Yananto Mihadi

Berilmu Sebelum Berkata dan Berbuat, Upaya Menghilangkan Kebodohan dari Diri Sendiri dan Orang Lain..

Mencantumkan Gelar, Apa Niat Kita? (2 of 3)

Posted by yananto pada Sabtu, 22 November 2008

Oleh: Ahmad Faisol

Salah satu penyakit yang harus dicuci bersih dari dalam hati kita yaitu ‘ujub. ‘Ujub adalah bangga terhadap diri sendiri, misalnya terhadap ibadah, ilmu, harta, kecantikan, kedudukan, kekuasaan dan sebagainya.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa ‘ujub dibagi dua, yaitu :

  • ‘Ujub terhadap perbuatan yang dilakukan atas kehendak diri (dengan usaha), misalnya ilmu, ibadah, sedekah, memberikan kesejahteraan kepada umat, perang dan sejenisnya.
  • ‘Ujub terhadap apa-apa yang bukan atas kehendaknya sendiri seperti garis keturunan, warna kulit, ras dan lainnya.

‘Ujub jenis pertama lebih banyak dilakukan orang dibandingkan jenis kedua.

‘Ujub mempunyai anak yang juga termasuk penyakit hati, yaitu sombong. ‘Ujub tidak memerlukan orang lain, sedangkan sombong membutuhkan orang lain sebagai pembanding.

Jika kita terjangkit kedua penyakit ini, misalnya ‘ujub dan sombong karena ilmu, maka kita akan enggan bahkan tidak mau berdiskusi atau bermusyawarah dalam suatu masalah.

Kita lebih senang kepada pendapat sendiri walaupun salah daripada pendapat orang lain meskipun benar. Hal ini karena kita mengira ilmu yang kita miliki sudah lebih dari cukup. Karena alasan tersebut, bagi kita pendapat kitalah yang valid dan ilmiah.

Kita merasa hanya kitalah yang menuntut ilmu dengan benar, sedangkan orang lain meraih ilmu hanya asal-asalan dan tidak jelas juntrung-nya.

Kita susah sekali mendengar usulan pihak lain. Menurut kita, usulan orang lain—terlebih lagi jika posisi dia di bawah kita—hanyalah angin lalu atau sekadar sekilas info ringan yang tak perlu ditanggapi serius.

Kita pun malas bahkan tidak mau mendengar nasihat orang lain, terutama bila orang itu bukanlah orang yang kita segani, bukan bagian dari kelompok kita apalagi jika ia tidak kita sukai. Padahal, sebuah kaidah telah ditetapkan,

اُنْظُرْ مَا قَالَ وَلاَ تَنْظُرْ مَنْ قَالَ

“Perhatikan apa yang diucapkan, dan jangan melihat siapa yang bicara.”

Kalimat-kalimat bijak pun telah disampaikan,

“Ambillah ilmu dan hikmah di mana pun berada, walaupun harus memungutnya dari pinggir jalan.”

“Sebuah intan, walaupun keluar dari mulut binatang, tetaplah sebuah intan.”

‘Ujub merupakan sifat tercela, baik berdasarkan firman Allah SWT maupun sabda Rasulullah Muhammad saw.

…dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun… (QS at-Taubah [9]:25)


ثَلاَثُ مُهْلِكاَتٍ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

Tiga perkara yang membawa kepada kehancuran, yaitu pelit, mengikuti hawa nafsu dan suka membanggakan diri. (HR Thabari—hadits hasan)


إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤَثَّرَةً وَإِعْجَابُ كُلِّ ذِى رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ نَفْسَكَ

Apabila kamu berjumpa dengan seorang yang memperturutkan sifat pelit, mengumbar hawa nafsu, mengutamakan dunia dan selalu membanggakan pendapatnya sendiri, maka selamatkan dirimu. (HR Abu Daud)

Ibnu Mas’ud ra. menasihatkan, “Kehancuran seseorang apabila melakukan dua perkara, yaitu putus asa dan suka membanggakan diri.”

Ibnu Juraij berpesan, “Apabila kamu telah mengerjakan perbuatan baik, janganlah kamu katakan telah mengerjakannya.”

Basyar bin Manshur, salah seorang ahli ibadah yang selalu melakukan dzikir dan mengingat kehidupan akhirat, suatu hari melakukan shalat yang sangat lama. Di belakangnya ada seseorang yang melihat dan mengagumi ibadahnya.

Setelah selesai shalat, orang itu pun memujinya. Bashar bin Manshur berkata kepadanya,
“Janganlah kamu kagum atas apa yang telah aku lakukan, karena Iblis telah beribadah bersama-sama malaikat dalam waktu yang sangat lama, akan tetapi sekarang ia menjadi makhluk yang paling dilaknat.”

Daftar Pustaka :

  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006
  • Salim Bahreisy, “Tarjamah Tanbihul Ghafilin (karya Syaikh Abul Laits as-Samarqandi) – Peringatan Bagi Yang Lupa – Jilid 1 dan 2”, PT Bina Ilmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: