Yananto Mihadi

Berilmu Sebelum Berkata dan Berbuat, Upaya Menghilangkan Kebodohan dari Diri Sendiri dan Orang Lain..

Ummat Nabi Muhammad Sallahu alayhi wasalam

Posted by yananto pada Selasa, 23 September 2008

Bismillahir Rohmaa nirRohim

Grandsyeh (kakek guru) kami, Mawlana Syaikh Nazim qs menceritakan kami kisah ini mengenai Grandsyeh beliau, Abu Ahmad as-Sughuri (semoga Allah meridhai beliau): “Gransyehku tinggal di sebuah desa di Kaukasia. Suatu hari saat beliau sedang berjalan dekat rumahnya, ia melihat seekor kucing menangkap seekor ayam tetangga dan lari bersama ayam tersebut dalam mulutnya. Segera Abu Ahmad (semoga Allah meridhai beliau) berkata, Innalillahi wa inna ilayhi raji’un!’ Ayat ini berasal dari Quran (surat al-Baqarah, 156), dan merupakan sunah untuk mengatakannya ketika kita menemukan hal yang buruk, musibah, atau kesulitan. Arti ayat tersebut, ‘Kepada Allah kepunyaan kita, dan kepadaNya (pula) kita akan kembali!’

“‘Sudah berapa tahun saya tinggal di desa ini?” pikir beliau, ‘namun sampai sekarang, saya belum pernah melihat seekor kucing menyerang seekor ayam. Saya harus meninggalkan desa ini dan orang-orang ini. Tak ada rahmat yang turun ke sini!’

“Beliau melakukan hijrah ke desa yang lain satu setengah jam berjalan di mana beliau tinggal selama sisa hidupnya. Beliau berkata, “Jika tak ada sifat buruk pada orang, semua bunga di pohon-pohon akan berbuah dan tak satupun yang jatuh ke tanah.’

“Apa makna dari kisah ini? Mengapa Abu Ahmad (semoga Allah meridhai beliau) meninggalkan rumahnya karena seekor kucing melahap seekor ayam? Ini karena ia mengetahui bahwa sikap liar dari sifat buruk orang memiliki pengaruh terhadap hewan-hewan mereka. Sifat-sifat buruk orang-orang di desa tersebut mempengaruhi hewan-hewan mereka. Sifat-sifat itu terlihat memiliki dampak yang hingga saat itu, tidak pernah menyerang ayam manapun. Ini tanda yang penting; ketika sifa-sifat orang baik, hal itu terlihat pada hewan-hewan mereka. Ketika sifat-sifat mereka buruk, ada keburukan dan sifat liar dalam hewan-hewan mereka juga.

“Sulaiman (as) pernah bertemu dengan dua ekor anjing yang sedang berkelahi. Karena beliau dianugerahkan mukjizat yang dapat berbicara pada semua mahluk, beliau bertanya pada mereka, ‘apa yang kalian pertengkarkan? Kalian anjing, bukan manusia! Apa yang bisa kalian ambil dari dunia ini sehingga membuat kalian berkelahi?’

“‘Betul, wahai Rasul!’ jawab para anjing, ‘sebagaimana yang engkau bilang. Kita tidak memiliki apapun dari dunia ini. Adalah sifat-sifat buruk majikan kami yang engkau lihat berkelahi di sini!’

“Kamu bisa lihat kualitas ini pada anak-anak juga. Orang-orang yang keras akan memiliki anak-anak yang liar. Sedangkan orang-orang yang lemah lembut akan memiliki anak-anak yang lembut. Oleh karena itu, sifat-sifat baik dan buruk kita memiliki pengaruh yang nyata pada semua yang ada di sekitar kita – keluarga kita, tetangga kita, dan hewan-hewan kita. Kita harus memiliki penglihatan yang baik akan sekeliling kita, bukan kemuraman. Ketika Abu Ahmad (semoga Allah meridhai beliau) melihat kucing itu bertingkah liar, beliau tahu bahwa sifat-sifat orang di desa tersebut tidak baik dan sudah saatnya bagi beliau untuk pergi.

“Juga, sifat-sifat buruk oranglah yang menyebabkan bunga-bunga menjadi layu dan mati tanpa menghasilkan buah, dan serangga yang menempatinya. Di masa kini, berapa banyak obat-obatan dan bahan-bahan kimia dibutuhkan agar membuat sesuatu tumbuh! Bila sifat-sifat orang baik, tidak diperlukan semua hal tersebut. Sekarang adalah abad keduapuluh. Manusia bangga dengan pengetahuan dan teknologi mereka. Namun pada mulanya, sebelum ‘kemajuan’ moderen, manusia menemukan kehidupan lebih mudah. Semua hal yang membuat hidup mudah telah siap dimanfaatkan. Kepuasan itu kini telah hilang. Sekarang tidak mungkin mencari orang-orang yang baik. Di mana-mana sifat-sifat buruk tumbuh.

“Oleh karena itu, kita harus melawan demi menghapus, menyingkirkan, sifat-sifat buruk kita. Semakin banyak kita menyingkirkan sifat buruk kita, kebahagiaan akan semakin banyak muncul pada tempat tersebut. Di masa kini, kebahagiaan tidak muncul. Tempat yang demikian kotor! Di mana-mana ada kekejaman. Kamu tidak bisa menemukan satu tempat untuk berpijak! Dunia ini dipenuhi dengan sifat-sifat liar, berlarian mengejar kekuatan yang demikian untuk mencambuk semua orang. Senjata yang demikian kejam. Ini adalah suatu tanda. Ketika tidak ada rahmat yang turun, ini berarti bahwa tidak ada sifat-sifat baik. Sifat-sifat baik hidup dalam samudra rahmat Allah yang Maha Kuasa. Tanpa keyakinan kepada Tuhan kita, tidak ada sifat-sifat baik dan rahmat terhadap manusia. Dalam hati orang-orang yang tidak beriman kamu tidak bisa menemukan rahmat walaupun sedikit.

“Hari ini,” ujar Syeh Nazim, “sepucuk surat datang kepada saya. Di dalamnya sepotong berita mungkin dari London Daily Telegraph. Di situ tertulis bagaimana Marxisme telah membunuh seratus empat puluh tiga juta orang; enam puluh lima juta di Rusia sejak 1917 hingga 1959; enam puluh tiga juta di Cina! Di tempat lain total seratus empat puluh tiga juta! Karena Marxisme menyangkal semua nabi, semua agama, dan semua hal-hal yang Suci, kamu tidak bisa menemukan rahmat apapun di dalamnya. Orang-orang Marxis tidak memiliki sifat rahmat terhadap orang lain, bahkan tidak terhadap diri mereka sendiri. Tak ada rahmat dalam Marxisme!

“Seperti yang kita katakan,” ulang sang syeh, “sifat-sifat baik hanya hidup dalam samudra rahmat di mana ada keyakinan terhadap Allah yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, kita harus menjaga sifat rahmat dalam hati kita agar tumbuh. Saat sifat rahmatmu tumbuh, kamu akan mendekati Allah. Abu Yazid al-Bistami (semoga Allah menganugerahkan beliau lebih banyak kehormatan) berdoa kepada Tuhannya, “Ya Tuhanku! Engkau punya kekuatan, Engkau bisa melakukan apa saja! Aku memohon agar membuat tubuhku lebih besar dan lebih besar lagi, hingga memenuhi semua NerakaMu, agar tidak ada tempat untuk memasukkan siapapun ke sana! Masukkanlah mereka ke dalam Surga, dan berikanlah aku hukuman!’

“Ketika keimanannu bertambah, sifat rahmatmu bertambah. Semua Aulia memiliki dalam hati mereka samudra rahmat. Wali yang lain berkata, “Ya Tuhanku! Jadikan diriku jembatan di atas Neraka, agar umatMu bisa lewat di atasku menuju Surga!’ Seperti itu. Bila salah satu dari mereka diberikan izin untuk syafaat (perantara) pada Hari Kiamat, mereka tidak akan membiarkan satu orangpun masuk Neraka! Inilah makna Iman. Jika seorang berkata, ‘Saya orang beriman,’ dan dia tidak punya sifat rahmat, dia pembohong. Tanpa rahmat, tak ada iman.

“Samudra rahmat terbesar adalah milik Rasul (saw) kita. Beliau dikirimkan sebagai rahmat bagi seluruh ciptaan, seluruh jagad raya.

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (wahai Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam. Wa ma arsanalka illa rahmatan lil ‘alamin
-Qs. al-Anbiya: 107-

“Setiap orang akan melihat perbuatannya pada Hari Kiamat, apakah mereka akan masuk Surga atau neraka. Maka Allah akan memutuskan. Dia bisa melakukan yang Dia inginkan. Yang Maha Kuasa tidak diharuskan untuk mengampuni atau menghukum. Dia boleh saja, jika Dia mau, mengampuni semua orang.”

“Bagaimana dengan orang dalam al-Quran, Abu Lahab dan istrinya?” Tanya salah satu saudara kami. “Bukankah Allah menjanjikan hukuman bagi mereka?”

“Ayat itu (Surat Lahab) diturunkan hanya sebagai peringatan,” jawab Maulana, “agar orang-orang tidak akan melakukan seperti Abu Lahab. Allah yang Maha Kuasa akan menunjukkan setiap hamba apa yang telah dia lakukan dengan hidupnya pada Hari Kiamat. Namun, Dia Yang Maha Kuasa bebas untuk memberikan rahmat sebagaimana yang Dia inginkan.

“Ummah, umat dari setiap nabi, lebih disayang oleh nabi tersebut dibanding anak terhadap orang tua mereka. Jika kamu mempunyai seratus anak, dan sembilan puluh sembilan ada bersama kamu tapi satu berada dalam penjara, apakah kamu senang? Tidak! Karena salah satu dari mereka menderita hukuman. Meski jika satu dari seribu menderita, hatimu bersama satu yang sedang menderita. Oleh karena itu, Rasul (saw) kita akan berdiri di pintu masuk menuju Surga. Bagaimana bisa beliau merasakan kenikmatan di Surga jika umatnya berada di Neraka! Bagaimana?! Beliau akan berdiri di pintu masuk dan ketika Allah yang Maha Kuasa berkata, “Masuklah, wahai Muhammad! Beliau akan berkata, ‘Ya Tuhanku! Aku tidak bisa masuk sampai umatku masuk.’ Beliau kemudian melihat, ‘satu, dua, tiga, empat…,’ dan kalau ada yang hilang, beliau akan berkata, “Ya Tuhanku! Aku tidak bisa masuk!”

“Maulana, siapakah Ummah itu? Siapa yang termasuk di antara mereka pada Hari Kiamat?”

“Dia yang Maha Kuasa, maha tahu,” jawab sang Syeh. “Jangan khawatir, orang-orang Eropa juga umat beliau. Orang-orang Amerika juga, orang-orang Rusia juga; orang-orang Cina juga, para penganut Hindu juga, ras Negro juga; semua merupakan umat beliau! Rasulullah (saw) bersabda, ‘Jika saya diberikan izin, saya tidak akan membiarkan seorangpun tertinggal!’ Kalian mengerti? Kamu akan pulang ke rumah dengan seratus anak-anakmu, sambil menunggang di atas kuda-kudamu, tiba di pintu istana. Kamu berhenti dan menghitung, ‘Tiga puluh, lima puluh, seratus anak.’

Ketika kamu melihat bahwa mereka semua berada di dalam dengan aman, maka kamu akan menyebrang melewati jembatan, dan menutupnya di belakangmu. Kamu tidak akan meninggalkan satu, dua, atau sepuluh di luar. Tidak! Terutama bila mereka anak-anak kecil. Sang ayah akan datang dan memasukkan anak-anak yang kecil terlebih dahulu ke dalam, dan kemudian dia akan masuk. Betul? Terlalu banyak kabar baik untuk kita. Kita ibarat anak-anak kecil. Tak ada kekhawatiran bagi kita. Kalian anak-anak besar? Masya Allah!”

Wa min Allah at Tawfiq

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: