Yananto Mihadi

Berilmu Sebelum Berkata dan Berbuat, Upaya Menghilangkan Kebodohan dari Diri Sendiri dan Orang Lain..

LAILATUR QADAR

Posted by yananto pada Kamis, 25 September 2008

LAILATUR QADAR Keutamaan Lailatul Qadar ini sangat besar karena malam kesaksian turunnya Alquran, mengantarkan orang yang berpegang padanya ke jalan keagungan dan kemuliaan, serta mengangkatnya ke puncak ketinggian dan keabadian. Umat Islam yang selalu mengikuti sunah Rasulullah saw. selangkah demi selangkah tidak perlu mengibarkan bendera atau membangun gapura besar untuk menyambut malam tersebut, tetapi dia hanya perlu berlomba-lomba untuk bangun malam dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala.

Berikut ini, wahai saudaraku, beberapa ayat Alquran dan juga hadis-hadis Nabi yang permanen yang disebutkan berkenaan dengan Lailatul Qadar ini, yang dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Keutamaan Lailatul Qadar

Lailatul Qadar ditetapkan mempunyai nilai yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah SWT berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Alquran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampati terbit fajar.” (Al-Qadr: 1–5).

Pada malam itu semua urusan dipecahkan dengan penuh kebijaksanaan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh kebijaksanaan, yaitu urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya kami adlyg mengutus para rasul, sebagai rahmat dari Rabmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha mendengarlagi MahaMengetahui.” (Ad-Dukhan: 3–6).

2. Waktu Lailatul Qadar

Diriwayatkan dari Nabi saw. bahwa waktu Lailatul Qadar itu jatuh pada malam ke-21, ke-23, ke-25, ke-27, atau ke-29, serta malam terakhir dari bulan Ramadan.

Imam Syafifi rhm. Mengatakan, “Menurut saya, wallahu a’lam, seakan-akan Nabi r. Memberikan jawaban atas apa yang ditanyakan kepada beliau. Ditanyakan kepada beliau, ‘Apakah kita bisa mendapatkannya pada malam anu?’ Beliau menjawab, ‘Capailah Lailatul Qadar itu pada malam anu’.”

Pendapat yang paling rajih adalah pendapat yang menyebutkan bahwa Lailatul Qadar itu jatuh pada malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadan. Hal tersebut telah ditunjukkan oleh hadis Aisyah r.a. yang menceritakan, “Rasulullah selalu bangun pada sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadan seraya berkata, ‘Dapatkanlah (dalam sebuah riwayat disebutkan: carilah) Lailatul Qadar pada malam ganjil dari sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadan. (HR Bukhari dan Muslim).

Jika seorang hamba tidak mampu, jangan sampai tertinggal untuk mengejar tujuh malam terakhir. Hal itu sesuai dengan apa yang diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a., yang bercerita, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang di antara kalian tidak mampu atau lemah, maka hendaklah dia tidak ketinggalan untuk mengejar tujuh malam yang tersisa.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hal itu menafsirkan sabda Rasulullah saw., “Aku melihat pandangan kalian telah lemah. Oleh karena itu, barang siapa yang hendak mencarinya, maka hendaklah dia mencarinya pada tujuh malam terakhir.”

Sebagaimana diketahui dari sunah bahwa pengetahuan mengenai Lailatul Qadar ini tidak diberikan karena manusia saling berselisih. Dari Ubadah bin Ash-Shamit r.a., dia bercerita, “Nabi saw. pernah keluar rumah pada (malam) Lailatul Qadar, lalu ada dua orang muslim yang berselisih, maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya aku keluar untuk memberi tahu kalian mengenai Lailatul Qadar,’ lalu si Fulan dan si Fulan berselisih sehingga pengetahuannya tidak diberikan. Mudah-mudahan hal tersebut lebih baik bagi kalian. Oleh karena itu, carilah pada malam ke-9, ke-7, dan ke-5 (dan dalam riwayat lain disebutkan: pada malam ke-7, ke-9, dan ke-5).” (HR Bukhari).

Peringatan: ada beberapa hadis yang menunjukkan bahwa Lailatul Qadar itu jatuh pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan. Ada juga pendapat lain yang menyebutkan bahwa Lailatur Qadar itu jatuh pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir. Yang pertama bersifat umum, sedangkan pendapat kedua bersifat khusus. Yang khusus didahulukan dari yang bersifat umum. Ada beberapa hadis lain yang menunjukkan bahwa Lailatur Qadar itu jatuh pada tujuh malam yang tersisa, dan yang ini terikat kepada ketidakmampuan dan kelemahan sehingga tidak ada masalah. Di sini hadis-hadis tersebut berkesesuaian dan tidak bertentangan, sepakat dan tidak bertolak belakang.

Ringkas kata bahwa seorang muslim mencari Lailatur Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan, yaitu malam ke-21, ke-23, ke-25, ke-27, atau ke-29. Jika seseorang tidak mampu atau lemah untuk mengejarnya pada malam-malam ganjil terakhir, maka hendaklah dia mengejarnya pada tujuh malam ganjil yang tersisa, yaitu malam ke-25, ke-27, dan ke-29. wallahu a’lam.

3. Bagaimana Seorang Muslim Mendapatkan Lailatul Qadar?

Orang yang diharamkan mendapatkan malam yang penuh berkah itu berarti dia telah diharamkan dari semua kebaikan, dan tidaklah seseorang diharamkan dari kebaikannya, melainkan dia benar-benar merugi. Oleh karena itu, dianjurkan kepada orang muslim yang benar-benar taat kepada Allah untuk menghidupkan Lailatur Qadar dengan penuh keimanan dan penuh harapan akan pahalanya yang besar. Jika dia mengerjakan hal tersebut, niscaya Allah akan memberikan ampunan kepadanya atas dosa-dosa yang lalu. Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa mendirikan ibadah pada (malam Lailatur Qadar dengan penuh keimanan dan harapan akan pahala, maka akan diberikan ampunan kepadanya atas dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Disunahkan untuk membaca doa sekaligus memperbanyaknya. Telah diriwayatkan dari Aisyah r.a., dia bercerita, “Pernah kutanyakan, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pandanganmu jika aku mendapatkan Lailatur Qadar, apa yang mesti aku ucapkan?’ Beliau bersabda, ‘Bacalah: Allaahumma innaka ‘afuwun, tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, yang mencintai maaf. Karena itu, berilah maaf kepadaku)’.” (HR Tirmizi dan Ibnu Majah).

Saudaraku, mudah-mudahan Allah memberi berkah dan petunjuk kepada Anda untuk senantiasa taat kepada-Nya, kini Anda telah mengetahui hakikat Lailatur Qadar ini. Oleh karena itu, berusahalah untuk bangun malam pada sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadan, dan menghidupkannya dengan ibadah serta meninggalkan hubungan suami-istri. Perintahkanlah keluargamu untuk melakukan hal yang sama serta perbanyaklah ketaatan pada malam tersebut.

Dari Aisyah r.a., dia bercerita, “Jika memasuki sepuluh malam terakhir, Nabi memperkuat ikatan kainnya (maksudnya, menghindari campur dengan istri dalam rangka meningkatkan ibdah serta berusaha keras untuk mencari Lailatur Qadar) sambil menghidupkan malam itu serta membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari dan Muslim). Masih dari Aisyah r.a., “Rasulullah berusaha keras pada sepuluh malam terakhir, yang tidak beliau lakukan pada bulan-bulan lainnya.” (HR Muslim).

Oleh: Syekh Salim bin Ied al-Hilali dan Syekh Ali Hasan Ali Abdul Hamid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: