Yananto Mihadi

Berilmu Sebelum Berkata dan Berbuat, Upaya Menghilangkan Kebodohan dari Diri Sendiri dan Orang Lain..

Dasar Keharaman Menggambar Wajah Nabi Muhammad SAW

Posted by yananto pada Sabtu, 9 Agustus 2008

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang ajaran bahwa kita diharamkan untuk menggambar wajah Nabi Muhammad SAW telah tertanam di benak kita sejak kecil. Mungkin kita sendiri juga saat itu tidak tahu, kenapa ya para ulama mengharamkan kita menggambar wajah Nabi yang amat mulia itu?

Padahal orang-orang nasrani boleh menggambar wajah nabi Isa (mereka bilang Yesus), bahkan ada patungnya yang ditempatkan di rumah, gereja atau rumah sakit. Kenapa wajah nabi Muhammad SAW yang katanya bercahaya itu malah disembunyikan?

Memang kalau digambarkan dengan wajah jelek, marah dan sangar seperti buatan kartunis Denmark yang mendadak tersohor, pasti kita tidak setuju. Tapi bagaimana kalau digambarkan dengan wajah yang ganteng, berwibawa, ramah, santun dan enak dilihat, kenapa masih juga dilarang?

Sebenarnya kenapa dan apa himkmah di balik larangan itu?

Untuk menjawab masalah ini memang tidak gampang, walau pun juga tidak terlalu susah.

Sederhananya, wajah nabi Muhamad SAW itu bagian dari ajaran Islam. Sebab kita telah diperintahkan oleh Allah SWT untuk menjadi diri nabi Muhammad SAW sebagai rujukan dan sumber hukum. Bukan terbatas pada perkataan atau perbuatan saja, tetapi termasuk juga ciri-ciri fisik beliau.

Kalau ciri fisik itu kemudian digambarkan lewat coretan lukisan oleh orang yang belum pernah melihat langsung, maka itu adalah kebohongan. Dan kebohongan atas diri nabi Muhammad SAW itu adalah dosa besar, bahkan disediakan neraka kepada orang yang bohong atas diri beliau.

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang berdusta tentang aku secara sengaja, maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di neraka”. (HR Muttafaqun ‘alaihi).

Maka dari itu, melukis wajah beliau SAW adalah sebuah dosa besar bagi kita yang tidak pernah berjumpa dengan diri beliau. Tapi seandainya dahulu ada shahabat nabi yang pernah melukis wajah beliau, dan seandainya saat itu Rasulullah SAW membolehkannya, maka pada hari ini kita boleh saja menggambar wajah beliau, asalkan merujuk pada gambar itu.

Sayangnya, saat beliau SAW hidup, tidak ada seorang pun yang pernah melukis wajahnya, dan juga kamera foto belum lagi ditemukan.

Jadi itulah sebenarnya duduk masalahnya. Dan dengan masalah itu sebenarnya kita harus bangga. Sebab keharaman menggambar wajah nabi SAW justru merupakan bukti otentik betapa Islam sangat menjaga ashalah (originalitas) sumber ajarannya.

Originalitas Islam Yang Agung

Kita tahu bahwa salah satu ciri yang paling mendasar dari agama Islam ini adalah keterpeliharaannya dari segala penyelewengan. Dan masalah penyimpangan dan penyelewengan inilah yang telah bertanggung-jawab atas kehancuran semua agama yang pernah Allah SWT turunkan.

Masih ingat bahwa Allah SWT sudah menurunkan 124.000 nabi dan rasul? Dari sekian banyak nabi itu, tentunya Allah SWt juga menurunkan agama dengan berbagai ajaran dan syariahnya. Tapi ke mana sekarang semua agama itu? Dan apa yang terjadi pada saat agama itu masih berlaku saat itu?

Semua mengalami nasib yang sama dan tragis. Ternyata agama itu kemudian diselewengkan dan digonta-ganti isinya. Bahkan lebih buruk lagi, mereka menulis sendiri dengan tangan mereka, sesuatu yang berasal dari hawa nafsu mereka sendiir, lalu dikatakan bahwa itu adalah firman dan perintah Allah.

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (QS. Al-Baqarah: 75)

Maka ketika Allah SWT menghapus berlakunya semua agama tadi dan menggantinya dengan satu agama saja yaitu agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW, maka salah satu cirinya adalah bahwa agama itu tidak bisa diselewengkan, tidak bisa dipalsukan dan tidak bisa dihapus.

Karena ada dua pilar utama yang abadi yang menjaga sendi-sendi agama itu, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Keduanya telah ditaqdirkan oleh Allah menjadi pondasi dasar yang tidak akan bisa dipalsukan atau hilang.

Dan salah satu bentuk buktinya adalah bahwa boleh dibilang secara ajaib di dalam sejarah Islam telah berkembang sistem kritik hadits. Sistem kritik hadits inilah yang kemudian memastikan apakah klaim tentang diri Rasulullah SAW itu benar atau tidak.

Kalau di dalam agama lain, Kristen misalnya, setiap orang berhak untuk bercerita tentang Yesus begini dan begitu, tanpa dasar dan bukti otentik, maka dalam Islam tidak pernah terjadi hal itu.

Semua orang yang bicara tentang nabi Muhammad SAW baik terkait dengan ucapan maupun perbuatan beliau, bahkan termasuk bentuk fisiknya, harus mendatangkan bukti-bukti otentik sebagai landasan.

Bukti otentik itu haruslah berbentuk rangkaian jalur sanad yang panjang dan bersambung dari dirinya hingga ke diri para shahabat nabi bahkan hingga diri Rasulullah SAW, sebagi sumber utama.

Siapa yang menyampaikan tentang perkataan Rasulullah SAW, atau pun perbuatannya, atau pun bentuk fisik diri beliau, tapi tanpa ada dasar sanad atau jalur periwayatannya, maka sudah disiapkan bagi tempat duduk di dalam api neraka.

Adalah Rasulullah SAW sendiri yang sudah mengancam semua orang agar tidak meriyawatkan apa pun baik tentang perkataan maupun perbuatan, dan termasuk sifat fisik beliau, kecuali dengan kepastian bahwa hal itu memang benar adanya. Bukan karangan, bukan hayalan, bukan pula imajinasi. Bahkan bukan katanya si anu atau si anu.

Kalau pun ada disebutkan katanya si anu dan si anu, maka para anu itu harus dites dulu, apakah mereka itu benar-benar ahli di bidang periwayatan, ataukah mereka para pendusta.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

[Sumber: http://www.eramuslim.com]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: