Yananto Mihadi

Berilmu Sebelum Berkata dan Berbuat, Upaya Menghilangkan Kebodohan dari Diri Sendiri dan Orang Lain..

80% Saham di BEI Tidak Likuid

Posted by yananto pada Senin, 6 Oktober 2008

Sekira 80 persen saham-saham yang dicatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) ternyata tidak likuid.

Direktur utama BEI Erry Firmansyah mengakui, saham emiten tersebut tidak likuid untuk diperdagangkan. Namun, menurutnya, hal itu merupakan sesuatu yang lazim.

“Kalau saham yang likuid 20 persen, itu wajar saja. Dalam perdagangan saham menunjukkan 80 persen likuiditas, kebanyakan pasar modal memang begitu,” tandasnya, saat dihubungi okezone, beberapa waktu lalu.

Menurut Erry, likuiditas saham yang tidak sampai 100 persen juga terjadi di pasar luar negeri, seperti Malaysia dan Amerika Serikat (AS).

Namun, dia menambahkan, bukan berarti BEI membiarkan begitu saja kondisi tersebut. BEI tengah berupaya membantu likuiditas saham-saham second liner dan third liner di lantai bursa.

“Caranya antara lain, dengan penyediaan referensi bagi investor melalui riset bagi emiten-emiten dengan kapitalisasi menengah dan kecil,” tutupnya.

Saham Gorengan Diburu Investor

Sementara itu, saat ini saham yang sedang digoreng sedang ramai diminati para investor. “Saya sih ikut yang lagi ramai aja, kalau mau trading saham gorengan,” kata seorang ibu rumah tangga bernama Chynthia, saat dijumpai okezone, beberapa waktu lalu.

Chyntia adalah salah satu dari sekian banyak investor individu lokal yang setiap hari melakukan online trading. Yang menjadi buruan wanita berusia 30an tahun ini, memang bukan cuma saham-saham bluechip atau saham-saham yang masuk indeks LQ-45 saja.

Apa boleh buat, di tengah-tengah kondisi bursa saham yang sedang lesu ini, sebagian investor kini beralih ke saham-saham ?gurem. “Saya juga sering ikut-ikutan jual-beli saham gorengan,” ujar Chyntia yang mengaku pernah menangguk untung Rp11 juta dalam sehari perdangangan.

Yang dimaksud Chyntia adalah saham-saham dengan kapitalisasi pasar menengah dan kecil. Saham-saham lapis dua dan lapis tiga (second dan third liner) ini kerap tidak likuiditas diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Saham-saham tersebut sering kali bergerak hanya karena diolah pihak tertentu atau akibat informasi yang belum jelas kebenarannya.

Alhasil, harga saham-saham kategori ini bisa tiba-tiba melonjak atau bahkan anjlok dalam sekejap tanpa alasan yang jelas dan kuat. Para investor yang ikut-ikutan bermain saham ini pun bisa mendulang untung mendadak atau sebaliknya, menderita kerugian besar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: