Yananto Mihadi

Berilmu Sebelum Berkata dan Berbuat, Upaya Menghilangkan Kebodohan dari Diri Sendiri dan Orang Lain..

Sembilan Energi Positif Mengatasi Kekecewaan di Jalan Da’wah

Posted by yananto pada Minggu, 9 November 2008

Beberapa kisah di bawah ini bukanlah fiktif, namun benar-benar terjadi di dalam perjalanan da’wah yang mendaki lagi sukar,
sebagai sebuah sunnatullah untuk memisahkan orang-orang munafiq dari
barisan orang-orang yang beriman, sebagai seleksi dari Allah Subhanahu wa Ta’ala
untuk membedakan antara loyang dan emas.

Janganlah berpecah belah, kita semua bersaudara.
Janganlah merasa lebih, sesama kita.
Mengapa kau patahkan pedangmu sehingga musuh mampu membobol bentengmu.

Seorang ustadz berkisah tentang dua orang akhwat yang sangat tangguh dan
berkualitas di jalan da’wah. Mereka ada dalam ‘satu kandang’ da’wah.
Namun sangat disayangkan, hal itu justru menimbulkan persaingan da’wah yang
tidak sehat di antara mereka. Futur melanda, situasi “panas” dan akhirnya
seorang dari mereka melepas jilbabnya dan yang lainnya, hengkang dari jalan
da’wah.
Kekecewaan sangat mendalam, hingga berguguranlah mereka dari jalan yang
mulia ini.

“Ana tidak mau ikut-ikut (da’wah –red) lagi, habis adik-adiknya susah
diatur!”, ucap seorang kader senior yang mendapat amanah sebagai mas’ul
sebuah departemen lembaga da’wah. Ia memutuskan untuk tidak mau terlibat
lagi dalam pergerakan da’wah. Ia mengaku kesal, kecewa dan jera dengan
sikap adik-adik kampus yang “bandel” alias tidak taat pada perintahnya dan
sering protes kepadanya. Kini ia berjalan sendiri di tengah dunia hedon, keluar
dari lingkaran da’wah. Ia merasa “menang” dengan tindakannya itu karena
ia beranggapan bahwa dengan demikian, lembaga da’wah telah kehilangan satu
kadernya.

Di sebuah pengajian rutin, dua orang ikhwan dalam kondisi perang dingin.
Bila yang satu datang, yang lain pasti tak mau datang hingga muncul
motto, “Tidak boleh ada dua singa dalam satu kandang.”

Sebab-Sebab Kekecewaan

Tidak ada asap kalau tidak ada api. Kekecewaan dapat muncul karena ada
keinginan yang tidak terpenuhi, tak terpuaskan. Kecewa yang kita
bicarakan adalah kecewa di jalan da’wah. Kekecewaan ini dapat disebabkan oleh
berbagai faktor, dan penyebab kekecewaan yang seringkali terjadi adalah:

Pertama, kekecewaan aktivis karena jengah melihat jurang yang dalam
antara idealisme dan realitas, antara ilmu dan amal. Sebagai contoh, sang
aktivis membaca shirah nabawiyah yang di dalamnya dikisahkan bagaimana indahnya
ukhuwah sang nabi dan para sahabat, pun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
bahwa, “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” Tapi
realitanya, ukhuwah itu tidak ia dapatkan di lapangan, justru sebaliknya.

Kedua, kekecewaan akitivis yang lebih dilandasi hawa nafsu dan tipu daya
syetan, karena tidak tercapainya ambisi pribadi. Contoh ambisi pribadi
itu adalah, ingin menjadi pemimpin, ingin kata-katanya selalu didengar,
ingin pendapatnya harus diterima, pun tidak mau menerima nasehat dari yang ia
anggap “lebih rendah” dan merasa diri paling berjasa dengan motto,
“Kalau bukan karena ane, ngga bakal jalan da’wah ini.”

Ketiga, kekecewaan aktivis karena tidak puas dengan kebijakan-kebijakan
qiyadah (pemimpin), keputusan syuro, kondisi da’wah yang selalu
dibebankan padanya dan manajemen lembaga da’wah.

Feed Back Positif dan Negatif

Tak ada manusia yang tak pernah kecewa karena sesungguhnya kecewa itu
manusiawi. Hanya saja, feed back dari kekecewaan itu berbeda pada diri
setiap orang. Ada orang-orang yang mampu mengatasi dan mengubah
kekecewaan itu dengan energi positif yang konstruktif, namun ada juga orang-orang
yang tidak mampu mengatasinya karena lebih didominasi energi negatif yang
desdruktif.

Kekecewaan tak lagi syar’i bila didasari hawa nafsu, dan bukan atas
dasar kebenaran (al haq). Tak lagi rasional bila kemudian berubah menjadi
kedengkian dan kebencian yang menghancurkan diri sendiri dan memporak-porandakan teman-teman di sekelilingnya, menjadi duri dalam
daging.
Maka motto yang sebaiknya ada dalam diri kita adalah, “Jangan terlalu
banyak menuntut, jadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain.”

9 Energi Positif

Ada sembilan energi postif yang dapat menjadi bahan bakar di dalam jiwa
untuk mengatasi kekecewaan yang melanda, yaitu:

1. Tentara terdepanmu adalah keikhlasan

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas
menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan
kebaikan……..”
(QS. An Nisaa: 125)

Meminjam istilah dari sebuah artikel, Tentara Terdepanmu adalah Keikhlasan. Istilah ini sangat tepat karena memang
keikhlasan adalah garda terdepan kita untuk menghadapi segala rintangan
di jalan da’wah. Keikhlasan membuat kita tak kenal lelah dan tak kenal
henti dalam menyampaikan Al Haq karena tujuan kita hanya satu, Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Jika tujuan kita menyimpang kepada yang sifatnya duniawi, maka
saat tujuan itu tak tercapai, kita akan mudah kecewa dan berbalik ke
belakang.
Bila berda’wah lantaran mengharapkan apa-apa yang ada pada manusia,
berupa penghormatan, penghargaan, pengakuan eksistensi diri, popularitas,
jabatan, pengikut dan pujian, maka hakekatnya kita telah berubah menjadi hamba
manusia, bukan lagi hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kisah yang sangat menarik ketika Khalid bin Walid selaku panglima perang
yang notabene sangat berjasa bagi kaum muslimin, tiba-tiba diturunkan
jabatannya menjadi prajurit biasa, oleh Khalifah Umar bin Khattab. Namun
Umar melakukan itu karena melihat banyaknya kaum muslimin yang
mengelu-elukan kepahlawanan dan cenderung mengkultuskan Khalid, sehingga
Umar khawatir hal itu akan membuat Khalid menjadi ujub (bangga diri),
yang dapat berakibat hilangnya pahala amal-amal Khalid di hadapan Allah
Subhanahu Wa Ta’ala. Dan subhanallah…. , Khalid tidak marah ataupun kecewa karena
jabatannya diturunkan, bahkan ia tetap turut berperang di bawah komando
pimpinan yang baru. Ketika ditanya tentang hal itu, Khalid menjawab
dengan tenang, “Aku berperang karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan karena
Umar. “

2. Harus Tahan Beramal Jama’i
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada Tali (agama) Allah, dan janganlah
kamu bercerai berai……” (QS. Ali Imran: 103)
Beramal jama’i itu jalannya tak selalu datar, ada kalanya mendaki,
karena dalam beramal jama’i, kita akan menemui berbagai macam sifat manusia,
berbagai pemikiran, fitnah dari luar, pun dari dalam. Namun bagaimanapun
buruknya kondisi jamaah, tetap saja amal jama’i itu lebih baik dan lebih
utama daripada sendirian. Ali bin Abi Thalib berkata, “Keruhnya amal
jama’i, lebih aku sukai daripada jernih sendirian.“

Kekuatan utama kita adalah persatuan kaum muslimin. Sesungguhnya kekalahan kita saat ini bukanlah karena kehebatan bersatunya kaum kuffar, tetapi
karena tidak bersatunya kaum muslimin. “Kejahatan yang terorganisir akan
mampu mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir.”

Orang-orang yang memisahkan diri dan lari dari barisan da’wah,sesungguhnya tidak akan membuat barisan da’wah itu melemah atau kehilangan kader,
justru barisan itu akan semakin solid dan kokoh karena mengindikasikan yang tergabung di dalamnya, tinggallah orang-orang yang teruji memiliki jiwa-jiwa pemersatu. Inilah sebuah sunnatullah yang senantiasa berlaku untuk
membedakan antara loyang dan emas. Jadi, kita harus tahan beramal jama’i !

3. Bermanfaat bagi orang lain
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik manusia
adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Qudhy dari Jabir).

Bila kita melihat ukhuwah dalam barisan da’wah ternyata belum seindah
seperti shirah yang kita baca, atau ternyata hijab di lembaga da’wah
amat cair, maka adalah sangat wajar bila kita kecewa. Tetapi kekecewaan itu
janganlah dipelihara, jangan justru membuat kita bersungut-sungut,
menuntut lebih, berkeluh kesah, apatah lagi sampai memisahkan diri dari barisan.
Mari ubah sudut pandang, dan kita tekankan bahwa segala kekurangan yang ada
pada barisan da’wah adalah justru menjadi kewajiban kita untuk membenahinya.
“Jangan banyak menuntut, jadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain.”

4. Penuhi hak sesama muslim
– Saling menasehati. (QS. Al Ashr: 1-3)
Kekurangan dalam diri qiyadah, jundi, lembaga, manajemen, hendaknya
disampaikan dalam bentuk nasehat. Untuk yang sifatnya pribadi – sebagai
adab nasehat- adalah disampaikan tidak dalam forum, tetapi disampaikan
pribadi, berdua saja, dalam rangka saling berpesan untuk nasehat menasehati dalam
menetapi kesabaran. Karena bila kita memberi nasehat dihadapan orang
banyak, maka itu sama saja dengan membuka aibnya dan menjatuhkannya, apalagi
bila sampai melakukan sidang layaknya menghakimi terdakwa. Sangatlah tipis
perbedaan antara orang yang ingin menasehati karena landasan kasih
sayang, dengan orang yang menasehati karena sekaligus ingin membuka aib
saudaranya, sehingga membuat diri yang dinasehati seakan lebih rendah, dari yang
menasehati.

– Lemah lembut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang salah satu
ciri jundullah (tentara Allah), yaitu ”…….yang bersikap lemah lembut terhadap
orang yang mu’min………” (QS. Al Maidah: 54)

– Jangan dengki. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda,
“Takutlah kamu semua akan sifat dengki sebab sesungguhnya dengki itu memakan
segala kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (Riwayat Abu Daud dari Abi
Hurairah)

– Jangan suudzon. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang
yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari
prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan
orang lain………” (QS. Al Hujuurat: 12)

– Berendah Hatilah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan
rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang
beriman.” (QS. An Naml: 215)

– Jangan Berbantahan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “…..dan Janganlah kamu
berbantah-bantahan, yang menjadikan kamu gentar, dan hilang
kekuatanmu…….”(QS. Al Anfaal:46). Berbantah-bantahan sesama kita,
padahal musuh di luar, sudah siap menerkam.

5. Musuh terbesar kita adalah syetan
Musuh kita bukanlah seorang muslim, apatah lagi sesama aktivis. Musuh
terbesar kita adalah iblis dan bala tentaranya. Mereka senantiasa akan
merusak ukhuwah kita dari kiri, kanan, depan, dan belakang (QS. Al
A’raf:17). Hendaknya kita senantiasa ingat akan janji iblis untuk menyesatkan
hamba-hamba- Nya (QS. Al Israa:62). Ini akan menjadi landasan kita untuk
selalu menatap saudara kita dengan penuh kasih sayang karena boleh jadi
saat saudara kita menyakiti kita, adalah lantaran banyaknya syetan di
sekelilingnya yang terus menerus membisikinya untuk membenci kita,
demikian pula sebaliknya, bisa jadi syetan menghembuskan prasangka-prasangka di
dalam benak kita. Maka, mari kita jadikan syetan sebagai musuh bersama.

6. Sukses da’wah bukanlah karena kehebatan kita
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Maka, bukan kamu yang membunuh
mereka,akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka. Dan bukan kamu yang melempar
ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar…” (Al Anfâl: 1)
Ayat ini menyatakan bahwa kemenangan dalam medan peperangan, pun dalam
suksesnya da’wah, bukanlah karena kepintaran kita dalam membuat strategi
da’wah, tetapi tak lebih karena pertolongan dari Allah. Jika tidak, maka
apa bedanya kita dengan Qarun yang berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi
harta itu, karena ilmu yang ada padaku…..” (QS. Al Qashash:78). Dan kita lihat
bagaimana ending kehidupan dari Qarun yang ditenggelamkan Allah Subhnahu
wa Ta’ala ke perut bumi.

7. Mujahid itu teman kita sendiri
Mujahid dan mujahidah itu sesungguhnya ada di sekeliling kita, di dekat
kita. Ya, bisa jadi mereka adalah teman-teman kita sendiri. Maka sangat
aneh bila kita kerap kali menitikkan air mata saat ingat mujahid-mujahid di
Palestina, Iraq, Chechnya, Afghanistan, dan lain-lain, tetapi dengan
saudara-saudara mujahid di sesama lembaga saja, kita tidak bisa
berlapang dada.

8. Ingat Kematian
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah kalian
mengingat mati, sebab seorang hamba yang banyak mengingat mati, maka
Allah akan menghidupkan hatinya, dan Allah akan meringankan baginya rasa sakit
saat kematian.”

9. Doakan di shalat malam kita
Doa adalah senjata orang-orang beriman dan bila kita mendoakan saudara
muslim kita tanpa sepengetahuannya, maka para malaikat akan berkata,
“untuk kamu juga…”. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda, “Tidak
seorang Muslim pun mendoakan kebaikkan bagi saudaranya sesama Muslim yang
berjauhan melainkan malaikat mendoakannya pula. Mudah-mudahan engkau beroleh
kebaikkan pula.” (HR. Muslim)

Penutup
Menyatakan diri sebagai orang beriman, sebagai seorang du’at (pengemban
da’wah), sebagai seorang aktivis da’wah, sesungguhnya mengandung
konsekuensi yang tidak ringan. Yaitu kita senantiasa akan mendapat ujian keimanan
dari sang pemilik 99 Al Asmaul Husna. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang
Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara
Kamu………. “ (QS. 9:16). Dan di surat lainnya, “Apakah kamu mengira
kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya
orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan
kesengsaraan serta macam-macam cobaan.” (QS. Al-Baqarah:214)

Tersenyumlah dalam duka dan tenanglah dalam suka. Insya Allah dengan
mengingat sembilan energi positif, akan membuat kita bersabar, dan
enggan berpisah dari jalan da’wah ini. “Dan janganlah kamu bersikap lemah dan
janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang yang paling
tinggi (derajatnya) , jika kamu orang-orang yang beriman. “ (QS. Ali Imran:
139).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: