Yananto Mihadi

Berilmu Sebelum Berkata dan Berbuat, Upaya Menghilangkan Kebodohan dari Diri Sendiri dan Orang Lain..

BEI Revisi Target Obligasi Emiten

Posted by yananto pada Senin, 6 Oktober 2008

Bursa Efek Indonesia (BEI) memangkas target surat utang (obligasi) korporasi hingga akhir tahun 2008 menjadi Rp15 triliun dari target semula, sebesar Rp 40 triliun.

Revisi target tersebut dilakukan karena minimnya penerbitan obligasi yang dilakukan emiten. Hingga saat ini otoritas bursa belum menerima pengajuan izin obligasi baru perusahaan terbuka yang terdaftar di BEI.

“Target obligasi memang kami pangkas karena belum ada emiten yang mengajukan obligasi lagi,” kata Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Erry Firmansyah di Jakarta, belum lama ini.

Dia menambahkan, penurunan minat penerbitan obligasi dipicu oleh kenaikan bunga obligasi, sementara suku bunga pinjaman bank sangat kompetitif, sehingga banyak perusahaan yang mengalihkan sumber pendanaannya melalui pinjaman bank.

Sejak Januari-Agustus 2008, nilai emisi obligasi korporasi baru mencapai Rp11,29 triliun, angka ini jauh berkurang dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp24,85 triliun. Sedangkan hingga akhir tahun 2008 nilai emisi obligasi korporasi yang berhasil dicatatkan BEI mencapai Rp31,27 triliun.

Meski nilainya masih sedikit, dan jauh dibanding pencapaian tahun lalu, namun perdagangan obligasi korporasi di pasar sekunder masih mencatat rata-rata harian hingga Rp250 miliar. Kondisi tersebut masih menunjukkan sinyal positif meski rata-rata perdagangan menurun Rp25 miliar dibanding tahun lalu yang mencatat transaksi per hari Rp275 miliar.

“Penurunan perdagangan tahun ini masih normal. Perdagangan turun tapi tidak terlalu tinggi,” kata Direktur Perdagangan Derivatif dan Fix Income, Keanggotaan dan Partisipan BEI Guntur Pasaribu.

Mengantisipasi hal itu, dia menjelaskan, pihaknya memiliki harapan besar pada penerbitan surat utang negara (SUN). SUN yang rutin diterbitkan oleh pemerintah ditargetkan sesuai dengan perencanaan anggaran perencanaan belanja negara (APBN) 2008. Di pasar, perlu diatur masalah permintaan dan persediaan, namun yang penting bagi investor adalah penerbitan SUN yang berkelanjutan serta jaminan tidak gagal bayar (default).

“Investor jangka panjang masih berminat pada SUN. Meski suku bunga deposito tinggi, tapi hal itu tidak untuk jangka panjang,” jelas Guntur.

Dia mengatakan, pihaknya berharap suku bunga (yield) surat utang (obligasi) pemerintah bisa turun menjadi 10 persen dari rata-rata yield 12,5 persen. Ekpektasi tersebut merujuk pada tren kenaikan harga obligasi dan penurunan yield. Pemodal jangka panjang domestik bisa menggunakan tren tersebut sebelum investor asing memborong obligasi ber-yield rendah.

“Kini, rata-rata yield untuk obligasi pemerintah berjangka lima tahun adalah 12,5 persen. Kami menilai, ada tren kenaikan harga obligasi. Kondisi itu merupakan sinyal perbaikan harga obligasi pemerintah,” papar Guntur.

Tahun 2008, perdagangan obligasi baik obligasi yang dikeluarkan pemerintah maupun korporasi di pasar sekunder rata-rata mencapai Rp4 triliun, atau menurun dari 2007 Rp4,2 triliun per hari. Dengan total outstanding obligasi sebesar Rp80 triliun, hingga Agustus 2008.

“Angka Rp4 triliun masih wajar karena perdagangan baru tercatat hingga September 2008. Sedangkan, masih ada sisa tiga bulan lagi hingga akhir tahun. Kami optimistis, masih akan ada kenaikan,” tegas dia.

Selain memangkas target emisi obligasi, Erry juga merevisi target perusahaan baru yang mencatatkan sahamnya di bursa dari 30 menjadi 25 emiten baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: