Yananto Mihadi

Berilmu Sebelum Berkata dan Berbuat, Upaya Menghilangkan Kebodohan dari Diri Sendiri dan Orang Lain..

Ahmadiyah Dibubarkan, Bagaimana dengan Syiah?

Posted by yananto pada Sabtu, 9 Agustus 2008

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kalau bicara sesatnya, sebenarnya gerakan syiah itu sangat beragam. Ada yang aqidahnya masih bisa diterima, namun ada juga yang sudah sangat ekstrim, sampai oleh sesama yang beraliran syiah sendiri pun, mereka dianggap sudah kafir atau murtad.

Kalau kita bicara syiah dalam rubrik ini, maka maksudnya adalah syiah yang sudah terlalu jauh keluar dari aqidah yang benar, aqidah syiah yang kadang jauh lebih sesat dari Ahmadiyah. Bahkan sebagian tokoh yang kami kenal sampai berani mengatakan bahwa Syiah bukan Islam, sama dengan kedudukan Ahmadiyah yang juga bukan Islam.

Tapi kalau pertanyaannya mengapa kita hanya membubarkan Ahmadiyah tapi tidak melakukan hal yang sama kepada Syiah, jawabnya mungkin beragam.

Yang pasti, Syiah boleh dibilang lebih licin dari Ahmadiyah. Barangkali kali karena akar sejarah dan jam terbangnya jauh lebih lama ketimbang Ahmadiyah. Para dedengkot Syiah pandai bermain cantik, mulus dan halus, sehingga protes umat terhadap syiah jarang bisa sampai menggerakkan kegeraman yang akut.

Karena gerakan syiah punya manhaj taqiyah, yaitu pandai menempatkan diri dengan berpura-pura, untuk menutupi jati dirinya. Mungkin pengalaman mereka selama ini mengalami pemberangusan dan penumpasan di berbagai negeri, membuat mereka jadi sangat piawai bermain di wilayah yang abu-abu.

Gerakan syiah jarang mengaku terus terang di depan layar, sehingga menumpas syiah memang bukan perkara sederhana.

Berbeda dengan Ahmadiyah yang dengan terang-terangan menentang dan menantang umat Islam, bikin kantor resmi dan gedung-gedung besar, sementara gerakan syiah bermain dengan jalan yang amat halus. Kita tidak akan pernah tahu seseorang berakidah sesat syiah atau bukan, kecuali setelah kita berbicara panjang lebar, ngobrol ngalor ngidul ke sana-kemari.

Kita juga tidak akan tahu apakah sebuah organisasi atau institusi itu beraliran syiah atau bukan, kecuali kita betul-betul mengenal lembaga itu dan memeriksanya secara teliti.

Gerakan syiah pandai menyusup ke berbagai elemen umat, lewat metode taqiyah. Kadang bermain di kalangan kampus dan mahasiswa, kadang muncul di jamaah pengajian perkantoran, kadang muncul juga di majelis taklim tradisionalis di kampung-kampung.

Shalahuddin Memberantas Syiah

Namun pemberantasan atas akidah sesat syiah sebenarnya bukan barang baru dalam sejarah Islam.

Salah satu tokoh besar dalam sejarah yang punya jasa besar menumpas aqidah sesat syiah adalah Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi (1138-1193 M). Selama ini kita hanya mengenal beliau sebagai pembebas masjid Al-Aqsha di Palestina.

Padahal ada jasa beliau yang jauh lebih besar, yaitu membebaskan Mesir dari para penguasa syiah yang sesat. Sehingga beliau dijuluki sebagai ‘nashirus-sunnah‘, sang pembela ahli sunnah.

Ceritanya, dahulu di masa kejayaan Islam, Mesir pernah dikuasai oleh kalangan syiah. Dinasti mereka bernama Fathimiyah (910 s/d 1171 M).

Jenis syiahnya konon adalah dari kalangan Ismailiyah, salah satu cabang Syi’ah. Pemimpinnya juga para imam Syiah, jadi mereka memiliki kepentingan keagamaan terhadap Isma’iliyyun. Kadang dinasti ini disebut pula dengan Bani Ubaidillah, sesuai dengan nama pendiri dinasti.

Klan ini mengklaim bahwa mereka adalah keturunan dari Nabi Muhammad SAW, dari jalur puteri beliau, Fathimah az-Zahra. Oleh karena itu negeri ini bernama al-Fatimiyyun atau “Fatimiyah.”

Pembersihan atas kesesatan aqidah syiah dilakukan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi lewat pembubaran negara dinasti Fatimiyah. Kekuasaan mereka diganti dengan kekutan baru, Daulah Ayyubuiayh, yang 100% menganut mazhab ahlisunnah wal jamaah.

Bahkan menurut para dosen kami yang asal Mesir, Universitas Al-Azhar yang awalnya didirikan oleh para penguasa Dinasti Fatimiyah, kemudian dibersihkan dari sisa-sisa paham syiah, dengan cara diliburkan selama kurang lebih 17 tahun. Sampai sisa-sisa pengaruh syiah terkikis habis ke akar-akarnya.

Sehingga sekarang ini, Universitas Al-Azhar adalah salah satu corong dakwah ahli sunnah wal jamaah, bukan lagi milik syiah yang sesat.

Banyak ilmuan dan ulama zaman dulu yang dilahirkan Al-Azhar, seperti Ibnu khaldun, Alfarisi, As-Syuyuthi, Al-‘Aini, Al-Khawi, Abdul Lathif Al-Baghdadi, Ibnu Khaliqon, Al-Maqrizi.

Di masa modern ini, nyaris hampir semua ulama adalah jebolan Al-Azhar. Sebut saja misalnya Syeikh Muhammad Abduh, Syeikh Rasyid Ridha, As-Sayyid Sabiq, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Dr. Said Ramadhan Al-Buthi, dan lainnya.

Al-Azhar telah menjadi benteng aqidah umat Islam sepanjang 1.000 tahun usianya.

Di Indonesia, melarang syiah barangkali butuh sosok ulama sekaligus pemimpin kharismatik sekelas seorang Shalahuddin Al-Ayyubi. Sayangnya, kita malah tidak punya tokoh seperti beliau saat ini.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

[Sumber: http://www.eramulim.com]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: