Yananto Mihadi

Berilmu Sebelum Berkata dan Berbuat, Upaya Menghilangkan Kebodohan dari Diri Sendiri dan Orang Lain..

Al-Qardhawi: Imam Wanita dalam Shalat Jum’at Bid’ah Munkar

Posted by yananto pada Rabu, 22 Oktober 2008

Wadud Sedang Jadi Imam di Oxford

warnaislam.com — Pada Jum’at (17/10) digelar unjuk rasa tepat di sebuah masjid di Oxford, Inggris, yang menyelenggarakan shalat Jum’at dengan imam Amina Wadud, profesor wanita Islamic Studi dari Universitas Barkley di California AS.

Wadud menjadi imam shalat Jum’at dengan belasan makmun yang terdiri laki-laki dan wanita. Usai shalat Jum’at, wanita yang juga penulis itu rencananya akan memberikan kuliah umum tentang Islam dan Wanita di Universitas Oxford. Demikian seperti dilansir Mafkarah Al-Islaam, Sabtu (18/10).
Dalam aksi protes itu Muslim Inggris mengatakan bahwa imam wanita dalam shalat yang makmumnya wanita dan laki-laki adalah terlarang dalam Syariat Islam. “Saya yakin bahwa pelaksanaan ibadah baik itu dalam Islam maupun agama-agama lainnya sejatinya sesuai dengan petunjuk kewajiban tuhan. Sesuai dengan pengetahuan saya bahwa wanita tak bisa menjadi imam shalat, sesuai dengan dalil-dalil syariat, dan itu di semua masjid-masjid kami di semua benua,” papar Mkhtar Badri, Deputi Organisasi Islam Inggris.
Untuk diketahui Wadud bukan kali ini bebuat nyeleneh dengan menjadi imam shalat Jum’at. Dua tahun sebelumnya Wadud pernah menjadi imam shalat Jum’at dengan makmun laki-laki dan wanita di dalam sebuah gereja di AS. Pasalnya, ketika itu tak ada satu pun masjid di AS menerima gagasan anehnya itu.
Saat itu Dr Yusuf Al-Qardhawi melontarkan kritikan keras atas ulah Wadud dengan menyebutnya sebagai bidah munkar. “Tidak pernah dikenal dalam sepanjang sejarah Islam selama 14 abad bahwa wanita menjadi khatib Jum’at dan mengimami laki-laki,” ujar pakar fiqih yang tinggal di Qatar itu.
Dikatakan Al-Qardhawi bahwa ulah seperti wadud itu juga tidak pernah ada sekalipun di sebuah wilayah yang dipimpin seorang wanita seperti Syajarah Ad-Durr di Mesir Mamlukiyyah, di mana saat itu ia tidak pernah menjadi khatib atau mengimami laki-laki, dan ini menunjukkan bahwa ketidakbolehan wanita menjadi khatib sekaligus imam merupakan ijma dan kesepakatan para ulama.

Sumber: http://www.warnaislam.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: