang tidak punya natural resources, dan di tahun 1961 income per kapita-nya masih dibawah sebagian besar negara-negara Afrika. Namun saat ini, ia menjadi negara ekonomi no:4 terbesar di Asia dan mampu mengatasi berbagai krisis ekonomi. Baca sejarah perkembangan industri Korea disini dan juga apa upaya-upaya negara Korea di masa mendatang untuk memenangkan persaingan melalui Research and Development (R&D). Keseriusan Korea di bidang R&D dapat dilihat pada anggaran investasi R&D, yang akan terus dinaikan dari 3% GDP di tahun 2009 ke 5 % GDP di tahun 2012. Tapi juga harap perhatikan bahwa Korea menganggarkan di tahun 2009, sebagian besar anggaran belanjanya untuk pembangunan Infrastruktur.

Jadi bagaimana caranya Indonesia menghadapi krisis kali ini ?. Jika kita menengok ke Korea, maka Indonesia perlu terus menerus melakukan peningkatan daya saing (competitiveness) melalui pembangunan industri manufaktur yang berbasis R & D dan juga pembangunan infrastruktur.

Sumber: http://www.triharyo.com

Posted in Ekonomi Nasional, Korporasi | Leave a Comment »

Penyelesaian Kisruh Royalti, Menkeu Hormati Kontrak

Posted by yananto pada Rabu, 13 Agustus 2008

Menkeu Sri Mulyani mengatakan akan menghormati kontrak karya dalam kisruh tunggakan royalti beberapa perusahaan tambang batu bara. Menurut Menkeu, persoalan utamanya terdapat pada perubahan status batu bara yang sebelumnya adalah barang kena pajak menjadi barang yang tak kena pajak namun memiliki kontrak.

“Nah, kalau ada hal-hal yang selama ini dianggap tidak konsisten atau yang dianggap tidak jelas atau ada perubahan UU terutama di sisi pajaknya, kita selesaikan di situ. Sudah ada mekanismenya, sudah ada caranya,” ujar Menkeu usai melantik pejabat baru Inspektorat Jenderal Depkeu di Jakarta, Selasa (12/8).

Kerangka penyelesaian kisruh ini tetap mengacu kepada kontrak yang telah disepakati, termasuk di dalamnya mengenai royalti. Menurut Menkeu, memang di dalam kontrak disebutkan terdapat Pajak Penjualan sebesar lima persen. Bagi Menkeu, mekanisme penyelesaiannya akan dimulai dengan klasifikasi ulang tentang batu bara yang dilakukan oleh Menteri ESDM dan Dirjen Pajak.

“Kita lihat bagaimana melakukan klasifikasi lagi dari batu bara itu yang sesuai dengan kontrak. Kala memang mereka mendapatkan pajak masukan yang mau di reimburst, nanti itu teknis yang akan kita bahas dalam status batu bara yang tadinya barang kena pajak menjadi barang tidak kena pajak tapi ada kontraknya,” ujar Menkeu.

Mengenai royalti, Menkeu mengatakan tidak ada masalah lagi jika pemerintah dan pengusaha sama-sama menghormati kontrak. “Itu adalah sesuatu yang sudah clear, tidak ada despute. Pengusaha sendiri paham, kita paham. Ada tagihannya, cara pembayaran dan jumlahnya,” tandas Menkeu. Menkeu menambahkan tidak akan mencekal individu pelaku bisnis tambang karena hubungan kontrak mengacu pada negara dan perusahaan.

Posted in Ekonomi Nasional | Leave a Comment »

UU Pajak Daerah dan Restribusi Daerah Berlaku 2009

Posted by yananto pada Rabu, 13 Agustus 2008

Dirjen Perimbangan Keuangan Depkeu Mardiasmo optimistis kebijakan terpadu tentang lalu lintas dan transportasi dalam UU Pajak Daerah dan Restribusi Daerah (PDRD) akan dapat diberlakukan tahun depan meski saat ini prosesnya terkendala masa reses DPR RI.”Kita coba tinggal beberapa instruksi saja. Insya Allah bisa diterapkan tahun depan,” ujar Mardiasmo di Jakarta, Selasa (12/8).

Dalam UU PDRD, semua kebijakan yang mengarah untuk mengatasi kemacetan lalu lintas dan untuk mengurangi konsumsi BBM telah diusulkan, antara lain pengenaan pajak terhadap kendaraan bermotor, BPKB, pajak bahan bakar, dan juga pajak parkir, meliputi masing-masing tarifnya, termasuk Electronic Road Pricing (ERP). “Selama ini sudah ada pajak parkir, semua akan dibahas dlm UU PDRD bersama DPR,” ujar Mardiasmo.

Menurut Mardiasmo, pihaknya belum mengetahui besarnya potensi penghematan konsumsi BBM setelah ketentuan UU PDRD hingga Mass Rapid Transit (MRT) diberlakukan karena belum menghitungnya.

Posted in Ekonomi Nasional | Leave a Comment »

Perubahan Tidak Bisa Dibeli dengan Uang

Posted by yananto pada Rabu, 13 Agustus 2008

Sepintas mobil pikap itu teronggok di lahan kecil dekat tumpukan sampah. Sambil memandang mobil kecil itu, Hidayat sebagai pengurus Yayasan Rumah Perubahan tersenyum. ”Mobil itu sudah mati,” begitu singkat kata Hidayat. Mati yang dimaksudkan adalah mati surat- suratnya, tetapi masih berjasa bagi masyarakat.

Mobil itu memang masih digunakan keliling setiap hari, dari gang ke gang di Kelurahan Jati Murni, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat. Dipakai keliling bukan untuk jalan-jalan, apalagi kampanye politik, melainkan untuk mengangkut sampah rumahan. Bolak- balik, kata Hidayat, mobil itu ditangkap oleh Satuan Polisi Pamong Praja karena mengangkut sampah.

Latar belakang penangkapan dikarenakan tidak adanya izin mengangkut sampah dari instansi pemerintah. Inisiatif alias maksud baik warga ingin bersih dari sampah justru dikotori oleh perizinan mengangkut sampah, padahal pemerintah sendiri belum tentu bisa cepat mengangkut sampah warga.

Akibatnya, surat kendaraan bolak-balik diperiksa. Karena merasa niat baiknya terusik dan terganggu terus-menerus, Hidayat mengaku tidak mau mengeluarkan uang sepeser hanya demi jalannya kendaraan itu. “Ini bentuk-bentuk pemerasan! Saya jengkel. Saya kasihkan saja surat-surat kendaraan itu. Sampai-sampai saya bilang, kalau kendaraannya mau diambil, ya silakan saja diambil sama sampahnya. Bukan hanya kantor kelurahan atau kecamatan yang bakal bau, tetapi orang sekampung bakal marah karena sampahnya enggak diangkut lagi,” ujar Hidayat.

Maklum, empat mobil miliknya itu merupakan fasilitas penting untuk mengumpulkan sampah yang ada di depan rumah warga. “Jadi, kebayang deh bau busuknya kalau satu hari saja tidak diangkut! “Setiap hari kami mengumpulkan 7,5 ton sampah rumah tangga,” ujar Hidayat.

Menyatukan

Lantas, bagaimana mungkin sampah bisa menyatukan masyarakat? Semua berawal dari ”Rumah Perubahan”. Prinsipnya, perubahan belum tentu menjadikan sesuatu lebih baik. Namun, tanpa perubahan, tidak ada pembaruan, tidak akan ada pula kemajuan!

Pemrakarsa ”Rumah Perubahan”, Rhenald Kasali dan Hidayat, mengaku harus jungkir balik mendekati masyarakat. Ada saja sikap resistensi dari segelintir orang. Dua tahun kecurigaan datang bertubi-tubi karena lahan luas yang mirip rawa- rawa tidak terurus itu tiba-tiba bisa ditata begitu apik.

Rhenald Kasali, pakar pemasaran dari Universitas Indonesia, yang ditemui di ”Rumah Perubahan”, awal Agustus lalu, mengatakan, “Ada yang curiga, jangan-jangan lahan ini dijadikan rumah ibadah agama tertentu. Karena semua ini murni berawal dari niat baik, biarlah fakta yang membuktikan!”

Alhasil, membangun komunitas basis memang harus didekati dengan konsep sederhana. Persoalan mendasarnya adalah sampah. Sampah diolah menjadi biomassa, pupuk kompos, dan magot untuk perikanan. Kini konsep menghidupkan ekonomi rakyat diperluas dengan menciptakan kawasan wisata alam.

Menurut Rhenald, konsep pengolahan sampah terintegrasi dari hulu ke hilir bisa saja diserahkan kepada tenaga profesional. Itu cara gampang. Cuma bermodal uang, tetapi melupakan potensi masyarakat. Namun, hal itu tidak dilakukan karena potensi masyarakat sesungguhnya bisa diandalkan untuk sama-sama berubah. Inilah konsep perubahan. Perubahan tidak bisa dibeli dengan uang.

Untuk mengajak bersih lingkungan, tong-tong sampah yang merupakan bentuk kegiatan tanggung jawab sosial korporat (corporate social responsibility/ CSR) diberikan kepada warga. Tujuannya hanya satu, sampah itu bisa dikumpulkan dengan mudah.

“Pengalaman memang tidak pernah ada di bangku sekolah. Kalau sampah diambil dari bak sampah yang terbuat dari semen, kita membutuhkan waktu enam menit per bak sampah. Di sinilah pengalaman membuktikan, kita hanya butuh lima menit untuk mengangkut sampah dari 10 tong sampah dari 10 rumah warga,” jelas Rhenald.

Dari sampah itulah, pemilahan dilakukan dengan teknologi sederhana. Sebagian sampah organik dijadikan pupuk kompos, sebagian lagi dipadatkan dalam bentuk batangan kecil menjadi briket, mirip briket batu bara. Keuntungan pun bisa diraih warga karena briket ini lebih murah dibandingkan dengan minyak tanah. Ke depan, briket bisa dijual seharga Rp 5.000 per bungkus (isi 5 kilogram).

Sementara itu, sampah nonorganik dikeringkan. Kemudian dipadatkan dalam ukuran tertentu untuk dijadikan biomassa. Lumayan juga, biomassa ini sudah memiliki pasar tersendiri yaitu pabrik semen untuk bahan bakar. Permintaannya sudah mencapai 300 ton per bulan. Tentu, semua orang tidak mau memakan pupuk kompos. Karena itulah, pupuk kompos itu digunakan untuk menyuburkan tanaman hias dan sayur-mayur. Konsep pemasaran menjadi kebutuhan sehingga kelak perkampungan itu akan dilengkapi menjadi pasar hasil pertanian (farmer’s market).

Manfaatkan orang muda

Di dekat tempat pemasaran sayur-mayur, lahan yang semula semak-belukar disulap oleh orang muda kampung menjadi lahan wisata alam. Tren wisata alam terbuka berbentuk outbound menjadi salah satu yang dibidik orang muda. Galam, seorang pemuda di Kelurahan Jati Murni, Kecamatan Pondok Melati, bersama teman-teman sekampungnya menyiapkan lahan yang memiliki ketinggian lebih dari 25 meter.

Tingkat kecuramannya dimanfaatkan untuk mempersiapkan olahraga yang menguji adrenalin, yaitu flying fox. “Ini impian saya. Banyak sekali kita lihat orang suka outbound, tetapi harus mengikuti di luar kota yang jauh. Di sinilah, semua kegiatan lintas alam bisa diperoleh. Dari memancing, menanam padi, menangkap ikan, hingga memandikan kerbau,” tutur Galam.

”Rumah Perubahan” menjadi tidak asing lagi bagi warga Jati Murni. Sampah yang semula menjadi barang-barang yang tidak berguna, kini diubah konsepnya menjadi barang-barang yang sangat berguna. Bahkan, untuk memperoleh sampah yang sudah dipilah-pilah, warung 3R (reduced, reused, dan recycled) mulai diterapkan. Caranya, warung yang dikelola masyarakat dioptimalkan.

Pemilik warung diberikan insentif sejumlah uang. Sekali lagi, uang itu diperoleh dari CSR. Komitmennya, pemilik warung berjualan seperti biasa, tetapi pemilik warung juga harus mau menerima sampah bekas pembungkus makanan dari masyarakat. Setiap sampah bisa ditukar dengan kebutuhan sehari- hari, seperti sabun mandi, mi instan, susu, dan sebagainya.

Dari sinilah, sampah pembungkus makanan yang dipilah-pilah itu dikumpulkan, disatukan, dan siap dijual kembali. Lumayan, sampah itu bisa dijual sekitar Rp 2.000 per kg. Awalnya adalah sampah. Komunitas kecil ini sudah bergerak, membangun komunitas tanpa campur tangan pemerintah! (Stefanus Osa Triyatna)

Posted in Ekonomi Nasional | Leave a Comment »

Pelaku Industri Dibiarkan Saling “Berkelahi”

Posted by yananto pada Kamis, 7 Agustus 2008

Kalangan industri saat ini mengemban tugas berat: bersama PLN mencari jalan keluar bagi gangguan suplai listrik. Buruknya prasarana dasar ini telah menekan produktivitas industri. Pemerintah berjanji, tambahan kapasitas dari pembangkit baru mulai akhir 2009 akan mengurangi kepelikan itu. Masalah yang ikut dipertimbangkan industri adalah harga jual listrik berada jauh di bawah biaya produksi PLN.

Akibatnya, PLN dihantui ketidakmampuan finansial untuk memproduksi listrik. Hal itu berujung pada niat menaikkan tarif listrik. Problem itulah yang kini coba dirundingkan PLN dengan industri dalam mekanisme antarpelaku bisnis.

Mekanisme kesepakatan antarpelaku bisnis diharapkan menjadi terobosan meski kewenangan penentuan tarif berada pada pemerintah dan DPR. Kenaikan tarif listrik tentu bukanlah keputusan politik populer.

Sebelum perundingan PLN dan Kadin mewakili industri dimulai pada 2 Juli, pelaku industri petrokimia melalui Asosiasi Industri Plastik dan Olefin Indonesia (Inaplas) sudah menyatakan toleransi terhadap kenaikan tarif listrik hingga 50 persen asalkan suplai lancar.

Ketua Umum Kadin MS Hidayat berpendapat, kenaikan tarif sebaiknya di bawah 50 persen. “Industri besar petrokimia bisa menoleransi kenaikan tarif listrik sampai 50 persen, tetapi sebagian besar pelaku industri lain keberatan kalau kenaikan sampai 50 persen,” ujarnya.

Industri petrokimia yang bergabung di Inaplas mengolah produk turunan minyak. Jaminan energi listrik sangat krusial bagi proses produksi yang lahap energi dan modal itu. Sebagian industri petrokimia anggota Inaplas merupakan perusahaan bermodal Jepang.

Beberapa pekan lalu para pengusaha Jepang juga menyampaikan keluhan soal gangguan pasokan listrik ke Kadin serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Keluhan itu patut disikapi serius karena pengusaha Jepang dikenal santun. Mereka amat berhati-hati untuk tak memberi kesan investasi di Indonesia “terancam” di tengah gegap gempita penandatanganan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jepang dan peringatan 50 tahun hubungan diplomatik kedua negara tahun ini.

Bagi investor dengan usaha berjangka panjang, seperti bidang otomotif, elektronika, dan petrokimia, kenaikan tarif listrik hingga batas tertentu lebih mungkin ditoleransi daripada ketidakandalan suplai. Akan tetapi, beragam jenis industri memiliki karakter dan kondisi berbeda sehingga muncul pula penyikapan heterogen atas kemelut ini.

Pada saat Inaplas sudah menyatakan toleransi kenaikan tarif hingga 50 persen, masih banyak pelaku industri lain yang mempertanyakan mengapa krisis listrik terjadi seperti musibah yang tidak tercegah. Apakah defisit suplai terjadi karena keterbatasan pembangkit atau semata-mata alasan PLN menaikkan tarif? Kalau daya listrik tidak tersedia, mengapa jika tarif dinaikkan PLN berani menjamin suplai listrik tercukupi? Gugatan itu antara lain disampaikan produsen ban hingga peritel.

Pelaku industri dan pebisnis pun dibayangi keraguan terhadap akuntabilitas kinerja PLN. Pada perundingan dengan Kadin, PLN menjelaskan, keterbatasan kapasitas pembangkit dan kenaikan harga energi primer untuk pembangkitan sama-sama menyebabkan gangguan suplai.

Harga batu bara dan minyak mentah jauh di atas asumsi anggaran sehingga harga pokok produksi semakin jauh di atas harga jual (lihat tabel). Tanpa penambahan subsidi pemerintah, likuiditas PLN terancam.

Direktur PLN untuk Jawa-Bali Murtaqi Syamsuddin dalam rapat dengan Kadin menjelaskan, kenaikan tarif listrik atau penambahan subsidi pemerintah dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan finansial PLN yang menghambat produksi listrik.

Kemampuan pemerintah menambah subsidi amat terbatas. Jika tarif listrik pun tidak bisa dinaikkan, pemadaman tidak terhindarkan. Pertemuan PLN dan pelaku industri yang difasilitasi Kadin, diakui Hidayat, belum menghasilkan pemahaman bersama di kalangan industri.

“Perundingan ini masih antara PLN dan tim kecil Kadin walaupun melibatkan asosiasi. Belum ada keputusan Kadin sebagai organisasi. Sikap industri masih heterogen, belum satu suara. Namun, pada saatnya nanti, menjadi tugas Kadin untuk mengharmonisasikan sikap industri,” ujar Hidayat.

Isu PLN akan menaikkan tarif listrik seperti momok di tengah krisis listrik dan aturan pengalihan waktu kerja yang ditetapkan pemerintah. Pada saat yang sama, industri menghadapi puncak kepadatan produksi untuk mengejar pemenuhan order ekspor, sekaligus memenuhi kebutuhan domestik menjelang Lebaran.

Industri juga baru saja menghitung ulang biaya produksi yang terdorong oleh kenaikan harga minyak mentah dan BBM. Hitungan biaya produksi itu mendasari negosiasi harga jual ke pasar dalam dan luar negeri.

Skenario kenaikan

Dalam perundingan dengan Kadin, PLN menawarkan empat skenario kenaikan tarif bagi industri dan bisnis berskala besar. Skenario ini dibedakan berdasarkan pembedaan perhitungan pada waktu beban puncak, luar beban puncak, dan biaya beban.

Bagi Asosiasi Pertekstilan Indonesia dan Asosiasi Pengusaha Indonesia, upaya membuat kesepakatan antarpelaku bisnis antara PLN dan Kadin terlalu berisiko. Karena itu, keterlibatan otoritas penetapan tarif dinilai krusial. Resistensi pelaku industri juga muncul karena simulasi menunjukkan meski tarif dinaikkan 50 persen, misalnya, aplikasi dalam empat skenario PLN menghasilkan kenaikan riil mencapai sekitar 100 persen. Tentu saja kenaikan sebesar itu dirasa memberatkan industri.

Namun, ada pula kalangan industri yang berpendapat, kenaikan tarif listrik dapat diterima jika diterapkan bertahap, tidak sekaligus dinaikkan hingga mencapai nilai keekonomian listrik. Berkembang pula wacana untuk mempertimbangkan opsi kenaikan tarif diberlakukan rata-rata atau diperhitungkan proporsional berdasarkan pengklasifikasian (kluster) jenis industri.

Satu hal yang pasti, kekurangan suplai listrik mengancam investasi yang sudah berkembang di Indonesia, sekaligus memberi sinyal negatif kepada calon investor yang akan menanamkan modalnya di negara kita. “Industri yang sudah ada tidak bisa mendapat tambahan daya listrik untuk ekspansi. Pelanggan baru industri besar juga tidak bisa dilayani, jadinya investasi mandek,” tutur Hidayat.

Jika tidak ingin terus dirugikan, industri perlu turut mencari jalan keluar. Namun, tidak dapat pula dibiarkan para pelaku industri “berkelahi” di antara mereka sendiri karena desakan soal listrik. (Nur Hidayati/Kompas)

Posted in Ekonomi Nasional | Leave a Comment »