Yananto Mihadi

Berilmu Sebelum Berkata dan Berbuat, Upaya Menghilangkan Kebodohan dari Diri Sendiri dan Orang Lain..

Mencantumkan Gelar, Apa Niat Kita? (1 of 3)

Posted by yananto pada Sabtu, 22 November 2008

Oleh: Ahmad Faisol

Terkadang penulis ditanya orang dengan nada dan gaya penuh selidik, “Lulusan mana?”

Setelah dijawab, ternyata masih ada pertanyaan lanjutan, “Jurusan apa?”

Karena pengalaman menjawab “kuesioner” seperti ini, maka biasanya penulis langsung menjawab sekaligus ketika pertanyaan pertama diajukan. Penulis tak hendak sû’uzh zhan, tapi sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap perguruan tinggi atau sekolah mempunyai peringkat (ranking), brand dan reputasi berbeda-beda. Begitu pula setiap jurusan yang ada. Terlebih lagi, masyarakat kita masih memandang adanya perbedaan prestise atau gengsi antara sekolah/kuliah di dalam dan luar negeri.

Kalau kita pada posisi penanya, kira-kira apa tujuan kita bertanya seperti itu? Untuk perkenalankah? Saling memahamikah? Ataukah untuk mengetahui kualitas orang yang kita tanya?


Permasalahan yang mungkin timbul yaitu :

  • Jika orang yang kita tanya ternyata posisinya di bawah kita, dikuatirkan muncul sifat tidak terpuji dalam diri kita. Kita akan meremehkan orang itu, baik dalam ucapan maupun tindakan.
  • Kalau orang tersebut berkualitas di atas kita, dikuatirkan timbul minder dalam diri kita. Akibatnya kita jadi salah tingkah atau malah bicara tidak karuan dengan harapan agar kita dianggap sebagai seorang cerdik-pandai.

Bahkan, tak mau ketinggalan, para orang tua pun sering saling bertanya, “Anakmu sekolah/kuliah di mana? Jurusan apa?”

Selain kebiasaan mengajukan pertanyaan seperti di atas, seringkali kita juga mencantumkan gelar mengiringi nama kita nan indah. Umumnya gelar dibagi menjadi tiga, yaitu :

  • Gelar akademik
    Gelar ini diperoleh lewat jalur pendidikan formal, misalnya diploma, sarjana, pasca sarjana dan sejenisnya.

  • Gelar profesional
    Gelar ini tak terhitung variasinya. Di bidang Teknologi Informasi saja, setiap vendor mengeluarkan gelar. Penulis pernah membaca sebuah buku TI yang ditulis oleh seorang Ph.D dan mempunyai 25 gelar profesional—ada Cisco, Unix Sun Solaris, Microsoft, Novell bahkan Hardware PC A+. Saking banyaknya, akhirnya gelar-gelar tersebut ditulis menurun, bukan mengiringi nama beliau.

  • Gelar kemasyarakatan
    Gelar ini pun bermacam-macam, sebagai contoh Gus, Haji, Raden, Ustadz, Kyai, Syaikh, Ajengan, Tuan Guru, Tengku, al-‘Âlim, al-‘Allâmah, al-Fâdhil, al-Faqîh, al-Hâfizh dan sebagainya.

Barangkali kita akan bertanya, “Apakah salah kalau kita mencantumkan gelar kesarjanaan yang kita peroleh dengan susah payah dan biaya berjuta-juta? Bertahun-tahun kita kuliah, salahkah bila kita senantiasa menulis gelar tersebut sebagai bukti bahwa kita telah berhasil menyelesaikan studi?”

Tidak ada yang salah dengan pencantuman gelar mengiringi nama syahdu kita. Namun, mari kita bersama-sama introspeksi diri, buat apakah pencantuman gelar tersebut?

Apakah kita mencantumkan gelar karena memang disyaratkan demikian, misalnya dalam struktur organisasi perguruan tinggi atau ketika menulis Curriculum Vitae?

Apakah kita mencantumkan gelar sebagai informasi bagi orang lain bahwa kita dapat mempertanggungjawabkan semua tulisan atau perkataan kita?

Ataukah kita mencantumkan gelar agar orang lain tahu bahwa kita pintar, canggih dan hebat? Agar orang lain mengerti bahwa status dan strata sosial kita begitu tinggi? Agar orang lain tidak menganggap kita remeh dan sekaligus harus menghormati kita?

Bukankah kita tak ‘kan pernah melupakan sabda Nabi Muhammad saw. yang begitu sering dituturkan?

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّـيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلٍّ امْرِىءٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya segala amal itu tergantung dari niatnya dan sesungguhnya seseorang akan mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang diniatkannya. (Muttafaq ‘alayh)

Tak usahlah kita menyibukkan diri mengamati orang lain. Mari kita cermati dan introspeksi diri kita sendiri.

KH. Muchit Murtadlo (Surabaya) dan KH. Masrihan (Mojokerto) pernah menasihatkan bahwa seorang kyai tidak boleh menggunakan ke-kyai-annya untuk kepentingan duniawi (pribadi). Misal, seorang kyai berkata kepada santrinya, “Tolong belikan nasi goreng, ya nak… Bilang saja Pak Kyai yang pesan, biar tidak perlu antri…”

Perintah tersebut tak elok didengar, apalagi dilaksanakan. Seorang kyai tak selayaknya menyuruh santri berbuat demikian, walaupun bagi sebagian orang hal ini termasuk kategori wajar dan lumrah. Kenapa? Karena kita seharusnya tidak memandang diri kita tinggi, apalagi minta diperlakukan lebih.

Sebuah kasus lain yang masih ada relevansi dengan inti permasalahan yang sedang dibahas (walaupun menyimpang dari judul) yaitu tentang pemakaian sarung, sebuah perlengkapan ibadah yang lazim digunakan oleh kaum muslim Indonesia dan sekitarnya.

Ada apa dengan sarung?

Biasanya, di sebuah sarung ada bagian yang agak berbeda—lebih gelap atau lebih terang daripada bagian lain—dengan tujuan agar diletakkan di bagian belakang tubuh. Di bagian bawahnya terdapat semacam kain stiker atau tulisan tanda merk. Sejak penulis sekolah, almarhum orang tua penulis mengajarkan agar meletakkan tanda merk sarung di atas (bagian yang dilipat), sehingga tidak terlihat oleh orang lain. Tujuannya untuk menghindari fitnah.

Jika ada orang melihat merk sarung kita, sedangkan orang itu memakai sarung yang lebih mahal, dikuatirkan akan timbul sifat meremehkan di sisi orang itu, dan rendah diri di sisi kita. Namun, jika yang melihat memakai sarung yang merknya berharga lebih murah, dikuatirkan akan menimbulkan iri hati pada yang memandang dan sifat sombong pada diri kita.

Alasan kedua yaitu agar tanda merk tersebut tidak terbaca orang yang sedang shalat di shaf belakang kita. Dengan demikian ketika menundukkan pandangannya ke arah sujud, ia tidak akan terganggu. Oleh karena itu, maka bagian bawah sarung dijadikan bagian atas, begitu pula sebaliknya. Nasihat tersebut penulis jalankan terus sampai sekarang.


Lucunya, ada sarung yang merknya bukanlah stiker atau kain dijahit, melainkan sebuah tulisan dan berada di sisi atas serta bawah sarung. Sungguh kreatif sekali. Dengan begitu, tidak bisa ditentukan mana bagian atas, dan mana bagian bawah. Akhirnya, penulis punya inisiatif sendiri, bagian belakang sarung diletakkan di depan dan dilipat sehingga tidak terlihat. Dengan demikian, yang tampak adalah bagian yang semuanya sama. Bukankah kreativitas harus ditandingi dengan kreativitas pula? :-)

Daftar Pustaka :

  • Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, asy-Syaikh, “Riyâdhush Shâlihîn”
  • Salim Bahreisy, “Tarjamah Riadhus Shalihin I dan II (karya Syaikh Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi)”, PT Alma‘arif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: