Yananto Mihadi

Berilmu Sebelum Berkata dan Berbuat, Upaya Menghilangkan Kebodohan dari Diri Sendiri dan Orang Lain..

Tingkatan-Tingkatan Komitmen (The Levels of Commitment)

Posted by yananto pada Minggu, 17 Mei 2009

Oleh : Anugerah Wulandari*)

Apakah pasangan Anda memiliki komitmen terhadap Anda? Atau apakah Mahasiswa Baru 2006 yang terekrut telah memiliki komitmen terhadap organisasi yang dimasukinya ? Komitmen telah menjadi bagian dari hubungan antar manusia. Ternyata, komitmen memiliki tingkatan-tingkatan. Nah, sampai dimanakah tingkat komitmen teman, pasangan, atau anggota Anda ?

Dwyer, Shurr dan Oh, (1987, p. 19) mendefinisikan komitmen sebagai an implicit and or explicit pledge of relational continuity between exchange partners. Sementara Moortman, Zaltman dan Deshpande (1992, p. 316) mendefinisikan relationship commitment sebagai: an enduring desire to maintain a valued relationship. Sama halnya dengan dua definisi di atas, peneliti lain yaitu Morgan dan Hunt (1994, p. 23) mendefinisikan komitmen sebagai an exchange partner believing that an ongoing relationship with another is so important as to warrant maximum efforts at maintaining it; that is, the committed party believes the relationship is worth working on to ensure that it endures indefinitely, and proposed that relationship commitment is central to relationship marketing.

Beberapa Jenis Komitmen

Konsumen merasakan sejumlah perasaan terhadap komitmennya pada hubungan yang telah tercipta dengan para penyedia jasa (service provider). Bentuk komitmen konsumen dibedakan atas continuance, affective dan normative commitment (Fullerton dan Taylor, 2000, p.7).

Yang dimaksud continuance commitment dalam hubungan pemasaran adalah komitmen yang timbul karena konsumen terikat pada suatu perusahaan dan akan membutuhkan biaya dan waktu apabila ia pindah ke perusahaan lain. Sedangkan yang dimaksud dengan komitmen yang normatif (normative commitment) adalah komitmen yang timbul karena konsumen merasa bahwa ia wajib menjalankan suatu usaha bisnis dengan perusahaan tertentu. Affective commitment merupakan komitmen yang muncul, karena masing-masing pihak yang berhubungan merasa yakin bahwa di antara mereka terdapat nilai-nilai yang sejalan dan timbulnya komitmen ini berdasarkan kesepakatan bahwa hubungan yang saling menguntungkan ini perlu dilanjutkan.

Tingkatan-Tingkatan Komitmen (The Levels of Commitment)

Menurut Berry (1999), tingkat komitmen dapat berada pada suatu batas daerah kontinum, yang dapat dibedakan atas beberapa tingkat, yaitu: Interest in Alternatives, sebagai tingkat komitmen yang paling rendah, berikutnya Acquiescene, Cooperation, Enhancement, Identity, Advocacy, dan Ownership sebagai tingkat komitmen yang paling tinggi.

1. Interest in Alternatives, yaitu komitmen konsumen yang timbul karena merasa tidak ada pilihan lain. Mungkin mereka merasa memang inilah yang terbaik di antara pilihan yang ada. Tingkat komitmen ini sangat rendah, dan konsumen pindah ke tempat lain karena alasan-alasan yang sangat sederhana. Misalnya, konsumen pindah ke pesaing lain, karena pesaing menurunkan sedikit harga, memberi potongan, atau hadiah-hadiah yang sederhana. Ini merupakan tingkat komitmen yang paling rendah, hubungan terjalin, tapi tidak bernilai.

Implementasinya dalam kehidupan rumah tangga adalah bila ternyata pasangan Anda mudah sekali berpindah hati hanya karena alasan yang remeh atau sepele, seperti karena bertemu yang lebih ganteng atau lebih cantik ^ _ ^. Dalam hubungan pertemanan, bila ternyata teman Anda mudah marah dan meninggalkan Anda hanya karena ada teman lain yang lebih perhatian dibanding Anda. Dalam organisasi, bila anggota baru, mudah sekali berpindah ke organisasi lain karena fasilitas di sekret tetangga lebih lengkap, misalnya. Dalam arti, Anda dipilih hanya karena “Habis, ngga’ ada yang lain lagi sih… “

2. Acquiescene, adalah suatu kesepakatan di antara pihak-pihak yang berhubungan bahwa ia akan menerima setiap persyaratan dan kebijaksanaan yang telah disepakati.

Implementasinya dalam kehidupan rumah tangga.. sebagai contoh adalah bila “Ya.., kita akan tetap bersama, selama saya dan kamu, bisa selalu akur.. Kalau, tidak.. ya say good bye”. Dalam pertemanan, masih ada syarat untuk bisa terus menjalin hubungan, “Kita akan tetap menjadi teman, bila kamu mau membantu saya mengerjakan PR, kalau tidak.., saya akan cari teman yang lain.” Dalam organisasi, anggota akan tetap eksis di organisasi tersebut, selama dirinya tidak dibebani amanah yang banyak, misalnya. Ada syarat.

3. Cooperation, berasal dari bahasa latin, dimana “co”, artinya bersama-sama (together), sedangkan operate artinya bekerja (to work). Cooperation adalah tingkat ketiga dari komitmen. Komitmen ini menggambarkan situasi dimana pihak-pihak yang mengadakan hubungan kerja bersama-sama untuk mencapai apa yang diharapkan. Dalam hal ini masing-masing pihak yang terlibat secara langsung mengusahakan tercapainya tujuan bersama. Menurut Berry (1999): “Cooperation is a natural outcome of trust-based relationships”.

Implementasi dalam kehidupan rumah tangga, “Isteriku.. atau suamiku, mari kita bersama arungi kehidupan, menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.. “. Dalam pertemanan, “Wahai akhi.. atau ukhti…, mari kita berjanji setia untuk senantiasa bersama-sama istiqomah di jalan ini.” Dalam organisasi, bila anggota sudah secara sadar melaksanakan program-program organisasi, tanpa banyak mengeluh dan penuh tanggung jawab.

4. Enhancement, merupakan komitmen tingkat keempat, yang berarti suatu komitmen dari pihak-pihak yang mengadakan hubungan untuk mengadakan suatu ikatan secara sadar untuk saling memberikan kontribusi yang saling menguntungkan. Selalu berusaha untuk memperkuat ikatan hubungan masing-masing berdasarkan kepercayaan yang mendalam. Misalnya, perusahaan memberikan tambahan pelayanan bagi konsumennya atau konsumen membantu perusahaan dalam memasarkan produk perusahaan. Hubungan yang erat antara perusahaan dengan konsumennya terlihat dari kerja sama suatu tim kerja.

Dalam rumah tangga, bila suami atau isteri, saling berta’awun, saling tsiqoh dan saling melengkapi… Misalnya dengan kata-kata, “Ada yang bisa kubantu, isteriku/suamiku?” Dalam pertemanan pun seperti itu, “Ada yang bisa kubantu, Ukhti?” Dalam organisasi, bila anggota memberikan/mengorbankan waktu ekstra demi terlaksananya program-program. Pun, sebaliknya, pihak manajemen organisasi memberikan suplemen 4 sehat 5 sempurna kepada anggotanya. Dan, bila anggota sudah mulai menyatakan, “Apa yang bisa saya berikan untuk organisasi ini ?” dan bukan “Apa yang bisa organisasi berikan untuk saya? “

5. Identity, adalah tingkat komitmen yang hampir sama pengertiannya dengan enhancement, yaitu suatu identitas dari kuatnya hubungan antara perusahaan dengan konsumen, yang tercermin dari sikap masing-masing pihak (konsumen dan perusahaan) yang bersedia bekerjasama dalam suatu tim kerja (team work).

6. Advocacy, tingkat komitmen ini berkaitan dengan keinginan mitra untuk menyampaikan hal-hal yang baik mengenai mitranya, misalnya konsumen ikut mempromosikan perusahaan kepada pihak lain mengenai kelebihan-kelebihan perusahaan (word of mouth), bahkan kalau perlu membela perusahaan apabila ada hal-hal yang berdampak kurang bagi perusahaan.

Dalam rumah tangga, bila suami/isteri sampai pada tahap saling menutupi kekurangan atau aib. Tidak menceritakan keburukannya. Justru, selalu menceritakan kebaikan-kebaikan suami/isterinya. Mensyukuri karunia-Nya.

Dalam pertemanan, bila keduanya sudah saling berprasangka baik sehingga segalanya dihadapi dengan tenang, menceritakan kebaikan satu sama lain. dalam organisasi, bila anggota sudah mulai terlibat mengajak orang lain untuk masuk organisasi tersebut, yang tentu saja dengan menceritakan kelebihan-kelebihan organisasi.

7. Ownership, ini merupakan tingkar komitmen terakhir, rasa kepemilikan secara emosional bagi pihak-pihak yang mengadakan hubungan. Konsumen merasa bahwa ikatannya begitu kuat dengan perusahaan sehingga konsumen merasa ia juga memiliki perusahaan. Jenis komitmen ini merupakan peningkatan atau kombinasi dari coperation, enhancement, identity, dan advocay (Berry, 1999, p. 154).

Dalam rumah tangga, misalnya bisa suami telah bertindak sebagai qawwam bagi isterinya, karena merasa bahwa isteri adalah amanahnya. Pun, isteri, bertindak taat pada suaminya, karena merasa bahwa sang suami memiliki hak yang besar atas dirinya.

Dalam pertemanan, misalnya bila seorang teman sudah mulai ikut bersedih kala temannya sedih dan ikut senang di kala temannya senang.

Dalam organisasi, bila anggota sudah merasa bahwa maju mundurnya organisasi adalah juga tanggung jawabnya. Dirinya adalah motor untuk organisasi tersebut.

Nah, ada di level yang manakah Anda ? [ANW]

*) Penulis adalah mahasiswi FE Trisakti, Jurusan Manajamen Pemasaran angkatan 2002. (Th 2009, owner http://www.indojilbab.com, Toko Jilbab Online, Fashion Jilbab Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: