Yananto Mihadi

Berilmu Sebelum Berkata dan Berbuat, Upaya Menghilangkan Kebodohan dari Diri Sendiri dan Orang Lain..

Perubahan Tidak Bisa Dibeli dengan Uang

Posted by yananto pada Rabu, 13 Agustus 2008

Sepintas mobil pikap itu teronggok di lahan kecil dekat tumpukan sampah. Sambil memandang mobil kecil itu, Hidayat sebagai pengurus Yayasan Rumah Perubahan tersenyum. ”Mobil itu sudah mati,” begitu singkat kata Hidayat. Mati yang dimaksudkan adalah mati surat- suratnya, tetapi masih berjasa bagi masyarakat.

Mobil itu memang masih digunakan keliling setiap hari, dari gang ke gang di Kelurahan Jati Murni, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat. Dipakai keliling bukan untuk jalan-jalan, apalagi kampanye politik, melainkan untuk mengangkut sampah rumahan. Bolak- balik, kata Hidayat, mobil itu ditangkap oleh Satuan Polisi Pamong Praja karena mengangkut sampah.

Latar belakang penangkapan dikarenakan tidak adanya izin mengangkut sampah dari instansi pemerintah. Inisiatif alias maksud baik warga ingin bersih dari sampah justru dikotori oleh perizinan mengangkut sampah, padahal pemerintah sendiri belum tentu bisa cepat mengangkut sampah warga.

Akibatnya, surat kendaraan bolak-balik diperiksa. Karena merasa niat baiknya terusik dan terganggu terus-menerus, Hidayat mengaku tidak mau mengeluarkan uang sepeser hanya demi jalannya kendaraan itu. “Ini bentuk-bentuk pemerasan! Saya jengkel. Saya kasihkan saja surat-surat kendaraan itu. Sampai-sampai saya bilang, kalau kendaraannya mau diambil, ya silakan saja diambil sama sampahnya. Bukan hanya kantor kelurahan atau kecamatan yang bakal bau, tetapi orang sekampung bakal marah karena sampahnya enggak diangkut lagi,” ujar Hidayat.

Maklum, empat mobil miliknya itu merupakan fasilitas penting untuk mengumpulkan sampah yang ada di depan rumah warga. “Jadi, kebayang deh bau busuknya kalau satu hari saja tidak diangkut! “Setiap hari kami mengumpulkan 7,5 ton sampah rumah tangga,” ujar Hidayat.

Menyatukan

Lantas, bagaimana mungkin sampah bisa menyatukan masyarakat? Semua berawal dari ”Rumah Perubahan”. Prinsipnya, perubahan belum tentu menjadikan sesuatu lebih baik. Namun, tanpa perubahan, tidak ada pembaruan, tidak akan ada pula kemajuan!

Pemrakarsa ”Rumah Perubahan”, Rhenald Kasali dan Hidayat, mengaku harus jungkir balik mendekati masyarakat. Ada saja sikap resistensi dari segelintir orang. Dua tahun kecurigaan datang bertubi-tubi karena lahan luas yang mirip rawa- rawa tidak terurus itu tiba-tiba bisa ditata begitu apik.

Rhenald Kasali, pakar pemasaran dari Universitas Indonesia, yang ditemui di ”Rumah Perubahan”, awal Agustus lalu, mengatakan, “Ada yang curiga, jangan-jangan lahan ini dijadikan rumah ibadah agama tertentu. Karena semua ini murni berawal dari niat baik, biarlah fakta yang membuktikan!”

Alhasil, membangun komunitas basis memang harus didekati dengan konsep sederhana. Persoalan mendasarnya adalah sampah. Sampah diolah menjadi biomassa, pupuk kompos, dan magot untuk perikanan. Kini konsep menghidupkan ekonomi rakyat diperluas dengan menciptakan kawasan wisata alam.

Menurut Rhenald, konsep pengolahan sampah terintegrasi dari hulu ke hilir bisa saja diserahkan kepada tenaga profesional. Itu cara gampang. Cuma bermodal uang, tetapi melupakan potensi masyarakat. Namun, hal itu tidak dilakukan karena potensi masyarakat sesungguhnya bisa diandalkan untuk sama-sama berubah. Inilah konsep perubahan. Perubahan tidak bisa dibeli dengan uang.

Untuk mengajak bersih lingkungan, tong-tong sampah yang merupakan bentuk kegiatan tanggung jawab sosial korporat (corporate social responsibility/ CSR) diberikan kepada warga. Tujuannya hanya satu, sampah itu bisa dikumpulkan dengan mudah.

“Pengalaman memang tidak pernah ada di bangku sekolah. Kalau sampah diambil dari bak sampah yang terbuat dari semen, kita membutuhkan waktu enam menit per bak sampah. Di sinilah pengalaman membuktikan, kita hanya butuh lima menit untuk mengangkut sampah dari 10 tong sampah dari 10 rumah warga,” jelas Rhenald.

Dari sampah itulah, pemilahan dilakukan dengan teknologi sederhana. Sebagian sampah organik dijadikan pupuk kompos, sebagian lagi dipadatkan dalam bentuk batangan kecil menjadi briket, mirip briket batu bara. Keuntungan pun bisa diraih warga karena briket ini lebih murah dibandingkan dengan minyak tanah. Ke depan, briket bisa dijual seharga Rp 5.000 per bungkus (isi 5 kilogram).

Sementara itu, sampah nonorganik dikeringkan. Kemudian dipadatkan dalam ukuran tertentu untuk dijadikan biomassa. Lumayan juga, biomassa ini sudah memiliki pasar tersendiri yaitu pabrik semen untuk bahan bakar. Permintaannya sudah mencapai 300 ton per bulan. Tentu, semua orang tidak mau memakan pupuk kompos. Karena itulah, pupuk kompos itu digunakan untuk menyuburkan tanaman hias dan sayur-mayur. Konsep pemasaran menjadi kebutuhan sehingga kelak perkampungan itu akan dilengkapi menjadi pasar hasil pertanian (farmer’s market).

Manfaatkan orang muda

Di dekat tempat pemasaran sayur-mayur, lahan yang semula semak-belukar disulap oleh orang muda kampung menjadi lahan wisata alam. Tren wisata alam terbuka berbentuk outbound menjadi salah satu yang dibidik orang muda. Galam, seorang pemuda di Kelurahan Jati Murni, Kecamatan Pondok Melati, bersama teman-teman sekampungnya menyiapkan lahan yang memiliki ketinggian lebih dari 25 meter.

Tingkat kecuramannya dimanfaatkan untuk mempersiapkan olahraga yang menguji adrenalin, yaitu flying fox. “Ini impian saya. Banyak sekali kita lihat orang suka outbound, tetapi harus mengikuti di luar kota yang jauh. Di sinilah, semua kegiatan lintas alam bisa diperoleh. Dari memancing, menanam padi, menangkap ikan, hingga memandikan kerbau,” tutur Galam.

”Rumah Perubahan” menjadi tidak asing lagi bagi warga Jati Murni. Sampah yang semula menjadi barang-barang yang tidak berguna, kini diubah konsepnya menjadi barang-barang yang sangat berguna. Bahkan, untuk memperoleh sampah yang sudah dipilah-pilah, warung 3R (reduced, reused, dan recycled) mulai diterapkan. Caranya, warung yang dikelola masyarakat dioptimalkan.

Pemilik warung diberikan insentif sejumlah uang. Sekali lagi, uang itu diperoleh dari CSR. Komitmennya, pemilik warung berjualan seperti biasa, tetapi pemilik warung juga harus mau menerima sampah bekas pembungkus makanan dari masyarakat. Setiap sampah bisa ditukar dengan kebutuhan sehari- hari, seperti sabun mandi, mi instan, susu, dan sebagainya.

Dari sinilah, sampah pembungkus makanan yang dipilah-pilah itu dikumpulkan, disatukan, dan siap dijual kembali. Lumayan, sampah itu bisa dijual sekitar Rp 2.000 per kg. Awalnya adalah sampah. Komunitas kecil ini sudah bergerak, membangun komunitas tanpa campur tangan pemerintah! (Stefanus Osa Triyatna)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: