Yananto Mihadi

Berilmu Sebelum Berkata dan Berbuat, Upaya Menghilangkan Kebodohan dari Diri Sendiri dan Orang Lain..

Arsip untuk ‘Tokoh’ Kategori

Bill Gates

Ditulis oleh yananto di/pada Rabu, 10 Desember 2008

William Henry Gates III atau lebih terkenal dengan sebutan Bill Gates, lahir
di Seatle, Washington pada tanggal 28 Oktober 1955. Ayah Bill, Bill Gates
Jr., bekerja di sebuah firma hukum sebagai seorang pengacara dan ibunya,
Mary, adalah seorang mantan guru. Bill adalah anak kedua dari tiga
bersaudara. Sejak kecil Bill mempunyai hobi “hiking”,bahkan hingga kini pun
kegiatan ini masih sering dilakukannya bila ia sedang “berpikir”.

Bill kecil mampu dengan mudah melewati masa sekolah dasar dengan nilai
sangat memuaskan, terutama dalam pelajaran IPA dan Matematika. Mengetahui
hal ini orang tua Bill, kemudian menyekolahkannya di sebuah sekolah swasta
yang terkenal dengan pembinaan akademik yang baik, bernama “LAKESIDE”. Pada
saat itu , Lakeside baru saja membeli sebuah komputer, dan dalam waktu
seminggu, Bill Gates, Paul Allen dan beberapa siswa lainnya (sebagian besar
nantinya menjadi programmer pertama microsoft) sudah menghabiskan semua jam
pelajaran komputer untuk satu tahun.

Kemampuan komputer Bill Gates sudah diakui sejak dia masih bersekolah di
Lakeside. Dimulai dengan meng”hack” komputer sekolah, mengubah jadwal, dan
penempatan siswa. Tahun 1968, Bill Gates, Paul Allen, dan dua hackers
lainnya disewa oleh Computer Center Corp. untuk menjadi tester sistem
keamanan perusahaan tersebut. Sebagai balasan, mereka diberikan kebebasan
untuk menggunakan komputer perusahaan. Menurut Bill saat itu lah mereka
benar- benar dapat “memasuki” komputer. Dan disinilah mereka mulai
mengembangkan kemampuan menuju pembentukan micr*soft, 7 tahun kemudian.

Selanjutnya kemampuan Bill Gates semakin terasah. Pembuatan program sistem
pembayaran untuk Information Science Inc, merupakan bisnis pertamanya.
Kemudian bersama Paul Ellen mendirikan perusahaan pertama mereka yang
disebut Traf-O-Data. Mereka membuat sebuah komputer kecil yang mampu
mengukur aliran lalu lintas. Bekerja sebagai debugger di perusahaan
kontrkator pertahanan TRW, dan sebagai penanggungjawab komputerisasi jadwal
sekolah, melengkapi pengalaman Bill Gates.

Musim gugur 1973, Bill Gates berangkat menuju Harvard University dan
terdaftar sebagai siswa fakultas hukum. Bill mampu dengan baik mengikuti
kuliah, namun sama seperti ketika di SMA, perhatiannya segera beralih ke
komputer. Selama di Harvard, hubungannya dengan Allen tetap dekat. Bill
dikenal sebagai seorang jenius di Harvard. Bahkan salah seorang guru Bill
mengatakan bahwa Bill adalah programmer yang luar biasa jenius, namun
seorang manusia yang menyebalkan.

Desember 1974, saat hendak mengunjungi Bill Gates, Paul Allen membaca
artikel majalah Popular Electronics dengan judul “World`s First
Microcomputer Kit to Rival Commercial Models”. Artikel ini memuat tentang
komputer mikro pertama Altair 9090. Allen kemudian berdiskusi dengan Bill
Gates. Mereka menyadari bahwa era “komputer rumah” akan segera hadir dan
meledak, membuat keberadaan software untuk komputer – komputer tersebut
sangat dibutuhkan. Dan ini merupakan kesempatan besar bagi mereka.

Kemudian dalam beberapa hari, Gates menghubungi perusahaan pembuat Altair,
MITS (Micro Instrumentation and Telemetry Systems). Dia mengatakan bahwa dia
dan Allen, telah membuat BASIC yang dapat digunakan pada Altair. Tentu saja
ini adalah bohong. Bahkan mereka sama sekali belum menulis satu baris kode
pun. MITS, yang tidak mengetahui hal ini, sangat tertarik pada BASIC. Dalam
waktu 8 minggu BASIC telah siap. Allen menuju MITS untuk mempresentasikan
BASIC. Dan walaupun, ini adalah kali pertama bagi Allen dalam mengoperasikan
Altair, ternyata BASIC dapat bekerja dengan sempurna. Setahun kemudian Bill
Gates meninggalkan Harvard dan mendirikan microsoft.

Kisah Bill Gates Meninggalkan Harvard Demi Mengejar Impian

Ketika ia bosan dengan Harvard, Gates melamar pekerjaan-pekerjaan yang
berhubungan dengan komputer di daerah Boston. Gates mendorong Paul Allen
untuk mencoba melamar sebagai pembuat program di Honey-well agar keduanya
dapat melanjutkan impian mereka untuk mendirikan sebuah perusahaan perangkat
lunak.

Pada suatu hari di bulan Desember yang beku, Paul Allen melihat sampul depan
majalah Popular Mechanics, terbitan Januari 1975, yaitu gambar komputer
mikro rakitan baru yang revolusioner MITS Altair 8080 (Komputer kecil ini
menjadi cikal bakal PC di kemudian hari). Kemudian Allen menemui Gates dan
membujuknya bahwa mereka harus mengembangkan sebuah bahasa untuk mesin kecil
sederhana itu. Allen terus mengatakan, Yuk kita dirikan sebuah perusahaan.
Yuk kita lakukan.

Kami sadar bahwa revolusi itu bisa terjadi tanpa kami. Setelah kami membaca
artikel itu, tak diragukan lagi dimana kami akan memfokuskan hidup kami.
Kedua sahabat itu bergegas ke sebuah komputer Harvard untuk menulis sebuah
adaptasi dari program bahasa BASIC. Gates dan Allen percaya bahwa komputer
kecil itu dapat melakukan keajaiban. Dari sana pula mereka mempunyai mimpi,
tersedianya sebuah komputer di setiap meja tulis dan di setiap rumah tangga.

Semangat Allen dan Gates tidak percuma, dan dari sana mereka mendirikan
perusahaan “Microsoft”. Berawal dari komputer kecil itulah yang menjadi mode
dari segala macam komputansi. Dan sekarang bisa Anda lihat bahwa Microsoft
telah benar-benar menjadi bagian dari kebutuhan komputansi di seluruh dunia.
Dan hampir setiap orang mengenal Bill Gates sebagai orang terkaya di dunia
saat ini.

“Orang yang sukses adalah
orang yang memiliki mimpi
dan keyakinan bahwa mimpi itu akan dapat terjadi
berapapun harga yang harus ia bayar…”


Best Regard
Erwin Arianto,SE

Ditulis dalam Internasional, Tokoh | Leave a Comment »

Obamaphoria, Zionis, dan Krisis Global (Tamat)

Ditulis oleh yananto di/pada Rabu, 10 Desember 2008

Euphoria sebagian besar masyarakat dunia, dan tentunya AS, terhadap Obama dengan cepat menghilang menjadi apatisme di hari-hari awal terpilihnya presiden pertama AS berkulit gelap ini. Harapan yang begitu besar akan perubahan, Change, yang menjadi slogan kampanye Obama seketika punah tatkala Obama menunjuk Rahm Emanuel, seorang Zionis-Yahudi Radikal yang memiliki paspor AS dan Israel menjabat sebagai Kepala Staff Gedung Putih.

Kolumnis Nathanel Kapner dalam situs The Real Jew News (10/11) menulis artikel sangat keras terhadap pilihan Obama ini. Tulisannya diberi judul “Mossad Spy to Run The White House”. Dari arsip FBI, Kapner mendapatkan bukti jika Rahm Emanuel yang juga seorang tentara IDF (Israeli Defenses Force) merupakan agen Mossad yang sengjaa diselundupkan ke AS. Benjamin Emanuel, ayah dari Rahm Emanuel, merupakan salah satu tokoh Mossad yang berasal dari kesatuan teroris Irgun, dibawah komando Menachem Begin.

Dalam artikelnya, Kapner mendapatkan arsip FBI dari sejumlah agennya yang antara lain bernama John O’Neil, seorang pejabat FBI bagian Kontra Intelijen. Dalam arsip FBI diketemukan jika Emanuel memang telah lama bercokol di lingkaran elit penguasa Gedung Putih. Dalam masa Bill Clinton, Emanuel inilah yang menjadi penasehat utamanya sekaligus merekrut Monica Lewinsky, seorang Yahudi juga, menjadi agen Mossad dengan nama rahasia ‘Swallow’ untuk merayu dan mendekati Clinton. Kita semua tahu apa yang kemudian terjadi.

Menurut Kapner, dengan naiknya Obama dengan dukungan yang begitu besar dari lobi Zionis Yahudi, sikap politik pemerintah AS tidak akan berubah. “Zionis akan tetap mengontrol Amerika Serikat!” tegasnya. Bahkan dalam banyak artikel kolumnis Barat sendiri, Rahm Emanuel disebut sebagai ‘Rahmbo’, disebabkan sosok Zionis-Yahudi yang satu ini memang sarat dengan catatan kekerasan dan gemar berperang.

Kita semua tentu bisa menebak, dengan seorang Mossad di sampingnya yang mengepalai Gedung Putih, apa yang akan menjadi garis politik dan ekonomi seorang Obama.

Tantangan Pertama

Krisis Keuangan yang tengah mendera AS merupakan ujian pertama bagi Obama. Satu hal yang pasti dilakukan adalah menyelamatkan keuangan AS lewat jalan apa pun yang bisa diambil. Sebab itu, amat mustahil di tengah kesulitan likuiditas yang nyata, Obama akan mengurangi cengkeraman AS atas Irak dan Afghanistan karena di kedua negara tersebut AS telah mendapatkan keuntungan ratusan miliar bahkan bisa jadi triliunan dollar dari sektor migas, militer, kontraktor pembangunan infrastruktur, dan lain-lain.

Amerika merupakan donatur paling utama dalam hal mendukung eksistensi Zionis-Israel di tanah Palestina. Dan Obama sendiri telah berulang-ulang menyatakan akan dengan segenap tenaga dan segenap pikiran untuk melakukan hal apa pun demi menjaga dan melindungi kepentingan Zionis-Israel di dunia. Dalam hal menghadapi krisis keuangan global, adalah sangat logis jika Obama akan mendahulukan kepentingan AS dan juga Israel. Ini juga berarti akan mengorbankan kepentingan negara-negara lain di luar keduanya, apalagi negara terkebelakang seperti Indonesia.

Dengan demikian sudah jelas, slogan ‘Change!’ yang dipakai Obama saat kampanye sebenarnya hanyalah perubahan orang yang akan duduk di kursi kekuasaan AS, yakni dari Bush ke Obama sendiri. Sedang sikap politik dan segalanya tetap tidak berubah-ubah. Obama jelas telah menipu rakyatnya sendiri dan juga menipu dunia. Dalam dunia politik, hal ini adalah sangat biasa. Di Indonesia saja, para politikus juga biasa melakukan hal seperti itu. Semua partai politik ketika berkampanye menyatakan diri sebagai pihak yang paling bersih, paling perduli pada rakyat, paling amanah, namun ketika sudah berkuasa mereka melupakan semuanya. Lima tahun sekali, ritual ‘sunnah Yahudi’ ini terus dilakukan di Indonesia dengan memakan uang rakyat ratusan miliar bahkan hingga triliunan rupiah. Apakah kita akan terus menjadi manusia bodoh? (Tamat/rd)

Ditulis dalam Internasional, Tokoh | Leave a Comment »

Obamaphoria, Zionis, dan Krisis Global (1)

Ditulis oleh yananto di/pada Rabu, 10 Desember 2008

Amerika telah memilih. Barack Hussein Obama akhirnya terpilih sebagai Presiden AS ke-44, setelah dalam pemilu kemarin mengalahkan kandidat dari Partai Republik, Senator John McCain, dengan cukup telak. Obama merupakan presiden kulit hitam pertama di negeri yang mengklaim sebagai pengawal demokrasi dunia.

Kemenangan Obama disambut dengan sangat meriah tidak saja di dalam negeri, namun nyaris di seluruh dunia. Indonesia sebagai negeri di mana Obama pernah beberapa tahun menikmati masa kecilnya pun tidak ketinggalan tenggelam dalam histeria Obamaphoria. Berbagai acara mendukung dan menyambut Obama digelar, dari yang diadakan di pusat-pusat perbelanjaan, hingga di sekolah dasar daerah Menteng, Jakarta Pusat, di mana Obama pernah sekolah kurang dari dua tahun. Bahkan ada yang sampai menggelar acara doa bersama bagi Obama.

Obamaphoria dianggap sesuatu yang wajar, mengingat dunia sudah sedemikian jenuh dengan kesombongan politik luar negeri AS selama delapan tahun terakhir yang dipimpin George Walker Bush. Banyak kalangan, juga tokoh-tokoh Islam, mengharapkan AS bisa berubah di tangan pemimpin yang baru ini. Bahkan ada tokoh di negeri ini yang menyatakan sikap AS akan bisa lebih bersahabat dengan Indonesia, membantu perekonomian Indonesia, karena Obama pernah tinggal di negeri ini, walau sebentar. Harapan seperti ini boleh-boleh saja, walau cenderung utopis.

Kemenangan aktivis kemanusiaan berusia 47 tahun ini juga sebentar lagi bisa saja disabot oleh elit beberapa partai politik di Indonesia dengan menyatakan, “Barack Obama adalah inspirasi munculnya pemimpin muda, di bawah usia 50 tahun, yang sudah saatnya memimpin Indonesia. Berilah kami kesempatan untuk itu!” Orang-orang seperti ini melupakan pelajaran dasar sosiologi yang mengatakan, “Tidak ada kemenangan atau kenikmatan yang bisa diperoleh tanpa perjuangan.”

Melihat dengan Kritis

Reaksi dunia menyambut kemenangan seorang Obama dimana berbagai harapan besar dialamatkan kepadanya patut dilihat dengan kacamata yang jernih dan adil. Apakah benar seorang Obama akan bisa mengubah sifat politik luar negeri AS yang selama ini sangat menguntungkan gerakan Zionisme Internasional, sangat imperialistik, menjadi sikap politik luar negeri yang lebih berkeadilan dan tidak egois.

Jauh-jauh hari, di awal tahun 2000-an, Ustadz Rahmat Abdullah telah memberi tausiyah terkait kepemimpinan di AS. Beliau yang suka sekali dengan fabel atau perumpamaan dengan kisah-kisah binatang dalam tausiyah-tausiyahnya, menyatakan, “Kita tidak bisa terlalu berharap pada perubahan kepemimpinan di AS. Tidak akan pernah ada seorang calon presiden di negeri tersebut yang bisa tampil tanpa membawa restu dari lobi Yahudi yang sangat dominan di AS. Siapa pun presidennya, bahkan jika seekor monyet yang jadi Presiden AS, maka Amerika Serikat akan tetap seperti itu, tidak akan pernah berubah.”

Adalah fakta yang tidak bisa dibantah jika Obama mendapat dukungan dari lobi Zionis-Yahudi AS. Demikian pula dengan John McCain. Dan Obama pun dalam masa kampanyenya telah berkali-kali menyatakan dirinya akan selalu membela dan mengutamakan Zionis-Israel sampai kapan pun.

“Saya berjanji kepada Anda bahwa saya akan melakukan apapun yang saya bisa dalam kapasitas apapun untuk tidak hanya menjamin kemanan Israel tapi juga menjamin bahwa rakyat Israel bisa maju dan makmur dan mewujudkan banyak mimpi yang dibuat 60 tahun lalu,” kata Obama dalam sebuah acara yang disponsori oleh Kedutaan Besar Israel di Washington untuk menghormati hari jadi negara Israel yang ke-60.

Amerika Serikat adalah Israel besar dan Israel adalah Amerika Serikat kecil. Fakta ini sudah diketahui semua pengamat internasional dan dunia akademis. Proses kelahiran negara AS pun sesungguhnya dinisbahkan untuk melayani kepentingan Yahudi Internasional (baca Eramuslim Digest edisi ‘The New Jerusalem: The Secret History of America’). Lobi Yahudi menguasai seluruh sektor vital di AS. Bahkan (alm) Letjend (Pur) ZA. Maulani mencatat jika sejak masa Presiden Bill Clinton, seluruh posisi kunci di Kementerian Luar Negeri AS dipegang oleh Yahudi Radikal laki-laki, di pimpin oleh seorang—satu-satunya—perempuan Yahudi Radikal bernama Madelaine Albright.

Sebab itu, seperti yang telah dikatakan Ust. Rahmat Abdullah, siapa pun presidennya dan sampai kapan pun, AS akan tetap berkiblat dan berkhidmat kepada kepentingan Zionis Internasional. Adalah mustahil mengharapkan AS bisa bersahabat secara murni dengan Dunia Islam. Kenyataannya malah banyak raja dan bangsawan Arab yang menjual Islam untuk bisa bersahabat dengan Zionis AS. Hal inilah yang bisa menjelaskan mengapa resto McDonald’s yang merupakan salah satu perusahaan donatur terbesar Zionis-Israel (silakan klik www.inminds.co.uk) bisa mendirikan gerainya di Tanah Suci Mekkah. Atau mengapa Pangeran Walid dari Saudi bisa menjadi Komisaris dari perusahaan Yahudi bernama City Group. (bersambung/rd)

Ditulis dalam Internasional, Tokoh | Leave a Comment »

Siapa Sebenarnya Suharto (4)

Ditulis oleh yananto di/pada Rabu, 10 Desember 2008

Pada 12 Maret 1967, Jenderal Soeharto dilantik sebagai Presiden RI ke-2. Tiga bulan kemudian, dia membentuk Tim Ahli Ekonomi Kepresidenan yang terdiri dari Prof Dr. Widjojo Nitisastro, Prof. Dr. Ali Wardhana, Prof Dr. Moh. Sadli, Prof Dr. Soemitro Djojohadikusumo, Prof Dr. Subroto, Dr. Emil Salim, Drs. Frans Seda, dan Drs. Radius Prawiro. Seluruhnya pro kapitalisme.

Nopember 1967, Suharto mengirim tim ekonomi ini ke Swiss menemui para CEO Yahudi Internasional. Lahirlah UU PMA 1967 yang sangat menguntungkan imperialis Barat. Prinsip kemandirian ekonomi Indonesia yang dijaga mati-matian Bung Karno, oleh Jenderal Suharto dihabisi dengan menjadikan Indonesia sebagai negara yang sangat tergantung pada Barat sebagai kekuatan kapitalis dunia.

“Indonesia Baru” yang lebih pro-kapitalisme sesungguhnya telah dirancang sejak tahun-tahun 1950-an. David Ransom dalam artikelnya yang populer berjudul “Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia: Kuda Troya Baru dari Universitas-Universitas AS Masuk ke Indonesia” (Ramparts, 1970) memaparkan jika AS menggunakan dua strategi untuk menaklukkan Indonesia, tentu saja dengan menyingkirkan Bung Karno. Pertama, membangun satu kelompok intelektuil yang berpikiran Barat. Dan kedua, membangun satu sel dalam tubuh ketentaraan yang siap bekerjasama dengan AS.

Yang pertama didalangi oleh berbagai yayasan beasiswa seperti Ford Foundation dan Rockeffeler Foundation, juga berbagai universitas ternama AS seperti Berkeley, Harvard, Cornell, dan juga MIT. David Ransom menulis, dua tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI), sebuah partai kecil yang berhaluan sosialis-kanan, yakni Soedjatmoko dan Sumitro Djojohadikusumo menjadi ujung tombak pembentukan jaringan intelektuil pro-Barat di Indonesia. Mereka, demikian Ransom, dibina oleh AS sejak akhir tahun 1949-an.

Sedang tugas kedua dilimpahkan kepada CIA. Salah satu agennya bernama Guy Pauker yang bergabung dengan RAND Corporation mendekati sejumlah perwira tinggi lewat salah seorang yang dikatakan berhasil direkrut CIA, yakni Deputi Dan Seskoad Kol. Soewarto. Dan Intel Achmad Soekendro juga dikenal dekat dengan CIA. Lewat orang inilah, demikian Ransom, komplotan AS, mendekati militer. Suharto adalah murid dari Soewarto di Seskoad.

Di Seskoad inilah para intelektuil binaan AS diberi kesempatan mengajar para perwira. Terbentuklah jalinan kerjasama antara sipil-militer yang pro-AS. Paska tragedi 1965 dan pembantaian  rakyat Indonesia, yang dituduh komunis, dan  kelompok ini mulai membangun ‘Indonesia Baru’. Para doktor ekonomi yang mendapat binaan dari Ford kembali ke Indonesia dan segera bergabung dengan kelompok ini, di antara Emil Salim.

Jenderal Suharto membentuk ­Trium-Virat (pemerintahan bersama tiga kaki) dengan Adam Malik dan Sultan Hamengkubuwono IX. Ransom menulis, “Pada 12 April 1967, Sultan mengumumkan satu pernyataan politik yang amat penting  yakni garis besar  program ekonomi rejim baru itu yang menegaskan mereka akan membawa Indonesia kembali ke pangkuan Imperialis.  Kebijakan  tersebut  ditulis  oleh  Widjojo  dan Sadli.”

Ransom melanjutkan, “Dalam merinci lebih lanjut program ekonomi yang baru saja di  gariskan Sultan, para teknokrat dibimbing oleh AS. Saat Widjojo kebingungan menyusun  program stabilisasi ekonomi, AID mendatangkan David Cole, ekonom Harvard yang baru saja membuat regulasi perbankan di Korea Selatan untuk membantu Widjojo. Sadli juga sama, meski sudah doktor, tapi masih memerlukan “bimbingan”. Menurut seorang pegawai Kedubes AS, “Sadli benar-benar tidak tahu bagaimana seharusnya membuat suatu regulasi Penanaman Modal Asing. Dia harus mendapatkan banyak dari Kedutaan Besar Amerika Serikat.

Ini merupakan tahap awal dari program Rancangan Pembangunan Lima Tahunan (Repelita) Suharto, yang disusun oleh para ekonom Indonesia didikan AS, yang masih secara langsung dimbing oleh para ekonom AS sendiri dengan kerjasama dari berbagai yayasan yang ada.

Juni 1968, Jenderal Suharto secara diam-diam dan mendadak mengadakan  reuni dengan orang-orang binaan Ford, yang dikenal sebagai “Mafia Berkeley” (untuk merancangkan susunan Kabinet Pembangunan dan badan-badan penting tingkat tinggi lainnya): sebagai Menteri Perdagangan ditunjuk Dekan FEUI Sumitro Djojohadikusumo (Doctor of Philosophy dari Rotterdam), Ketua BPPN ditunjuk Widjojo Nitisastro (Doctor of Philosophy Berkeley, 1961), Wakil  Ketua BPN ditunjuk Emil Salim (Doctor of Philosophy, Berkeley, 1964 ), Dirjen Pemasaran dan Perdagangan ditunjuk Subroto (Doctor of Philosophy dari Harvard, 1964), Menteri Keuangan ditunjuk Ali Wardhana (Doctor of Philosophy, Berkeley, 1962), Ketua Team PMA Moh. Sadli (Master of Science, MIT, 1956), Sekjen Departemen  Perindustrian ditunjuk Barli Halim (MBA Berkeley,  1959), sedang Sudjatmoko, penasehat Adam Malik, diangkat jadi Duta Besar di Washington, posisi kunci poros Jakarta-Washington.

Tim ekonomi “Indonesia Baru” ini bekeja dengan arahan langsung dari Tim Studi Pembangunan Harvard (Development Advisory Service, DAS) yang dibiayai Ford Foundation. “Kita bekerja di belakang layar,” aku Wakil Direktur DAS Lister Gordon. AS segera memback-up penguasa baru ini dengan segenap daya sehingga stabilitas ekonomi Indonesia yang sengaja dirusak oleh AS pada masa sebelum 1965 bisa sedikit demi sedikit dipulihkan.

Mereka inilah yang berada dibelakang Repelita yang mulai dijalankan pada awal 1969,  dengan mengutamakan penanaman modal asing dan swasembada hasil pertanian. Dalam banyak kasus, pejabat birokrasi pusat mengandalkan pejabat militer di daerah-daerah  untuk mengawasi kelancaran program Ford ini.

Mereka bekerjasama dengan para tokoh daerah yang terdiri dari para tuan tanah dan pejabat administratif. Terbentuklah kelompok baru di daerah-daerah yang bekerja untuk memperkaya diri dan keluarganya. Mereka, kelompok pusat dan kelompok daerah, bersimbiosis-mutualisme. Mereka juga  menindas para petani yang bekerja di lapangan.(bersambung/rd)

Ditulis dalam Nasional, Tokoh | Leave a Comment »

Siapa Sebenarnya Suharto? (3)

Ditulis oleh yananto di/pada Rabu, 10 Desember 2008

Pasca Perang Dunia II, AS melihat Rusia sebagai satu-satunya pihak yang bisa menghalangi hegemoninya atas dunia. Diluncurkanlah Marshall Plan sebagai upaya membendung pengaruh komunisme yang kian lama kian meluas, dari Eropa Timur ke arah Asia selatan, sebuah wilayah yang sangat strategis dari sisi perdagangan dunia dan geopolitik, juga sangat kaya dengan sumber daya alam dan juga manusianya. AS sangat cemas jika wilayah tersebut dikuasai Soviet. Dari semua negeri di wilayah itu, Indonesia-lah negara yang paling strategis dan paling kaya. AS sangat paham akan hal ini, sebab itu di wilayah ini Indonesia merupakan satu-satunya wilayah yang disebut dalam Marshall Plan.

Namun untuk menundukkan Indonesia, AS jelas kesulitan karena negeri ini tengah dipimpin oleh seorang yang sukar diatur, cerdas, dan licin. Dialah Bung Karno. Tiada jalan lain, orang ini harus ditumbangkan, dengan berbagai cara. Sejarah telah mencatat dengan baik bagaimana CIA ikut terlibat langsung berbagai pemberontakan terhadap kekuasaan Bung Karno. CIA juga membina kader-kadernya di bidang pendidikan (yang nantinya melahirkan Mafia Berkeley), mendekati dan menunggangi partai politik demi kepentingannya (antara lain lewat PSI), membina sel binaannya di ketentaraan (local army friend) dan sebagainya. Setelah berkali-kali gagal mendongkel Bung Karno dan bahkan sampai hendak membunuhnya, akhirnya pada paruh akhir 1965, Bung Karno berhasil disingkirkan.

Setelah peristiwa 1 Oktober 1965, secara de facto, Jenderal Suharto mengendalikan negeri ini. Pekan ketiga sampai dengan awal 1966, Jenderal Suharto menugaskan para kaki tangannya membantai mungkin jumlahnya mencapai jutaan orang. Mereka yang dibunuh adalah orang-orang yag dituduh kader atau simpatisan komunis (PKI),  tanpa melewati proses pengadilan yang fair. Media internasional bungkam terhadap kejahatan kemanusiaan yang melebihi kejahatan rezim Polpot di Kamboja ini, karena memang AS sangat diuntungkan.

Jatuhnya Bung Karno dan naiknya Jenderal Suharto dirayakan dengan penuh suka cita oleh Washington. Bahkan Presiden Nixon menyebutnya sebagai “Hadiah terbesar dari Asia Tenggara”. Satu negeri dengan wilayah yang sangat strategis, kaya raya dengan sumber daya alam, segenap bahan tambang, dan sebagainya ini telah berhasil dikuasai dan dalam waktu singkat akan dijadikan ‘sapi perahan’ bagi kejayaan imperialisme Barat.

Benar saja, Nopember 1967, Jenderal Suharto menugaskan satu tim ekonom pro-AS menemui para ’bos’ Yahudi Internasional di Swiss. Disertasi Doktoral Brad Sampson, dari Northwestern University AS menelusuri fakta sejarah Indonesia di awal Orde Baru. Prof. Jeffrey Winters diangkat sebagai promotornya. Indonesianis asal Australia, John Pilger dalam The New Rulers of The World, mengutip Sampson dan menulis:

“Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’ (istilah pemerintah AS untuk Indonesia setelah Bung Karno jatuh dan digantikan oleh Soeharto), maka hasil tangkapannya itu dibagi-bagi. The Time Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa, Swiss, yang dalam waktu tiga hari membahas strategi pengambil-alihan Indonesia.

Para pesertanya terdiri dari seluruh kapitalis yang paling berpengaruh di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel, ICI, Leman Brothers, Asian Development Bank, Chase Manhattan, dan sebagainya.”

Di seberang meja, duduk orang-orang Soeharto yang oleh Rockefeller dan pengusaha-pengusaha Yahudi lainnya disebut sebagai ‘ekonom-ekonom Indonesia yang korup’.

“Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengan sebutan ‘The Berkeley Mafia’ karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikannya yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya. Tim Ekonomi Indonesia menawarkan: tenaga buruh yang banyak dan murah, cadangan dan sumber daya alam yang melimpah, dan pasar yang besar.”

Masih dalam kutipan John Pilger, “Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi sektor demi sektor.” Prof. Jeffrey Winters menyebutnya, “Ini dilakukan dengan cara yang amat spektakuler.”

“Mereka membaginya dalam lima seksi: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar satunya, perbankan dan keuangan di kamar yang lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja lainnya, mengatakan, ‘Ini yang kami inginkan, itu yang kami inginkan, ini, ini, dan ini.’ Dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur hukum untuk berinvestasi. Tentunya produk hukum yang sangat menguntungkan mereka. Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri.”

Freeport mendapatkan gunung tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger, pengusaha Yahudi AS, duduk dalam Dewan Komisaris). Sebuah konsorsium Eropa mendapatkan Nikel di Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapatkan bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan Amerika, Jepang, dan Perancis mendapatkan hutan-hutan tropis di Kalimantan, Sumatera, dan Papua Barat.

Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan terburu-buru disodorkan kepada Presiden Soeharto membuat perampokan negara yang direstui pemerintah itu bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Oleh Suharto, rakyat dijejali dengan propaganda pembangunan, Pancasila, dan trickle down effect terhadap peningkatan kesejahteraannya, tapi fakta yang terjadi di lapangan sesungguhnya adalah proses pemiskinan bangsa secara sistematis yang dilakukan rezim Suharto.(bersambung/rd)

Ditulis dalam Nasional, Tokoh | Leave a Comment »

Siapa Sebenarnya Soeharto? (2)

Ditulis oleh yananto di/pada Rabu, 10 Desember 2008

Suharto lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921, dari keluarga petani yang menganut kejawen. Keyakinan keluarganya ini kelak terus dipeliharanya hingga hari tua. Karirnya diawali sebagai karyawan di sebuah bank pedesaan, walau tidak lama.

Dia sempat juga menjadi buruh dan kemudian menempuh karir militer pertama kali sebagai prajurit KNIL yang berada di bawah kesatuan tentara penjajah Belanda. Saat Jepang masuk di tahun 1942, Suharto bergabung dengan PETA.  Ketika Soekarno memproklamirkan kemerdekaan, Soeharto bergabung dengan TKR.

Salah satu ‘prestasi’ kemiliteran Suharto yang sering digembar-gemborkannya semasa dia berkuasa adalah Serangan Umum 1 Maret 1949 atas Yogyakarta. Bahkan ‘prestasi’ ini sengaja difilmkan dengan judul ‘Janur Kuning’ (1979) yang memperlihatkan jika serangan umum itu diprakarsai dan dipimpin langsung oleh Letkol Suharto. Padahal, sesungguhnya serangan umum itu diprakarsai Sultan Hamengkubuwono IX.  Hamengkubuwono IX lah yang memimpin serangan umum melawan Belanda. Hamengkubuwono IX adalah seorang nasionalis yang memiliki perhatian terhadap nasib rakyatnya, karena itu ia tidak mau untuk di jajah. (lihat biografi Sultan Hamengkubuwono IX).

Pada 1959, Suharto yang kala itu menjabat sebagai Pangdam Diponegoro dipecat oleh Nasution dengan tidak hormat karena Suharto telah menggunakan institusi militernya untuk mengumpulkan uang dari perusahaan-perusahaan di Jawa Tengah. Suharto kala itu juga ketahuan ikut kegiatan ilegal berupa penyelundupan gula dan kapuk bersama Bob Hasan dan Liem Sioe Liong.

Untuk memperlancar penyelundupan ini, didirikan prusahaan perkapalan yang dikendalikan Bob Hasan. Konon, dalam menjalankan bisnis haramnya ini, Bob menggunakan kapal-kapal ‘Indonesian Overseas’ milik C.M. Chow. Siapa C.M. Chow ini? Dia adalah agen ganda. Pada 1950 dia menjadi agen rahasia militer Jepang di Shanghai. Tapi dia pun kepanjangan tangan Mao Tse Tung, dalam merekrut Cina perantauan dari orang Jepang ke dalam jaringan komunis Asia.

Pada 1943, Chow ditugasi Jepang ke Jakarta. Ketika Jepang hengkang dari Indonesia, Chow tetap di Jakarta dan membuka usaha perkapalan pertama di negeri ini. Chow bukan saja membina WNI Cina di Jawa Tengah dan Timur, namun juga di Sumatera dan Sulawesi. Salah satu binaannya adalah ayah Eddy Tansil dan Hendra Rahardja yang bermarga Tan. Tan merupakan sleeping agent Mao di Indonesia Timur. Pada pertengahan 1980-an, Hendra Rahardja dan Liem Sioe Liong mendirikan sejumlah pabrik di Fujian, Cina (Siapa Sebenarnya Suharto; Eros Djarot; 2006).

Nasution kala itu sangat marah sehingga ingin memecat Suharto dari AD dan menyeretnya ke Mahkamah Militer, namun atas desakan Gatot Subroto, Suharto dibebaskan dan akhirnya dikirim ke SSKAD (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat). Selain Nasution, Yani juga marah atas ulah Suharto dan di kemudian hari mencoret nama Suharto dari daftar peserta pelatihan di SSKAD, yang mana hal ini membuat Suharto dendam sekali terhadap Yani. Terlebih  Amad Yani adalah anak kesayangan Bung Karno.

Kolonel Pranoto Rekso Samoedro diangkat sebagai Pangdam Diponegoro menggantikan Suharto. Pranoto, sang perwira ’santri’, menarik kembali semua fasilitas milik Kodam Diponegoro yang dipinjamkan Suharto kepada para pengusaha Cina untuk kepentingan pribadinya. Suharto sangat sakit hati dan dendam terhadap Pranoto, juga terhadap Nasution dan Yani.

Di SSKAD, Suharto dicalonkan untuk menjadi Ketua Senat. Namun DI. Panjaitan menolak keras dengan menyatakan dirinya tidak percaya dengan Suharto yang dinilainya tidak bisa dipercaya karena mempunyai banyak catatan kotor dalam kair militernya, antara lain penyelundupan bersama para pengusaha Cina dengan dalih untuk membangun kesatuannya, namun yang terjadi adalah untuk memperkaya dirinya.

Atas kejadian itu Suharto sangat marah. Bertambah lagi dendam Suharto, selain kepada Nasution, Yani, Pranoto, kini Panjaitan. Aneh tapi nyata, dalam peristiwa 1 Oktober 1965, musuh-musuh Suharto—Nasution, Yani, dan Panjaitan—menjadi target pembunuhan, sedangkan Suharto sendiri yang merupakan orang kedua di AD tidak masuk dalam daftar kematian.

Dan ketika Yani terbunuh, Bung Karno mengangkat Pranoto Rekso Samudro sebagai Kepala Staf AD, namun Pranoto dijegal oleh Suharto sehingga Suhartolah yang mengambil-alih kepemimpinan AD, sehingga untuk menghindari pertumpahan darah dan perangsaudara—karena Siliwangi di Jawa Barat (Ibrahim Adjie) dan KKO (Marinir) di Jawa Timur telah bersumpah untuk berada di belakang Soekarno dan jika Soekarno memerintahkan untuk ‘menyapu’ kekuatan Suharto di Jakarta, maka mereka menyatakan siap untuk berperang—maka Soekarno melantik Suharto sebagai Panglima AD pada 14 Oktober 1965. (bersambung/rz)

Ditulis dalam Nasional, Tokoh | Leave a Comment »

Siapa Sebenarnya Suharto?

Ditulis oleh yananto di/pada Rabu, 10 Desember 2008

Bulan November 41 tahun lalu, Jenderal Suharto yang telah sukses mengkudeta Bung Karno, mengirim satu tim ekonomi yang terdiri dari Prof. Sadli, Prof. Soemitro Djoyohadikusumoh, dan sejumlah profesor ekonomi lulusan Berkeley University AS—sebab itu tim ekonomi ini juga disebut sebagai ‘Berkeley Mafia’—ke Swiss. Mereka hendak menggelar pertemuan dengan sejumlah konglomerat Yahudi dunia yang dipimpin Rockefeller.

Di Swiss, sebagaimana bisa dilihat dari film dokumenter karya John Pilger berjudul “The New Ruler of the World’ yang bisa didownload di situs youtube, tim ekonomi suruhan Jenderal Suharto ini menggadaikan seluruh kekayaan alam negeri ini ke hadapan Rockefeler cs. Dengan seenak perutnya, mereka mengkavling-kavling bumi Nusantara dan memberikannya kepada pengusaha-pengusaha Yahudi tersebut. Gunung emas di Papua diserahkan kepada Freeport, ladang minyak di Aceh kepada Exxon, dan sebagainya. Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UU PMA) tahun 1967 pun dirancang di Swiss, menuruti kehendak para pengusaha Yahudi tersebut.

Sampai detik ini, saat Suharto sudah menemui ajal dan dikuburkan di kompleks pemakaman keluarga di dekat Imogiri, di sebuah daratan dengan ketinggian 666 meter di atas permukaan laut (!?), perampokan atas seluruh kekayaan alam negeri ini masih saja terus berjalan dan dikerjakan dengan sangat leluasa oleh berbagai korporasi Yahudi Dunia. Hasilnya bisa kita lihat di mana-mana: angka kemiskinan di negeri ini kian membengkak, kian banyak anak putus sekolah, kian banyak anak-anak kecil berkeliaran di jalan-jalan raya, kian banyak orangtua putus asa dan bunuh diri, kian banyak orang gila berkeliaran di kampung-kampung, kian banyak kriminalitas, kian banyak kasus-kasus korupsi, dan sederet lagi fakta-fakta tak terbantahkan jika negeri ini tengah meluncur ke jurang kehancuran. Suharto adalah dalang dari semua ini.

Tapi siapa sangka, walau sudah banyak sekali buku-buku ilmiah yang ditulis para cendekia dari dalam dan luar negeri tentang betapa bobroknya kinerja pemerintahan di saat Jenderal Suharto berkuasa selama lebih kuarng 32 tahun, dengan jutaan fakta dan dokumen yang tak terbantahkan, namun nama Suharto masih saja dianggap harum oleh sejumlah kalangan. Bahkan ada yang begitu konyol mengusulkan agar sosok yang oleh Bung Karno ini disebut sebagai Jenderal Keras Kepala (Belanda: Koepeg) diberi penghargaan sebagai pahlawan nasional dan diberi gelar guru bangsa. Walau menggelikan, namun hal tersebut adalah fakta.

Sebab itu, tulisan ini berusaha memaparkan apa adanya tentang Jenderal Suharto. Agar setidaknya, mereka yang menganggap Suharto layak diberi gelar guru bangsa atau pun pahlawan nasional, harus bisa bermuhasabah dan melakukan renungan yang lebih dalam, sudah benarkah tindakan tersebut.

Fakta sejarah harus ditegakkan, bersalah atau tidak seorang Suharto harus diputuskan lewat jalan hukum yakni lewat jalur pengadilan. Adalah sangat gegabah menyerukan rakyat ini agar memaafkan dosa-dosa seorang Suharto sebelum kita semua tahu apa saja dosa-dosa Suharto karena dia memang belum pernah diseret ke muka pengadilan.

Tulisan ini akan berupaya memotret perjalanan seorang Suharto, sebelum dan sesudah menjadi presiden. Agar tidak ada lagi pemikiran yang berkata, “Biar Suharto punya salah, tapi dia tetap punya andil besar membangun negara ini. Hasil kerja dan pembangunannya bisa kita rasakan bersama saat ini. Lihat, banyak gedung-gedung megah berdiri di Jakarta, jalan-jalan protokol yang besar dan mulus, jalan tol yang kuat, Taman Mini Indonesia Indah yang murah meriah, dan sebagainya. Jelas, bagaimana pun, Suharto berjasa besar dalam membangun negara ini!”

Atau tidak ada lagi orang yang berkata, “Zaman Suharto lebih enak ketimbang sekarang, harga barang-barang bisa murah, tidak seperti sekarang yang serba mahal. Akan lebih baik kalau kita kembali ke masa Suharto…” Hanya orang-orang Suhartoislah, yang mendapat bagian dari pesta uang panas di zaman Orde Baru dan mungkin juga sekarang, yang berani mengucapkan itu.  Atau kalau tidak, ya bisa jadi, mereka orang-orang yang belum tercerahkan. (rd/bersambung)

Ditulis dalam Nasional, Tokoh | Leave a Comment »

Dr. Musthofa As Sibaai

Ditulis oleh yananto di/pada Sabtu, 15 November 2008

Musthofa
Husni As Sibaai lahir di kota Hims Suriah tahun 1915 dari keluarga
ulama. Ayah dan kakek beliau adalah khotib masjid raya Hims, jabatan
khotib tesebut telah turun temurun semenjak ratusan tahun lamanya. Ayah
beliau Husni As Sibai terkenal sebagai seorang mujahid yang gigih
menentang penjajahan, beliau berjuang dengan harta dan jiwanya dalam
menghadapi penjajahan Perancis.

Sebagaimana halnya beliaupun adalah merupakan penggagas lembaga-lembaga
kebajikan Islam an sosial sehingga hal tersebut cukup mempengaruhi
pertumbuhan dan pendidikan putra beliau Musthofa As Sibaai’. Kehidupan
yang sulit dan keras dalam suasana penjajahan juga mempengaruhi
petumbuhan beliau, terutama memupuk sikap patriotik dan perlawanan
terhadap penjajah dan antek-anteknya.

Semenjak muda Musthofa As Sibaai’ selalu menghadiri majlis ilmu
ayahnya, dan hal tersebut memupuk keulaman dan kefaqihan beliau dalam
menyelesaikan masalah-masalah fiqhiyyah, khususnya fiqih komparatif.
Sehingga dalam waktu yang tidak lama beliau terhitung sebagai ulama
serta faqih, dan hal itulah yang mendorong beliau unyuk terjun langsung
dalam medan jihad dan “islah” reformasi serta memberantas bid’ah.

Dr Musthofa As Sibaai’ menikah di Dimasq, ketika beliau meminang calon
istrinya pihak peminang menginformasikan kepada pihak keluarga wanita
bahwa; Mushtofa As Sibaai adalah seorang aktivis da’wah, dan kebanyakan
waktnya akan tersita untuk kepantingan da’wah. Hal tersebut diungkapkan
agar pihak keluarga wanita memakluminya sebelum pinangan diterima, dan
akhirnya keluarga wanita menerima hal tersebut.

Kehidupan As Sibaai’

Masa kanak-kanak dan pertumbuhan beliau dibawah asuhan orang tuanya
yang dikenal sebagai ulama Hims, beliau senantiasa menghadiri majlis
ilmu ayahnya, bahkan ayahnya selalu mendorong beliau agar mempelajari
ilmu Syariah.

Sibaai’ muda tak sama dengan pemuda-pemuda lainnya, diusia mudanya dia
aktif dengan kegiatan-kegiatan menentang penjajahan. Diusianya yang ke
enambelas (Th 1931) beliau telah mengenyam kehidupan kerangkeng untuk
pertama kalinya, beliau ditangkap oleh penjajah Perancis karena
mengkoordinir kawan-kawannya dalam menyebarkan selebaran yang
mengkritik kebijakan penjajahan Perancis.

Musthofa As Sibaai’ tidak kapok dengan pengalaman pertamanya
dijebloskan ke dalam penjara, beliau ditangkap untuk kedua kalinya oleh
pihak Perancis karena khutbah jumat beliau di mesjid raya Hims dianggap
menggugah ruh jihad dan perjuangan warga Hims melawan penjajah
Perancis.Dalam sejarah perlawanannya menentang penjajahan
Perancis,perjuangan beliau tidak hanya dengan “kalam” belaka tapi
beliau pun memimpin kawan-kawannya mengadakan perlawanan bersenjata
menentang Perancis, seperti terjadi pada tahun 1945.

Tahun 1933 Mushthofa As Sibaai’ melanjutkan pendidikannya di Al Azhar.
Sampai di Mesirpun jiwa kepahlawanannya tidak menyusut, bahkan bersama
shahabat-sahabat Mesirnya beliau ikut serta berunjuk rasa menentang
penjajahan Inggris, demikian halnya ketika sahabat-sahabat Iraknya
mengadakan unjuk rasa menentang penjajahan Inggris beliau tidak
ketinggalan, sehingga beliau ditangkap oleh pemerintah Inggris saat
itu. Tiga bulan beliau meringkuk dalam sel penjara Mesir, Syaik Azhar
saat itu,Musthofa Al Maraghi ikut turun tangan dalam berusaha
mengeluarkan As Sibaai’ dari penjara, tapi kemudian beliau dipindahkan
ke penjara Palestina selama empat bulan lamanya, setelah itu beliau
dibebaskan dengan jaminan.

Musthofa As Sibaai’ selanjutnya tidak diperkenankan kembali ke Mesir,
padahal beliau sedang mempersiapkan disertasi doktornya. Pemeritah
penjajahan Inggris melarang As Sibaai masuk Mesir karena beliau
dianggap sebagai pemicu gerakan anti Inggris, bahkan dianggap sebagai
biang keladi revolusi bangsa Mesir terhadap Inggris. Hal tersebut
terjadi tahun 1940.

Tahun 1949 As Sibaai’ baru dapat mengajukan disertasi doktornya yang
cukup dikenal dikalangan ulama saat ini “As Sunnah Wamakanatuha Fi At
Tasyri’” (Kedudukan Sunnah dalam Syariah* ) As Sibaai’ dengan tesisnya
tersebut mendapat kelulusan dengan suma cumlaude. Dalam tesisnya
tersebut As Sibaai’ menyanggah habis argumen kaum Orientalis tentang
kedudukan AS Sunnah dalam Syariat Islam. Disamping beliaupun menulis
buku khusus tentang orientalis dengan judul “Alistisyraq Wal
Mustasyriqun” Orientalisme dan kaum Orientalis.

Dalam masa pendidikannya di Al Azhar itulah beliau berhubungan dengan
Imam Hasan Al Banna pengasas gerakan Ikhwanul Muslimun. Bahkan hubungan
beliau berlanjut sampai setelah kepulangan beliau ke Suriah. Tahun 1942
berdirilah Ikhwanul Muslimun Suriah dibawah pimpinan beliau. Sehubungan
dengan pendirian Ikhwanul Muslimun Suriah, Hasan Al Banna mengirim
utusan khususnya Dr Said Rhamadhan (menantu Hassan Al Banna) . Di tahun
pertama setelah berdirinya Ikhwanul Muslimun tercatat 100 ribu orang
lebih anggota.

Sebelum dibentuknya Ikhwanul Muslimun Suriah, amal da’wah di Suriah
digerakkan oleh lembaga-lembaga da’wah yeng kemudian bersatu setelah
dibentuknya Ikhwanul Muslimun. Diantara lembaga tersebut adalah;
“Jamiyyah Subbanul Muslimin” Damaskus pimpinan Dr Muhammad Mubarak,
“Darul Arqom”, dan “Jamiyyah Al Ikhwan Muslimun” yang diprakarsai oleh
Assyaikh Mahmud Utsman atas usulan Imam Hasan Al Banna.

Jiwa patriotik dan semangat jihad Dr Musthofa As Sibaai’ menggerakkan
beliau untuk membawa pasukan Ikhwanul Muslimun dalam Jihad Palestina
1948 melawan Zionisme Yahudi bersama pasukan Ikhwan Irak yang dipimpin
oleh Muhammad Mahmud Showwaf dan Ikwan Mesir yang dipimpin oleh
Abdurahman Al Banna, serta Ikhwan Yordania .

Tapi perjuangan Ikhwan yang dilandasi oleh aqidah dan tanggung jawab
atas “Ardul mubarak” di khianati oleh para pemimpin Arab saat itu,
bahkan para mujahid Ikhwan Mesir langsung digiring ke penjara
sesampainya mereka ke tanah air, yang mereka sisakan diluar tahanan
hanya Imam Hasan Al Banna, dan dalam kondisi seperti itulah para musuh
Islam menghabisi Asy Syahid Al Imam, dengan harapan besar bahwa dengan
dihabisinya Al Imam Syahid punah pulalah gerakan da’wah Ikhwanul
Muslimun. “Wamakaru wamakarollah” Mereka berbuat makar dan Allah
membalas makar mereka.

Sepulang dari jihad Palestina, As Sibaai’ tak menghentikan thabiat
jihadnya. Kali ini beliau berjihad dari dalam Suriah sendiri dengan
tulisan dan kalamnya, dengan taujih dan tarbiyyahnya kearah islah dan
membina generasi mujahid dengan manhaj Islami yang benar, mulai dari
pembentukan pribadi yang Islami, keluarga Islami, masyarakat Islami,
dan akhirnya berdirinya Daulah Islamiyyah.

Tahun 1950 Beliau termasuk anggota komisi perumus undang-undang. Dengan
perjuangannya beliau berhasil memberi warna Islami pada rancangan
Undang-undang Suriah dalam pasal-pasal yang sangat esensi, dan berhasil
mengikis usaha sekularisasi UU Suriah

Dr Musthofa As Sibaai’ bersama sahabat-sahabat seperjuangannya berhasil
memperjuangkan masuknya pelajaran pendidikan Islam dalam kurikulum
pendidikan, disamping itu beliaupun berhasil pula membuka jurusan
Syariah di Universitas Suriah (sekarang Universitas Damaskus).

Dr Musthofa As Sibaai’ pun mengusulkan penyusunan ensiklopedia fiqh,
sehingga masalah-masalah fiqhiyyah dapat ditampilkan dalam format baru,
disamping menjawab dan menyelesaikan masalah-masalah kontemporer,
dengan berpedoman kepada Al Quran dan Sunnah serta pendapat-pendapat
Salafush-shoolih. Ensiklopedi tersebut sekarang telah digarap oleh para
ulama muslim terkenal dari seluruh penjuru dunia, sampai saat ini sudah
sampai huruf “qof” dan mencapai 38 jilid dalam format besar.

Dalam dunia Islam Dr Musthofa As Sibaai’ dikenal sebagai seorang tokoh
gerakan Islam yang alim dan faqih. Tahun 1951 beliau sempat menghadiri
mu’tamar Islami yang diadakan di Pakistan, dalam kesempatan tersebut
beliau sempat bertemu dengan tokoh-tokoh dunia Islam.

Tahun 1952 Dr Musthofa As Sibaai meminta agar pemerintah suriah, agar
beliau dan anggota Ikhwan Suriah diizinkan keluar dari Suriah untuk
turut berjihad bahu membahu bersama Ikhwan Mesir dalam menghadapi
Inggris di Terusan Suez. Rupanya permohonan tersebut berakibat fatal,
yang mengakibatkan Ikhwanul Muslimun Suriah dilarang selanjutnya mereka
di selkan dan Dr As Sibaai’ dibuang ke Libanon setelah sebelumnya
dipecat dari Universitas Damaskus. Seperti itulah resiko perjuangan
membela kebenaran. Tapi hikmah Allah dibalik semua itu, di Libanon AS
Sibaai’ justru senantiasa dikerumuni para pemuda, dan itulah cikal
bakal gerakan Islam Libanon “Al Jamaah Al Islamiyyah” yang di dirikan
tahun 1964 dan membuahkan dai’ muharrik kondang Fathi Yakan.

Tahun 1953 Dr Sibaai’ pun sempat menghadiri konfrensi Islam untuk
pembelaan Al Quds yang diadakan di kota Al Quds dan dihadiri oleh
perwakilan Ikhwanul Muslimun dari seluruh negara Arab dan para tokoh
Islam dunia, termasuk saat itu hadir Dr Muhammad Natsir sebagai wakil
Indonesia.

Tahun 1954 para pemimpin Ikhwan bertemu di Libanon dalam mu’tamar Islam
dan Kristen, hadir dalam mu’tamar tersebut Ustadz Hasan Hudaibi
“mursyid” Ikhwanul Muslimun Mesir saat itu, Ustadz Muhammad Mahmud
Showwaf pimpinan Ikhwan Iraq, Ustadz Muhammad Abdurahman Khalifaf
pimpinan Ikhwan Yordania, Ali Tholibullah mewakilli Sudan, dan Abdul
Aziz Mathu’ dari Kuwait serta Dr As Sibaai’ sendiri sebagai pemimpin
Ikhwan Suriah.

Sepulangnya Hasan Hudaibi dari Libanon rezim Jamal Abdul Nasher
menjebloskan mursyid Ikhwan kedua Hasan Hudaibi beserta ikhwan lainnya.
Ikhwanun Muslimin Arab kemudian membentuk “maktab tanfidhi” yang
dipimpin oleh Dr Mushtofa As Sibaai’

Pengaruh Dr Musthofa As Sibaai’ bukan hanya dirasakan oleh para pemuda
Suriah, tapi para pemuda Turki yang menuntut ilmu di Suriah merasakan
pengaruhnya, mereka senantiasa hadir dalam majlis-majlis As Sibaai’,
bahkan hubungan mereka terus berlanjut setelah kepulangan mereka ke
Turki.

Kiprah da’wah Dr As Sibaai’ tidak hanya dalam mimbar dan podium,
beliaupun berkiprah dalam melahirkan majalah mingguan “As Syihab”
bahkan beliau sempat memimpin majalah “AL Muslimun” setelah majalah
tersebut ditutup di Mesir, sampai tahun 1958, kemudian penerbitan
majalah tersebut berpindah ke Swis seiring dengan hijrahnya Dr Said
Ramadhan ke Swis. Bersamaan dengan itu beliaupun menerbitkan majalah
bulanan “Al Hadhoroh Al Islamiyyah” sebagai pengganti Al Muslimun.

Sedangkan tulisan beliau yang dibukukan adalah:

1. Syarah Qonun Al Ahwal Ashshakhsiyyah, 3 jilid

2. As Sunnah Wamakanatuha Fi At Tasyri’, tesis doktornya (sudah diterjemahkan)

3. Al Marah baina Al Fiqhi Wal Qonun (sudah diterjemahkan)

4. Isytirokiyyah Al Islam (Sudah diterjemahkan)

5. As-Sirah An Nabawiyyah Durusun Wa Ibar, buku yang mengilhami para penulis fiqh sirah (sudah diterjemahkan)

Dan banyak lagi karangan beliau yang sarat dengan taujih serta Ilmu.

Aktitas da’wah beliau tak pernah berhenti sampai pada masa sakit beliau
yang berkepanjangan, tubuh beliau lumpuh sebelah selama delapan tahun,
beliau senantiasa shabar menghadapi ujian tersebut, tak pernah
mengeluh, ridho dengan apa yang menimpanya, tahmid, tasbih dan
istighfar senantiasa menghiasi bibirnya siang dan malam. Penyakitnya
sama sekali bukan suatu penghalang bagi dirinya dalam menyampaikan
da’wah.

Dalam salah satu ungkapan As Sibaai kepada shabatnya ” berkata: “Aku
dalam keadaan sakit, jelas aku merasakan sakitnya. Dan andapun dapat
melihatnya dari roman wajahku, dan dari tanganku yang tak dapat
bergerak. Tapi lihatlah keagungan Hikmah Allah dibalik semua itu,
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa mentakdirkan aku menjadi orang yang
lumpuh, dan terbukti sebagian tubuhku lumpuh… Tapi, perhatikan bagian
mana yang lumpuh? Allah telah melumpuhkan bagian tubuhku sebelah kiri,
dan membiarkan bagian tubuh sebelah kanan tetap bergerak. Betapa Agung
Ni’mat Allah yang aku rasakan membiarkan bagian tubuh kananku tetap
bergerak. Dapatkah aku tetap menulis kalau Allah mentakdirkan tubuh
bagian kananku juga mengalami kelumpuhan? “

Subhanallah, bahkan menurut peraksian shahabat-shahabat seperjuangan
beliau, Dr As Sibaai’ sangat giat dan aktif dalam masa sakitnya. Dr
Adib Sholeh shabat dekat beliau berkata: “Sehari sebelum hari wafatnya,
beliau masih sempat menulis tiga tulisan; Al Ulama Al Auliya, Al Ulama
Al Mujahidun dan Al Ulama Asy Syuhada”.

Betapa jauhnya diri kita dari keteladanan beliau dalam meneladani
perjuangan Rasul SAW, betapa jauh perbedaan sikap yang dimiliki oleh
beliau dengan kiprah kita dalam da’wah, bahkan terkadang kewajiban diri
kitapun masih sering terlupakan, bahkan kita masih banyak kurangnya
dari pada lebihnya.

Dr Mushtofa As Sibaai’ menemui Rabbnya pada hari sabtu, 3/10/1964 di
kota kelahirannya Hims setelah melalui perjalanan hidupnya yang penuh
dengan perjuangan dan jihad.Jenazahnya dishalatkan di Damaskus di
mesjid Al Umawi. Ribuan orang turut menyolati jenazahnya, tak lupa para
tokoh gerakan Islam Suriah turut memberi kalimat akhir bagi kepergian
Mujahid besar As Sibaai’, semisal Dr Muhammad Mubarak, Dr Muhammad Adib
Sholeh, Dr Hasan Huwaidi dan tokoh lainnya.

Diantara nashihat beliau dalam buku “Hakadza A’lammatni Al hayaat” adalah

Tentang Istiqomah.

“Istiqomah suatu jalan yang awalnya penuh dengan Karomah, pertengahannya dipenuhi keselamatan, dan ujungnya adalah surga”

Tentang keberhasilan dalam pertempuran di kancah politik

“Hati yang salim, tangan yang bersih, aqidah yang benar, ahlak yang
lurus “istiqomah” … Tapi tidak cukup hanya sekedar itu dalam
menggapai keberhasilan dalam pertempuran di kancah politik, selama
tidak memiliki kecemerlangan berfikir, fleksibel dalam amal, semangat
yang hangat serta memahami problem masyarakat dan thabiat manusia”

Dalam kesempatan lainnya Dr Mushtofa As Sibaai’ mengingatkan kita semua bahwa: Ada dua macam kecintaan yang tak dapat menyatu

Cinta kepada Allah dan cinta kemaksiatan

Cinta akan (Jihad) dan cinta kehidupan

Cinta terhadap pengorbanan dan cinta akan harta

Cinta akan kebenaran “Al haq” dan cinta akan kepemimpinan

Cinta akan perdamaian dan cinta untuk membalas dendam

Cinta akan perbaikan “ishlah” dan cinta akan keselamatan

Cinta terhadap perjuangan dan cinta untuk hidup santai

Cinta akan keadilan dan cinta akan penghambaan

Cinta terhadap rakyat dan cinta terhadap thogut

Cinta untuk berbuat kebaikan dan cinta untuk berbuat curang

Ditulis dalam Tokoh | Leave a Comment »

QURBAN KANG SLAMET

Ditulis oleh yananto di/pada Sabtu, 8 November 2008

QURBAN KANG SLAMET

oleh Jojo Wahyudi

Masih jelas teringat di sedikit ruang hatiku, akan ketulusan seorang Tuna Netra bernama “Slamet”. Saat aku masih sekolah tingkat pertama di SMP Banyumas, Jawa Tengah Kala itu aku memutuskan untuk mencoba tinggal dan sekolah jauh dari orang tua yang berada di Jakarta. Aku tinggal bersama Bude di Desa Wogen, Kaliori Banyumas. Desa kami terletak persis di tepi sungai Serayu, yang kadang airnya hijau dan kadang coklat bila hujan turun.

Sudah menjadi kebiasaan warga desa menjadikan sungai sebagai MCK. Bukan karena malas mandi di sumur, tetapi karena keterbatasan kemampuan warganya untuk membuat sumur yang harganya cukup mahal. Hanya beberapa warga saja yang sanggup membuat sumur di rumah, dan warga yang tak mempunyai sumur akan meminta airnya untuk mengisi gentong persediaan minum dan memasak. Sementara untuk mandi, mencuci dan “membuang sisa olah makanan dalam perut” sudah tentu sungai Serayu tempatnya.

Adalah pemandangan umum, bila pagi hari para lelaki dewasa melakukan kegiatan “ngangsu”(mengambil air) dari sumur tetangga yang mampu. Tidak terkecuali Kang Slamet (begitu panggilan akrab kami untuknya) juga mempunyai kegiatan ngangsu tersebut. Meskipun dia belum lagi dewasa benar, mungkin umurnya hanya terpaut dua/tiga tahun denganku. Sungguh sebuah rutinitas cukup berat, meskipun menyehatkan. Apalagi Kang Slamet tidak seberuntung kami yang mempunyai panca indera yang lengkap. Dengan intuisi dan kebiasaan karena rutin dilakukan, dia dapat pulang pergi dari rumah orang tuanya ke sumur terdekat tanpa pernah tersesat.

Pekerjaan itu sudah dilakoninya semenjak dia berumur sembilan tahun, saat anak-anak sebayanya tertawa gembira pergi ke sekolah. Di kampung kami belum tersedia sekolah khusus tuna netra, kalau pun ada belum tentu Kang Slamet dapat ikut mengenyam pendidikan SLB yang biayanya pasti mahal. Tak akan sanggup keluarga Kang Slamet yang hanya petani “kecil” membayar uang buku, karena untuk makan saja mereka hanya mengandalkan hasil tani dari secuil tanah yang mereka miliki.

Selain ngangsu, keseharian Kang Slamet adalah “ngarit”, mencari rumput untuk pakan ternak. Karena ketekunannya, banyak tetangga yang memelihara sapi atau kambing, memakai jasa beliau mencari rumput dan sisa-sisa panen kacang & kedelai di sawah.

Satu hal yang aku kagum pada sosok pemuda yang satu ini, dia tidak pernah tertinggal sholat lima waktu. Bahkan dilakukannya di tepi sawah saat dia mencari rumput, apabila suara Adzan sudah terdengar. Sering pula dengan berjamaah di Surau milik Pak Lebe (Lebay/Ustadz) .

Satu-satunya pendidikan yang dia dapat hanyalah mengaji di Surau Pak Lebe. Walau dia hanya belajar mengaji melalui pendengaran (lagi-lagi karena Al Qur’an dengan huruf Braile pasti sulit di dapat) tetapi dia cukup hafal surat-surat di Juz Amma, mungkin karena tak pernah absen mengaji dan berkat sholat Subuh berjamaah rutin yang di adakan Pak Lebe di Suraunya, sehingga Kang Slamet banyak mendengar surat-surat yang dibacakan dalam pengajian dan sholat. Tidak jarang Kang Slamet menjadi Imam bila kami anak2 dan remaja sholat berjamaah. Suaranya cukup merdu dan enak di dengar telinga.

Suatu hari, Kang Slamet mendapat kebahagiaan yang tak terperi. Pak Trunosemito, penduduk desa yang punya sedikit kelebihan harta, memberikan cempe (seekor anak kambing) jantan padanya, sebagai ucapan terima kasih atas rumput yang selalu dicarikan kang Slamet untuk kambing-kambing peliharaan. Mata “buta”nya tak dapat menutupi kebahagiaan yang terpancar menyala-nyala dari wajah.

” Ya Gusti Alloh, syukur Alhamdulillah, nek cempene wis gedhe kulo iso melu Qurban, (Syukur Alhamdulillah, kalau anak kambingnya sudah besar, saya bisa ikut Qurban)” dengan keyakinan penuh dia berucap saat kami tanya akan di apakan anak kambing itu.

” Lho…….. apa ora eman-eman, koe iso ngingu, nek wis gedhe iso di dhol neng pasar. Duite iso di tabung (apa tidak sayang, kamu bisa memeliharanya, nanti kalau sudah besar bisa dijual di pasar. Uangnya bisa ditabung)” kami yang berkumpul mendengarkan ucapannya ikut sumbang saran.

” He he he, ora opo opo, nggo Qurban wae (tidak apa-apa, untuk Qurban saja)” sambil tertawa lucu, kang Slamet tetap pada pendiriannya.

Waktu berlalu, kami semua melewatinya dengan rutinitas seperti biasa. Hingga suatu hari tiba musim kemarau yang amat panjang, lain seperti kemarau-kemarau sebelumnya. Sumur milik warga desa satu persatu mulai kering. Semakin jauh saja kami mendapatkan air bersih untuk memasak dan minum. Air di sungai Serayu yang mulai dangkal, meski tampak bening, hanya bisa kami gunakan untuk mandi dan mencuci saja.

Begitu pula tanaman di sawah. Tak satupun yang dapat tumbuh dan mengalahkan teriknya matahari. Para petani di desa kami hanya mengandalkan pengairan dari air hujan (sawah tadah hujan). Semua terkena dampak dari musim paceklik saat itu. Tidak terkecuali Kang Slamet, semakin jauh saja dia “ngangsu” dan “ngarit”, mencari rumput pakan ternak. Melewati jalan setapak yang baru pertama kali di rambah, tentulah bukan hal yang mudah untuk seorang tuna netra. Masih beruntung bila bisa bertemu orang lewat yang bisa di mintai tolong menunjukkan arah menuju sumur yang tidak kering. Keadaan sulit itu semakin sulit saja bagi kang Slamet, kadang hingga Maghrib dia baru bisa pulang ke rumah dengan badan luluh lantak karena seharian memikul air dan rumput yang tidak seberapa banyak, tetapi jarak yang di tempuh cukup untuk mengitari seluruh desa.

Kang Slamet juga manusia, tak selamanya fisiknya dapat tetap bugar melawan putaran perubahan alam. Akhirnya dia tumbang juga, jatuh sakit. Hampir satu minggu dia tidak muncul melakukan rutinitas seperti biasa. Tugas “ngangsu” sementara digantikan oleh sang Bapak yang mulai renta.

Setelah lewat satu minggu, kesehatan kang Slamet belumlah pulih benar, kembali cobaan menghampirinya. Anak kambing peliharaannya yang mulai besar, tiba-tiba mati. Mungkin tertular penyakit hewan musiman, atau bisa jadi mati kekurangan pakan karena memang sudah lebih seminggu ini tak ada yang memperhatikan.

Anak malang itu sedih bukan alang kepalang. Harta satu-satunya yang dia punya diambil oleh Yang Maha Memiliki. Sirna sudah harapan kang Slamet untuk dapat ber-Qurban.

Beberapa hari setelah berita kematian kambingnya, kami melihat kang Slamet terpekur bersimpuh di sudut Surau. Air bening meleleh deras di kedua pipinya.

Kami tak sampai hati untuk menegurnya ataupun mengucapkan sekedar salam. Hingga datang pak Lebe ke Surau saat Ashar tiba. Melihat yang terjadi, dengan tenang beliau menghampiri bocah yang sedang dirundung nestapa itu.

” Ono opo tho Met ? Cah lanang koq nangis ? (Ada apa Met ? Anak laki-laki koq nangis ?)” dengan lembut dan seolah-olah tak tahu kejadian yang terjadi, pak Lebe menepuk pundak kang Slamet.

Kang Slamet tak langsung menjawab, tangan kekarnya berusaha menutupi air mata yang mengalir. Dengan sisa sesenggukan yang ada dia berkata, ” Kulo ora iso Qurban pak, sak umur-umur uripku, wedhus iku sing dhadhi karepku nggo tak persembahke ke Gusti Alloh.(Saya tidak bisa ber-Qurban pak, seumur hidupku, kambing itu yang jadi harapan untuk dipersembahkan pada Gusti Allah)”

” mmmm…….. . Gusti Alloh ngerti kekuatan hamba-hambaNya. Ndak mungkin Gusti Alloh mekso-mekso (memaksa) yen (kalau) hambaNya ndak sanggup.”
dengan sangat tenang dan teduh pak Lebe mengobati kesedihan kang Slamet.

” Jalaran keikhlasan.. ..wedhuse wis ngenteni awakmu ning Syurgo, kanggo tungganganmu ngesuk ning akherat (Karena keikhlasan.. …kambingnya sudah menantimu di Surga, untuk kendaraanmu kelak di akhirat)” kalimat terakhir pak Lebe ini yang tidak bisa ku lupa hingga detik ini.

Kini, aku tidak tahu lagi keberadaan dan kabar kang Slamet, hampir dua puluh sembilan tahun yang lalu peristiwa ini terjadi, aku belum bisa menghilangkan rasa “iri”ku pada sosok pemuda tuna netra dengan keikhlasan yang tanpa batas, menembus akal sehat orang yang bekerja di kota besar seperti diriku saat ini. Yang akan sangat berat melepas sebagian hartanya untuk di qurbankan di jalan Allah, apalagi mempersembahkan seluruh harta yang di miliki untuk Allah sang Pemilik Sesungguhnya seluruh alam dan isinya. Kami pekerja kantoran, yang tidak perlu “ngangsu” beratus-ratus meter dengan telanjang kaki hanya untuk mendapatkan dua ember air, dan tak perlu bertahun-tahun “ngarit” hanya untuk seekor anak kambing, tidak mempunyai keikhlasan yang penuh untuk ber-Qurban di jalanNya.

Kami yang mencari rizqi di tempat luar biasa mewah, di atas gedung tinggi menghujam langit, dengan suasana nyaman, duduk di kursi empuk, lebih memilih
membeli hewan Qurban “patungan” sumbangan perusahaan dari pada menyediakan sendiri Qurban-nya dari harta yang banyak tersimpan.

Kang Slamet pemuda tuna netra dan miskin, seperti kata pak Lebe, sudah memiliki sendiri kendaraan yang akan digunakannya kelak di akhirat. Sedangkan kami yang berkecukupan hanya menyediakan se-ekor sapi untuk kami tunggangi bersama-sama ratusan orang satu kantor.

dari lantai sebelas sebuah gedung tinggi di Sudirman, 06 November 2008
(dipersembahkan untuk Kang Slamet, teman satu desa yang kini entah berada di mana) Aku sangat iri padamu Kang.

http://www.eramuslim.com/oase-iman/qurban-kang-slamet. htm

Ditulis dalam Aqidah-Muamalah, Bahan Tarbiyah, Fiqh, Oase-Iman, Ringan Berbobot, Tokoh | Leave a Comment »

Mengenal Ibnu Taimiyyah, Dai dan Mujahid Besar!

Ditulis oleh yananto di/pada Jumat, 7 November 2008

Tokoh:

Mengenal Ibnu Taimiyyah, Dai dan Mujahid Besar!

Beliau adalah imam, Qudwah, `Alim, Zahid dan Da`i ila Allah, baik dengan kata, tindakan, kesabaran maupun jihadnya; Syaikhul Islam, Mufti Anam, pembela dinullah daan penghidup sunah Rasul shalallahu`alaihi wa sallam yang telah dimatikan oleh banyak orang, Ahmad bin Abdis Salam bin Abdillah bin Al-Khidhir bin Muhammad bin Taimiyah An-Numairy Al-Harrany Ad-Dimasyqy.

Lahir di Harran, salah satu kota induk di Jazirah Arabia yang terletak antara sungai Dajalah (Tigris) dengan Efrat, pada hari Senin 10 Rabiu`ul Awal tahun 661H.

Beliau berhijrah ke Damasyq (Damsyik) bersama orang tua dan keluarganya ketika umurnya masih kecil, disebabkan serbuan tentara Tartar atas negerinyaa. Mereka menempuh perjalanan hijrah pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak besar yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta benda, tanpa ada seekor binatang tunggangan-pun pada mereka.

Suatu saat gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga hampir saja pasukan musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka ber-istighatsah (mengadukan permasalahan) kepada Allah Ta`ala. Akhirnya mereka bersama kitab-kitabnya dapat selamat.

PERTUMBUHAN DAN GHIRAHNYA KEPADA ILMU

Semenjak kecil sudah nampak tanda-tanda kecerdasan pada diri beliau. Begitu tiba di Damsyik beliau segera menghafalkan Al-Qur`an dan mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama, huffazh dan ahli-ahli hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang.

Ketika umur beliau belum mencapai belasan tahun, beliau sudah menguasai ilmu Ushuluddin dan sudah mengalami bidang-bidang tafsir, hadits dan bahasa Arab.

Pada unsur-unsur itu, beliau telah mengkaji musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali, kemudian kitabu-Sittah dan Mu`jam At-Thabarani Al-Kabir.

Suatu kali, ketika beliau masih kanak-kanak pernah ada seorang ulama besar dari Halab (suatu kota lain di Syria sekarang, pen.) yang sengaja datang ke Damasyiq, khusus untuk melihat si bocah bernama Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, beliaupun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya. Hingga ulama tersebut berkata: Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah seperti dia.

Sejak kecil beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama, mempunyai kesempatan untuk mereguk sepuas-puasnya taman bacaan berupa kitab-kitab yang bermanfaat. Beliau infakkan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar, menggali ilmu terutama kitabullah dan sunah Rasul-Nya shallallahu` alaihi wa sallam.

Lebih dari semua itu, beliau adalah orang yang keras pendiriannya dan teguh berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan Allah, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beliau pernah berkata: Jika dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.

Begitulah seterusnya Ibnu Taimiyah, selalu sungguh-sungguh dan tiada putus-putusnya mencari ilmu, sekalipun beliau sudah menjadi tokoh fuqaha` dan ilmu serta dinnya telah mencapai tataran tertinggi.

PUJIAN ULAMA

Al-Allamah As-Syaikh Al-Karamy Al-Hambali dalam Kitabnya Al-Kawakib AD-Darary yang disusun kasus mengenai manaqib (pujian terhadap jasa-jasa) Ibnu Taimiyah, berkata: Banyak sekali imam-imam Islam yang memberikan pujian kepada (Ibnu Taimiyah) ini. Diantaranya: Al-Hafizh Al-Mizzy, Ibnu Daqiq Al-Ied, Abu Hayyan An-Nahwy, Al-Hafizh Ibnu Sayyid An-Nas, Al-Hafizh Az-Zamlakany, Al-Hafidh Adz-Dzahabi dan para imam ulama lain.

Al-Hafizh Al-Mizzy mengatakan: Aku belum pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah.. dan belum pernah kulihat ada orang yang lebih berilmu terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam serta lebih ittiba` dibandingkan beliau.

Al-Qadhi Abu Al-Fath bin Daqiq Al-Ied mengatakan: Setelah aku berkumpul dengannya, kulihat beliau adalah seseorang yang semua ilmu ada di depan matanya, kapan saja beliau menginginkannya, beliau tinggal mengambilnya, terserah beliau. Dan aku pernah berkata kepadanya: Aku tidak pernah menyangka akan tercipta manasia seperti anda.

Al-Qadli Ibnu Al-Hariry mengatakan: Kalau Ibnu Taimiyah bukah Syaikhul Islam, lalu siapa dia ini ?

Syaikh Ahli nahwu, Abu Hayyan An-Nahwi, setelah beliau berkumpul dengan Ibnu Taimiyah berkata: Belum pernah sepasang mataku melihat orang seperti dia ….. Kemudian melalui bait-bait syairnya, beliau banyak memberikan pujian kepadanya.

Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama zamannya. Al-`Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat th. 727 H) pernah berkata: Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi ilmu itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya. Para Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti mereka akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan hujahnya. Beliau tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu syariat atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu pasti terhenyak. Beliau mempunyai goresan tinta indah,
ungkapan-ungkapan, susunan, pembagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan buku-buku.

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata: Dia adalah lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap Al-Kitab was-Sunnah serta perbedaan pendapat, dan lautan dalil naqli. Pada zamannya, beliau adalah satu-satunya baik dalam hal ilmu, zuhud, keberanian, kemurahan, amar ma`ruf, nahi mungkar, dan banyaknya buku-buku yang disusun dan amat menguasai hadits dan fiqh.

Pada umurnya yang ke tujuh belas beliau sudah siap mengajar dan berfatwa, amat menonjol dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain, baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, detailnya dan ketelitiannya. Pada sisi lain Adz-Dzahabi mengatakan: Dia mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Ta`dil, Thabaqah-Thabaqah sanad, pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, hafal matan-matan hadits yang menyendiri padanya .. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa menyamai atau mendekati tingkatannya .. Adz-Dzahabi berkata lagi, bahwa: Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukanlah hadist.

Demikian antara lain beberapa pujian ulama terhadap beliau.

DA`I, MUJAHID, PEMBASMI BID`AH DAN PEMUSNAH MUSUH

Sejarah telah mencatat bahwa bukan saja Ibnu Taimiyah sebagai da`i yang tabah, liat, wara`, zuhud dan ahli ibadah, tetapi beliau juga seorang pemberani yang ahli berkuda. Beliau adalah pembela tiap jengkal tanah umat Islam dari kedzaliman musuh dengan pedannya, seperti halnya beliau adalah pembela aqidah umat dengan lidah dan penanya.

Dengan berani Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat Islam untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang Syam dan sekitarnya. Beliau sendiri bergabung dengan mereka dalam kancah pertempuran. Sampai ada salah seorang amir yang mempunyai diin yang baik dan benar, memberikan kesaksiannya: tiba-tiba (ditengah kancah pertempuran) terlihat dia bersama saudaranya berteriak keras memberikan komando untuk menyerbu dan memberikan peringatan keras supaya tidak lari. Akhirnya dengan izin Allah Ta`ala, pasukan Tartar berhasil dihancurkan, maka selamatlah negeri Syam, Palestina, Mesir dan Hijaz.

Tetapi karena ketegaran, keberanian dan kelantangan beliau dalam mengajak kepada al-haq, akhirnya justru membakar kedengkian serta kebencian para penguasa, para ulama dan orang-orang yang tidak senang kepada beliau. Kaum munafiqun dan kaum lacut kemudian meniupkan racun-racun fitnah hingga karenanya beliau harus mengalami berbagai tekanan di pejara, dibuang, diasingkan dan disiksa.

KEHIDUPAN PENJARA

Hembusan-hembusan fitnah yang ditiupkan kaum munafiqin serta antek-anteknya yang mengakibatkan beliau mengalami tekanan berat dalam berbagai penjara, justru dihadapi dengan tabah, tenang dan gembira. Terakhir beliau harus masuk ke penjara Qal`ah di Dimasyq. Dan beliau berkata: Sesungguhnya aku menunggu saat seperti ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan besar.

Dalam syairnya yang terkenal beliau juga berkata:

Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!!

Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku

Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku

dan tiada pernah tinggalkan aku.

Aku, terpenjaraku adalah khalwat

Kematianku adalah mati syahid

Terusirku dari negeriku adalah rekreasi.

Beliau pernah berkata dalam penjara:

Orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya, orang yang tertawan ialah orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya.

Ternyata penjara baginya tidak menghalangi kejernihan fitrah islahiyah-nya, tidak menghalanginya untuk berdakwah dan menulis buku-buku tentang aqidah, tafsir dan kitab-kitab bantahan terhadap ahli-ahli bid`ah.

Pengagum-pengagum beliau diluar penjara semakin banyak. Sementara di dalam penjara, banyak penghuninya yang menjadi murid beliau, diajarkannya oleh beliau agar mereka iltizam kepada syari`at Allah, selalu beristighfar, tasbih, berdoa dan melakukan amalan-amalan shahih. Sehingga suasana penjara menjadi ramai dengan suasana beribadah kepada Allah. Bahkan dikisahkan banyak penghuni penjara yang sudah mendapat hak bebas, ingin tetap tinggal di penjara bersamanya. Akhirnya penjara menjadi penuh dengan orang-orang yang mengaji.

Tetapi kenyataan ini menjadikan musuh-musuh beliau dari kalangan munafiqin serta ahlul bid`ah semakin dengki dan marah. Maka mereka terus berupaya agar penguasa memindahkan beliau dari satu penjara ke penjara yang lain. Tetapi inipun menjadikan beliau semakin terkenal. Pada akhirnya mereka menuntut kepada pemerintah agar beliau dibunuh, tetapi pemerintah tidak mendengar tuntutan mereka. Pemerintah hanya mengeluarkan surat keputusan untuk merampas semua peralatan tulis, tinta dan kertas-kertas dari tangan Ibnu Taimiyah.

Namun beliau tetap berusaha menulis di tempat-tempat yang memungkinkan dengan arang. Beliau tulis surat-surat dan buku-buku dengan arang kepada sahabat dan murid-muridnya. Semua itu menunjukkan betapa hebatnya tantangan yang dihadapi, sampai kebebasan berfikir dan menulis pun dibatasi. Ini sekaligus menunjukkan betapa sabar dan tabahnya beliau. Semoga Allah merahmati, meridhai dan memasukkan Ibnu Taimiyah dan kita sekalian ke dalam surganya.

WAFATNYA

Beliau wafatnya di dalam penjara Qal`ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang muridnya yang menonjol, Al-`Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah.

Beliau berada di penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit dua puluh hari lebih. Selama dalam penjara beliau selalu beribadah, berdzikir, tahajjud dan membaca Al-Qur`an. Dikisahkan, dalam tiap harinya ia baca tiga juz. Selama itu pula beliau sempat menghatamkan Al-Qur`an delapan puluh atau delapan puluh satu kali.

Perlu dicatat bahwa selama beliau dalam penjara, tidak pernah mau menerima pemberian apa pun dari penguasa.

Jenazah beliau dishalatkan di masjid Jami`Bani Umayah sesudah shalat Zhuhur. Semua penduduk Dimasyq (yang mampu) hadir untuk menshalatkan jenazahnya, termasuk para Umara`, Ulama, tentara dan sebagainya, hingga kota Dimasyq menjadi libur total hari itu. Bahkan semua penduduk Dimasyq (Damaskus) tua, muda, laki, perempuan, anak-anak keluar untuk menghormati kepergian beliau.

Seorang saksi mata pernah berkata: Menurut yang aku ketahui tidak ada seorang pun yang ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya. Ketiga orang ini pergi menyembunyikan diri karena takut dikeroyok masa. Bahkan menurut ahli sejarah, belum pernah terjadi jenazah yang dishalatkan serta dihormati oleh orang sebanyak itu melainkan Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad bin Hambal.

Beliau wafat pada tanggal 20 Dzul Hijjah th. 728 H, dan dikuburkan pada waktu Ashar di samping kuburan saudaranya Syaikh Jamal Al-Islam Syarafuddin. Semoga Allah merahmati Ibnu Taimiyah, tokoh Salaf, da`i, mujahidd, pembasmi bid`ah dan pemusnah musuh. Wallahu a`lam. []

Dinukil dari buku: Ibnu Taimiyah, Bathal Al-Islah Ad-Diny. Mahmud Mahdi Al-Istambuli, cet II 1397 H/1977 M. Maktabah Dar-Al-Ma`rifah Dimasyq. hal. Depan.

Ditulis dalam Tokoh | Leave a Comment »